Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Bukan Banyak Bicara, Ini Cara Tepat Redakan Tantrum Anak

Bukan Banyak Bicara, Ini Cara Tepat Redakan Tantrum Anak
Magnific/prostooleh
  • Saat tantrum memuncak, otak anak dibanjiri stres sehingga kata-kata dapat terasa membebani dan memperpanjang amukan, bukan menenangkan.

  • Orangtua disarankan menunggu intensitas tangisan menurun sebelum mendekat, karena anak belum mampu berpikir, bernegosiasi, atau mengendalikan diri saat emosi berkuasa.

  • Kehadiran fisik yang tenang seperti duduk dekat anak, mengusap punggung, atau memeluk bila diizinkan lebih efektif, barulah ajak bicara dan validasi perasaan setelah tantrum usai.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saat anak berguling-guling di lantai sambil menjerit, naluri Mama pasti langsung menenangkan dengan kata-kata. Bahkan, tak jarang justru Mama ikut terbawa emosi karena tantrum anak yang tak kunjung reda.

Tapi tahukah Mama, justru bicara bisa membuat tantrum semakin panjang dan sulit reda, lho!

Dalam unggahannya, Dr. Cathryn, seorang dokter spesialis anak dalam akun @healthies baby menjelaskan bahwa otak anak sedang "offline" saat emosi memuncak.

Kata-kata yang kita ucapkan untuk berusaha menenangkan mereka justru akan terasa seperti kebisingan yang memperparah amukan, bukan menenangkan, Ma.

Nah, untuk mengetahui alasan di balik itu dan bagaimana tepat menenangkan anak saat tantrum, berikut Popmama.com rangkumkan informasinya.

  1. 1. Kata-kata bisa terasa membebani anak

    anak ngambek
    Magnific/krakenimages.com

    Saat anak sedang dilanda amukan, otaknya sedang kebanjiran hormon stres, Ma. Nah, jadilah kata-kata yang masuk justru terasa seperti tambahan beban yang harus mereka proses.

    Padahal, pada saat itu otak anak sedang tidak dalam kondisi menerima informasi baru. Mereka hanya butuh kehadiran Mama, bukan penjelasan panjang lebar.

    Jadinya, kalau kita banyak omong saat anak tantrum, ini akan semakin membuat anak kewalahan menghadapinya. Itulah mengapa bicara justru memperpanjang durasi tantrum, bukan memendekkannya.

  2. 2. Tunggu hingga tantrum mulai mereda sebelum bertindak

    anak mengantuk
    Magnefic/pvproductions

    Setiap orangtua pasti tanpa sadar sering tergoda untuk segera turun tangan saat anak mulai berteriak atau menangis histeris.

    Tapi tunggu dulu, Ma. Daripada buru-buru meredakan emosi anak dengan uca[an panjang lebar, Mama bisa biarkan anak melewati puncak emosinya tanpa intervensi terlebih dahulu.

    Tanda amukan mulai fizzling out adalah saat tangisan mulai menurun intensitasnya. Nah, kalau sudah tanda seperti ini barulah Mama bisa mendekat dan memberikan ketenangan.

    Jangan terburu-buru, karena ikut campur terlalu cepat justru bisa memperlama proses anak tantrum, Ma.

  3. 3. Otak depan anak sedang offline, emosilah yang sedang berkuasa

    anak tantrum
    Magnific/pvproductions

    Saat tantrum, bagian otak depan atau pre-frontal cortex, yang bertanggung jawab atas logika dan pengendalian diri sedang tidak aktif.

    Yang berkuasa penuh ketika tantrum adalah sistem limbik, yaitu pusat emosi di otak anak. Inilah yang membuat anak tidak bisa diajak berpikir, bernegosiasi, atau mendengarkan alasan apapun yang kita berikan.

    Mama tidak mungkin meminta anak yang sedang panik untuk berpikir jernih, karena mmereka benar-benar tidak bisa mengendalikan diri ketika mode tantrum menyala.

    Jadi, tunggu sampai otak depannya kembali menyala setelah badai tantrum reda, Ma.

  4. 4. Lakukan ini untuk meredakan tantrum anak

    happy mama with kiddo
    Magnific/tirachardz

    Sejumlah penelitian membuktikan bahwa kata-kata tidak efektif untuk memendekkan durasi tantrum. Yang justru bekerja adalah ketenangan dan kehadiran fisik Mama.

    Alih-alih langsung banyak berkata atau bahkan memarahi anak, Mama bisa duduk di dekatnya, mengusap punggung, atau memberikan pelukan jika anak mengizinkan.

    Kontak mata yang lembut tanpa bentakan dan amarah, justru akan lebih mudah diproses oleh otak anak. Jadi, biarkan anak melewati emosinya tanpa tambahan rangsangan verbal.

    Setelah tantrum benar-benar usai, barulah Mama bisa berbicara dan memvalidasi perasaannya.

    Jadi, diam saat tantrum bukan berarti mengabaikan anak ya, Ma, ini adalah cara ilmiah yang penuh kasih untuk membantu anak menenangkan diri.

    Meski menghadapi anak tantrum rasanya bikin kita ikut emosi, pastikan Mama juga tetap tenang agar emosi anak bisa cepat merada juga, Ma.

    Percayalah, kehadiran Mama yang tenang jauh lebih berarti daripada ribuan kata-kata yang sulit anak proses. Semangat selalu mendampingi si Kecil ya, Ma.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More