Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenali 24 Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia 3 Tahun Menurut Pakar
Pexels/Polesie Toys
  • Usia 3 tahun ditandai dorongan mandiri, transisi potty training, perilaku meniru, aktif bergerak, serta motorik kasar yang makin lincah sebagai bagian perkembangan saraf dan fisik.
  • Kemampuan kognitif, bahasa, dan sosial berkembang melalui permainan imajinatif, pemecahan masalah sederhana, pemahaman lawan kata, kalimat lebih panjang, interaksi teman sebaya, serta empati.
  • Anak masih belajar mengelola emosi; tantrum, penolakan, pilih-pilih makanan, protektif pada barang, ketakutan imajiner, mimpi buruk, dan teman imajiner dapat muncul secara wajar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mama, memasuki usia 3 tahun, perkembangan anak kerap membuat orangtua takjub sekaligus menguji kesabaran, ya. Di fase balita ini, si Kecil mengalami perkembangan pesat pada fisik, emosi, hingga kemampuan berbahasanya ya.

Untuk memahami dinamika tersebut dengan lebih tenang, melalui konten edukasi Dr. Cathryn lewat akun Instagram miliknya, @healthiest_baby mulai membagikan pengalamannya mengenai tumbuh kembang anak nih, Ma.

Dr. Cathryn sendiri sebagai seorang dokter anak (pediatrician) dengan pengalaman lebih dari 40 tahun di dunia tumbuh kembang anak, beliau aktif membagikan panduan praktis mengenai perilaku balita hingga latihan toilet, lho.

Mengutip poin-poin dari konten edukasi Dr. Cathryn, perubahan perilaku anak usia 3 tahun sebenarnya terjadi karena sistem saraf dan otaknya sedang berkembang pesat, lho, Ma. Memahami hal ini sangat penting agar Mama tidak salah paham saat menghadapi perilaku si Kecil sehari-hari. Berikut sudah Popmama.com rangkum informasinya untuk Mama.

1. ​Memiliki dorongan kuat untuk mandiri

Pexels/Jep Gambardella

Di usia 3 tahun, anak mulai menunjukkan dorongan besar untuk melakukan berbagai hal sendiri, ya, Ma.

Si Kecil biasanya akan berinisiatif memakai pakaian hingga makan sendiri tanpa bantuan orangtua. Berdasarkan panduan dari CDC, fase ini merupakan sinyal positif terbentuknya keterampilan motorik serta rasa percaya diri pada balita. Meski prosesnya membutuhkan waktu lebih lama dan terkadang berantakan, Mama bisa tetap bersabar ya untuk memberi ruang bagi anak untuk mencoba.

Menghargai usahanya di tahap ini sangat penting untuk melatih otonomi dan kemandirian si Kecil sejak dini, lho.

2 .Berada dalam transisi latihan toilet (potty training)

Pexels/Samir

Mama, kesiapan setiap anak untuk lepas dari popok sangat bervariasi. Secara medis, kontrol kandung kemih dan pencernaan pada siang hari umumnya baru mulai matang saat anak memasuki usia 3 tahun. Oleh karena itu, melalui konten edukasinya Dr. Cathryn menekankan bahwa sangat wajar jika ada anak yang sudah berhasil lulus potty training, sementara yang lain masih dalam proses belajar.

Mama tidak perlu merasa panik atau membandingkan pencapaian si Kecil dengan anak seusianya. Berikan dukungan tanpa tekanan agar proses belajar buang air di toilet berjalan menyenangkan bagi anak.

3. Gemar meniru kebiasaan orang dewasa

Pexels/Keira Burton

Anak usia 3 tahun adalah pengamat yang sangat ulung, lho, Ma.

Si Kecil akan mengamati dengan cermat lalu meniru ucapan, nada suara, ekspresi, hingga kebiasaan sehari-hari yang dilakukan orangtuanya di rumah.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), aksi meniru ini merupakan mekanisme alami anak dalam mempelajari nilai-nilai sosial dan respons emosional. Oleh sebab itu, momen ini menjadi pengingat penting bagi Mama dan Papa untuk selalu menampilkan contoh sikap, tutur kata, dan perilaku yang positif di depan balita dalam keseharian.

4. ​Menggunakan imajinasi untuk mengolah perasaan

Pexels/Tima Miroshnichenko

Dunia fantasi memiliki peran psikologis yang sangat besar bagi tumbuh kembang balita, lho, Ma.

Aktivitas bermain pura-pura (roleplay) atau imajinatif berfungsi sebagai sarana aman bagi si Kecil untuk meluapkan berbagai rasa cemas, takut, maupun amarah tanpa merasa tertekan secara emosional. Melalui imajinasi, anak belajar memproses dan mengurai emosi-emosi rumit yang belum sanggup mereka sampaikan melalui kata-kata.

Mendampingi si Kecil saat bermain peran dapat membantu orangtua memahami suasana hati serta pikiran yang sedang dirasakan oleh anak.

5. Kemampuan logika dasar mulai terasah

Pexels/Polesie Toys

Keterampilan memecahkan masalah (problem solving) si Kecil mulai terlihat aktif di usia ini, Ma.

Anak usia 3 tahun biasanya mulai mencoba menyelesaikan tantangan sederhana, seperti menyusun potongan puzzle, mencocokkan bentuk mainan, atau mencari jalan keluar saat bermain. Melansir dari CDC, kemampuan berpikir intuitif ini berkembang seiring dengan pesatnya eksplorasi anak terhadap benda-benda di sekitarnya.

Mama bisa memfasilitasi permainan yang menstimulasi logika anak serta memberikan dorongan semangat tanpa terburu-buru mengambil alih permainan saat ia mengalami kesulitan.

6. ​Benih empati mulai tumbuh

Pexels/Brett Sayles

Mama, kecerdasan emosional si Kecil mengalami lompatan positif di usia 3 tahun, lho.

Di usia ini anak mulai mampu menyadari dan merespons kondisi emosi orang-orang di sekitarnya. Melansir dari CDC, anak usia ini sudah bisa menunjukkan kepedulian spontan, seperti merasa sedih saat melihat temannya menangis atau mencoba menghibur Mama yang tampak lelah.

Tumbuhnya benih empati ini menandakan kepekaan sosial anak sedang berkembang pesat. Mama bisa terus memupuknya dengan sering mengajak anak berdiskusi tentang ragam perasaan secara terbuka.

7. Bergerak aktif dan sulit diminta diam

Pexels/Caleb Oquendo

Meminta anak usia 3 tahun untuk duduk tenang dalam waktu lama adalah tantangan besar bagi orangtua, ya nggak Ma?

Dalam konten edukasinya, Dr. Cathryn menuliskan bahwa balita memang memiliki dorongan alami untuk terus bergerak dan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya, Ma.

Menurut penjelasan dari AAP, aktivitas fisik yang tinggi ini sangat krusial untuk melatih kekuatan otot, koordinasi tubuh, serta keseimbangan anak.

Jadi alih-alih melarangnya bergerak, memfasilitasi ruang main yang aman adalah cara terbaik untuk menyalurkan energi berlimpahnya.

8. Menyukai permainan berpura-pura

Pexels/Amina Filkins

Dunia anak usia 3 tahun penuh dengan daya cipta yang menakjubkan. Si Kecil sangat gemar melakukan permainan imajinatif (imaginative play), seperti berakting menjadi dokter, memasak makanan khayalan, atau menjadi pahlawan super.

Para pakar pediatri menekankan bahwa permainan peran ini bukan sekadar hiburan. Aktivitas kreatif ini terbukti efektif memperkaya kosa kata baru, mengasah daya pikir abstrak, serta melatih daya fokus balita dalam merangkai alur cerita sederhana saat bermain.

9. Alur bermain peran semakin kompleks

Pexels/Pixabay

Di usia 3 tahun, alur permainan pura-pura si Kecil mulai terstruktur dan memiliki jalan cerita yang lebih rumit. Melansir dari CDC, balita kini mulai mampu melibatkan beberapa boneka sekaligus atau mengajak teman sebaya untuk berbagi peran.

Transisi ini memperlihatkan bahwa kemampuan berpikir simbolis serta keterampilan koordinasi sosial anak sedang berada pada tahap yang sangat pesat.

10. ​Memahami pasangan lawan kata

Pexels/Lukas Kaufmann

Kemampuan kognitif dan persepsi bahasa anak makin terorganisasi dengan baik, pada usia ini, lho, Ma.

Si Kecil mulai lancar memahami konsep pasangan kata yang berlawanan. Menurut CDC, anak usia 3 tahun umumnya sudah bisa membedakan mana benda yang berukuran besar dan kecil, posisi atas dan bawah, serta tinggi dan pendek.

Pemahaman terhadap konsep dasar ini menjadi fondasi akademik yang sangat penting bagi kesiapan belajar si Kecil di jenjang prasekolah nanti, ya, Ma.

11. Belum mahir mengungkapkan emosi secara lisan

Pexels/https://kaboompics.com/

Meski kosa kata si Kecil makin kaya, mengungkapkan perasaan rumit seperti rasa kecewa apalagi cemas tetap menjadi tantangan besar baginya lho, Ma.

Keterbatasan dalam mengomunikasikan emosi inilah yang kerap menjadi pemicu utama timbulnya kekesalan mendadak pada balita. Untuk itu Mama bisa membantu anak mengenali nama-nama emosi yang sedang dirasakannya. Dengan begitu, anak perlahan belajar mengekspresikan perasaannya lewat kata-kata dibanding tangisan.

12. Sensitif terhadap suasana hati

Pexels/Charles Parker

Ternyata kepekaan sosial anak 3 tahun tidak hanya terbatas pada lingkungan rumah. Anak di usia ini sangat peka terhadap dinamika emosi teman sebayanya.

Menurut CDC, si Kecil bisa ikut menunjukkan mimik khawatir atau berniat menolong saat melihat rekannya kesulitan. Rasa peka ini menandakan ikatan sosial serta kecerdasan antarpribadi anak sedang tumbuh menuju arah yang sangat positif.

13. Intensitas tantrum mengalami peningkatan

Pexels/Helena Lopes

Puncak gejolak emosi anak kerap terjadi di usia 3 tahun, ya, Ma?

Ledakan amarah atau tantrum bisa terjadi lebih sering karena bagian otak anak yang mengatur kendali diri belum sepenuhnya matang. Melansir dari MedlinePlus, respons ini tergolong normal dalam proses tumbuh kembang.

Menghadapi kondisi ini, kunci utamanya adalah ketenangan orang tua. Hindari merespons emosi anak dengan kemarahan agar si Kecil belajar meredakan emosinya secara sehat.

14. ​Berbicara memakai kalimat lebih panjang

Pexels/Rudra Maity

Mama, struktur bahasa anak melompat cukup jauh saat memasuki usia ini. Si Kecil sudah mulai mampu merangkai kalimat utuh yang terdiri dari empat hingga lima kata untuk menyampaikan keinginannya, lho.

Menurut CDC mencatat bahwa anak 3 tahun umumnya sudah lancar diajak melakukan percakapan dua arah secara sederhana. Untuk, itu Mama bisa terus menstimulasi kemampuannya dengan rajin mengajukan pertanyaan terbuka saat beraktivitas bersama.

15. Fase memilih-milih makanan

Pexels/Pavel Danilyuk

Mama tidak perlu berkecil hati jika pola makan anak mendadak berubah menjadi pilih-pilih. Kebiasaan picky eating sangat umum dimulai pada usia 3 tahun, karena anak sedang melatih otonomi atas dirinya sendiri.

Menurut saran AAP, memaksakan makanan hanya akan memicu stres saat jam makan. Tetaplah menyajikan menu bergizi secara bervariasi dan biarkan si Kecil menentukan jumlah makanan yang ingin ia lahap.

16. Bermain secara interaktif bersama teman

Pexels/cottonbro studio

Mama, pola sosialisasi balita mulai menunjukkan perubahan. Memasuki usia 3 tahun, anak mulai benar-benar bermain bersama teman sebaya.

Melansir dari CDC, momen interaktif ini menjadi sarana penting bagi si Kecil untuk belajar berbagi mainan, menunggu giliran, dan bekerja sama. Berkembangnya pengalaman ini semakin melatih fondasi interaksi sosial anak dengan lingkungan luar secara lebih matang, ya.

17. Mengekspresikan kasih sayang secara spontan

Pexels/Anna Shvets

Kehangatan emosional si Kecil makin sering terlihat dalam kesehariannya, lho, Ma. Anak usia 3 tahun suka menunjukkan rasa sayang secara mendadak, seperti memeluk atau mencium orangtua tanpa diminta, bener nggak nih Ma?

Ternyata menurut penjelasan dari CDC menyebutkan bahwa ekspresi kasih sayang ini menandakan si Kecil memiliki ikatan emosional yang kuat dan aman lho, dan ini sangat baik bagi kesehatan psikologisnya Ma. Oleh karena itu, pastikan Mama selalu menyambut dan membalas pelukan hangat si Kecil agar ia merasa makin dicintai dan dihargai, ya.

18. Mulai merasa takut pada kegelapan

Pexels/Harold Antonio

Mama, ternyata perkembangan imajinasi yang pesat membawa efek samping berupa munculnya rasa takut baru.

Anak usia 3 tahun sering kali mulai merasa cemas atau takut berada di ruangan gelap. Apakah anak mama mengalaminya juga?

Berdasarkan tinjauan psikologi perkembangan anak dari AAP, anak-anak usia 3 hingga 12 tahun berada pada fase puncak perkembangan imajinasi. Pikiran anak sangat peka terhadap ketakutan akan monster atau kegelapan.

Di ruang yang remang-remang, otak anak belum mampu memproses bentuk objek dengan sempurna. Akibatnya, bayangan sederhana dari gantungan baju, boneka, atau tirai jendela diinterpretasikan oleh daya pikir mereka sebagai sosok yang menakutkan.

19. Bayangan imajiner terasa sangat nyata

Pexels/Pragyan Bezbaruah

Selain takut gelap, bentuk fantasi lain juga bisa memicu rasa cemas pada balita, Ma.

Hal-hal imajiner seperti sosok monster atau bayangan aneh kerap dianggap nyata oleh anak usia 3 tahun.

Kondisi ini wajar Ma, karena si Kecil belum mampu memisahkan batas antara khayalan dan realitas secara sempurna. Saat anak ketakutan, Mama bisa bantu menenangkannya dengan memvalidasi perasaannya, mengecek area ruangan bersama, dan meyakinkannya bahwa ia selalu aman di dekat Mama.

20. Kualitas tidur terganggu mimpi buruk

Pexels/Pavel Danilyuk

Imbas dari pesatnya imajinasi dan pengalaman emosional seharian bisa terbawa hingga ke alam tidur si Kecil, lho, Ma. Frekuensi mimpi buruk (nightmares) pada balita memang cenderung meningkat saat memasuki usia 3 tahun.

Melansir dari AAP dan MedlinePlus, saat si Kecil terbangun karena bermimpi buruk, Mama bisa mengajaknya bercerita tentang apa yang terjadi di dalam mimpinya. Kemudian ajak anak secara lembut untuk meyakini bahwa mimpi itu tidak nyata dan ia akan selalu aman berada di dekat Mama.

21. Memiliki teman imajiner

Pexels/https://kaboompics.com/

Jangan kaget ya, Ma, jika melihat si Kecil sering asyik berbicara sendiri dengan sosok yang tidak terlihat.

Dr. Cathryn dalam konten edukasinya menjelaskan bahwa sekitar 37 persen anak usia 3 tahun memiliki teman imajiner, lho, Ma.

Melansir dari AAP, fenomena teman khayalan ini sangat normal dan sehat. Hadirnya teman imajiner justru membantu anak melatih keterampilan bahasa, mengasah empati, serta menjadi sarana aman bagi si Kecil untuk mengekspresikan perasaannya.

22. Menunjukkan perilaku melawan

Pexels/Andrea Piacquadio

Mama pernahkah alami sikap penolakan dari anak mama di rumah?

Sikap menolak arahan (pushback) memang sering menguji kesabaran. Namun, perlawanan ini ternyata adalah respons alami sistem saraf anak yang sedang berkembang, lho.

Menurut CDC, sikap membangkang ini merupakan bagian dari proses balita dalam membangun otonomi serta identitas dirinya. Jadi, jika anak sudah mulai melakukan penolakan, Mama cukup menetapkan batasan dengan tenang dan konsisten tanpa perlu meresponsnya dengan amarah ya.

23. Bersikap protektif terhadap barang milik sendiri

Pexels/Polesie Toys

Anak usia 3 tahun mulai memahami konsep kepemilikan barang dengan sangat kuat, lho, Ma.

Si Kecil biasanya akan bertindak tegas mempertahankan mainan atau benda miliknya agar tidak disentuh orang lain. Misalnya saat bermain bersama teman sebayanya, anak bisa sampai menangis kalau barangnya disentuh.

Berdasarkan penjelasan AAP, sikap enggan berbagi ini tergolong alami karena anak baru belajar memahami batas hak milik sebelum ia mengerti konsep berbagi secara sukarela. Oleh karena itu, Mama bisa membimbingnya secara perlahan mengenai batas hal miliknya tanpa memaksa ataupun memarahinya, ya.

24. Keterampilan motorik kasar makin lincah

Pexels/Yan Krukau

Mama, kemampuan fisik si Kecil juga mengalami peningkatan pesat di usia ini, ya.

Melansir dari Children's Hospital of Orange County (CHOC), anak usia 3 tahun umumnya sudah mampu melompat menggunakan kedua kaki secara bersamaan serta menaiki anak tangga dengan melangkahkan kaki secara bergantian.

Keterampilan fisik ini menandakan bahwa kekuatan otot, koordinasi, dan keseimbangan tubuh si Kecil tumbuh makin solid.

Itulah 24 tahap tumbuh kembang anak usia 3 tahun menurut pakar yang dapat membantu Mama dan Papa mendampingi si Kecil dengan lebih sabar dan tepat. Ingat ya, Ma, setiap anak memiliki garis waktu perkembangannya masing-masing, jadi nikmatilah setiap prosesnya dengan memberikan dorongan serta kasih sayang yang penuh.

​Bagaimana dengan si Kecil di rumah, Ma? Tahap tumbuh kembang nomor berapa saja yang sedang ia alami saat ini?

Curated For You

Editorial Team

Related Article