Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

7 Perilaku Tidak Wajar Anak 1-3 Tahun saat di Tempat Umum

7 Perilaku Tidak Wajar Anak 1-3 Tahun saat di Tempat Umum
Pexels/Polesie Toys
Intinya Sih
  • Mama dan Papa perlu jeli membedakan antara eksplorasi wajar dan perilaku tidak wajar si Kecil saat berada di tempat umum demi kenyamanan bersama.

  • Terdapat tujuh poin perilaku si Kecil yang harus diarahkan dengan kebiasaan baik agar mereka paham etika sosial dan konsep privasi sejak dini.

  • Pemberian batasan yang jelas dan pendidikan sopan santun sejak kecil akan membentuk karakter anak yang percaya diri serta mampu menempatkan diri di masyarakat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Menghadapi perilaku anak usia 1-3 tahun di ruang publik memang membutuhkan kesabaran ekstra sekaligus kejelian dalam membedakan mana perilaku yang masih dalam batas perkembangan normal dan mana yang sudah mengarah ke arah tidak wajar. 

Pada fase ini, si Kecil memang sedang gencar-gencarnya mengeksplorasi lingkungan dan menguji batasan yang ada di sekitarnya. Namun, sebagai orangtua, Mama perlu memberikan arahan yang tepat agar mereka memahami etika dasar saat berada di luar rumah tanpa mematikan rasa ingin tahu mereka.

Berikut Popmama.com rangkum 7 perbandingan perilaku anak di tempat umum beserta kebiasaan baik yang bisa Mama terapkan!

Table of Content

1. Meledaknya emosi dengan tindakan fisik yang agresif

1. Meledaknya emosi dengan tindakan fisik yang agresif

Anak tantrum di tempat umum
Pexels/Arzella BEKTAS

Adalah hal yang lumrah jika anak usia si Kecil mengalami tantrum saat keinginan mereka tidak terpenuhi, karena mereka belum mampu mengelola emosi dengan stabil. Namun, perilaku ini menjadi tidak wajar jika ledakan amarah tersebut disertai dengan tindakan membanting barang atau menyakiti diri sendiri dan orang lain secara fisik. 

Jika si Kecil mulai menunjukkan agresi setiap kali merasa kecewa, itu adalah tanda bahwa mereka membutuhkan bantuan lebih dalam mengelola rasa frustrasi. Mama perlu menanamkan cara penyaluran emosi yang lebih aman sebelum mereka kehilangan kendali total di tempat umum.

Kebiasaan yang bisa diterapkan:

  • Memberikan pelukan tenang untuk menurunkan detak jantung si Kecil saat emosinya mulai naik.

  • Membantu si Kecil menamai perasaannya seperti "Mama tahu kamu marah karena mainannya harus disimpan".

  • Mengalihkan perhatian ke benda yang aman untuk diremas atau digenggam saat rasa marah muncul.

2. Eksplorasi yang berubah menjadi tindakan destruktif

Anak memecahkan piring saat tantrum
Pexels/Feyza Dastan

Anak-anak memang secara alami suka berlarian di tempat baru karena rasa penasaran yang tinggi terhadap dunia luar, dan hal ini merupakan bagian dari perkembangan motorik mereka. Perilaku ini baru dianggap tidak wajar jika si Kecil selalu berlarian tanpa kontrol hingga menjatuhkan barang-barang di sekitarnya atau membahayakan pengunjung lain. 

Kebebasan mengeksplorasi tetap harus memiliki batasan agar si Kecil memahami konsep ruang pribadi dan keamanan publik. Mengajarkan mereka untuk tetap berada dalam jangkauan pengawasan Mama adalah langkah awal dalam melatih kedisiplinan mereka saat berada di keramaian.

Kebiasaan yang bisa diterapkan:

  • Membuat aturan "jalan santai seperti kura-kura" saat berada di dalam area toko atau mal.

  • Memberikan tugas kecil seperti memegang ujung kereta belanja agar si Kecil tetap berada di dekat Mama.

  • Memberikan pujian saat si Kecil berhasil berjalan dengan tenang tanpa berlarian di tempat umum.

3. Mengubah waktu makan menjadi ajang melempar barang

Anak menumpahkan susu
Pexels/KATRIN BOLOVTSOVA

Saat belajar makan sendiri, wajar jika si Kecil sesekali menumpahkan makanan ke lantai karena koordinasi tangan dan matanya yang masih berkembang. Namun, menjadi tidak wajar jika si Kecil dengan sengaja melemparkan sisa makanannya ke arah orang lain atau pelayan di restoran sebagai bentuk permainan. 

Melemparkan makanan bukan lagi sekadar eksperimen fisik, melainkan perilaku yang kurang menghargai orang lain dan lingkungan. Mama perlu memberikan pengertian bahwa makanan adalah untuk dinikmati, bukan untuk dijadikan senjata mainan yang mengganggu kenyamanan orang di sekitar.

Kebiasaan yang bisa diterapkan:

  • Segera menghentikan sesi makan jika si Kecil mulai menunjukkan tanda-tanda ingin melempar makanan.

  • Mengajarkan si Kecil cara menaruh piring dengan lembut jika mereka sudah merasa kenyang.

  • Membawa mainan kecil atau buku untuk menyibukkan tangan si Kecil setelah mereka selesai makan.

4. Rasa ingin tahu yang melanggar batas privasi

Anak kecil memegang bendera di tempat umum
Pexels/Rene Terp

Anak usia 1-3 tahun memang sangat gemar menyentuh dan mengutak-atik benda baru yang mereka lihat karena itu adalah cara mereka belajar. Namun, perilaku ini masuk kategori tidak wajar jika si Kecil dengan berani mengutak-atik barang milik orang asing atau barang pajangan yang rapuh tanpa meminta izin terlebih dahulu. 

Tanpa bimbingan, si Kecil tidak akan memahami konsep kepemilikan dan privasi orang lain. Mama perlu mengajarkan bahwa rasa penasaran harus dibarengi dengan etika bertanya atau meminta izin, sehingga mereka tidak dianggap tidak sopan atau merugikan orang lain saat berinteraksi di ruang publik.

Kebiasaan yang bisa diterapkan:

  • Membiasakan si Kecil untuk selalu bertanya "boleh pegang ini?" sebelum menyentuh benda asing.

  • Menjelaskan fungsi barang yang mereka lihat agar rasa penasarannya terpenuhi secara lisan.

  • Menyediakan barang serupa milik si Kecil sendiri untuk mereka eksplorasi saat sedang di perjalanan.

5. Mencari perhatian Mama melalui cara yang merusak

Anak meminta perhatian Mama
Pexels/Helena Lopes

Si Kecil memang membutuhkan validasi dan perhatian dari Mama dan Papa, dan wajar jika mereka memanggil-manggil atau menarik baju Mama saat merasa diabaikan. Menjadi tidak wajar jika cara mencari perhatian tersebut berubah menjadi destruktif, seperti menjatuhkan rak dagangan atau sengaja berteriak histeris hanya agar Mama menoleh. 

Perilaku mencari perhatian yang negatif ini biasanya muncul jika si Kecil merasa komunikasi verbal mereka tidak didengar. Mama perlu memberikan perhatian berkualitas secara berkala agar si Kecil tidak merasa perlu melakukan tindakan ekstrem demi mendapatkan sorotan dari Mama saat sedang berada di luar.

Kebiasaan yang bisa diterapkan:

  • Memberikan perhatian penuh sebelum si Kecil mulai merasa bosan atau terabaikan di tempat umum.

  • Mengajarkan cara memanggil Mama yang sopan tanpa harus berteriak atau merusak barang.

  • Melibatkan si Kecil dalam aktivitas Mama agar mereka merasa menjadi bagian dari kegiatan tersebut.

6. Berkomentar negatif secara lantang di depan publik

Perbedaan anak memakai hijab dan tidak memakai hijab
Pexels/Tantray Junaid

Mengobservasi lingkungan dan berkomentar jujur tentang apa yang mereka lihat adalah hal yang wajar dilakukan oleh si Kecil. Namun, menjadi tidak wajar jika mereka memberikan komentar, terlebih yang negatif, secara lantang tepat di depan orang yang dimaksud, misalnya mengomentari fisik atau penampilan seseorang dengan kata-kata yang kurang pantas. 

Meskipun mereka belum paham konsep "menjaga perasaan", membiarkan hal ini terjadi akan membentuk karakter yang kurang empati. Mama perlu mengarahkan si Kecil untuk menyimpan komentarnya atau membisikkannya hanya kepada Mama agar tidak menyinggung perasaan orang lain di tempat umum.

Kebiasaan yang bisa diterapkan:

  • Mengajarkan konsep "bisikan rahasia" jika si Kecil ingin menyampaikan sesuatu yang mereka lihat.

  • Menanamkan nilai empati dengan menjelaskan bahwa setiap orang memiliki keunikan masing-masing.

  • Memberikan contoh cara berbicara yang sopan dan memberikan pujian terhadap hal baik di sekitar.

7. Mengajak bermain dengan cara memaksa atau bahaya

Anak kecil bermain bersama
Pexels/Allan Mas

Wajar jika si Kecil memiliki banyak ide kreatif untuk mengajak teman baru atau orang lain bermain bersama di taman bermain. Namun, perilaku ini dianggap tidak wajar jika mereka mengajak bermain dengan cara yang membahayakan, seperti menarik tangan terlalu keras, mendorong, atau memaksa orang lain mengikuti kemauannya tanpa kompromi. 

Interaksi yang sehat harus didasari pada rasa nyaman satu sama lain, bukan paksaan. Mama perlu membimbing si Kecil untuk memahami isyarat sosial sederhana, seperti kapan seseorang bersedia diajak bermain dan kapan mereka ingin bermain sendiri, agar si Kecil tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan.

Kebiasaan yang bisa diterapkan:

  • Mencontohkan cara menyapa teman baru dengan kalimat "halo, boleh main bareng?".

  • Mengajarkan si Kecil untuk berhenti jika teman bermainnya sudah menunjukkan tanda tidak nyaman.

  • Membiasakan si Kecil untuk berbagi giliran saat menggunakan fasilitas bermain di tempat umum.

Membiasakan perilaku sopan sejak dini akan membantu si Kecil tumbuh menjadi pribadi yang mampu menempatkan diri dengan baik di masyarakat. Dengan memberikan batasan yang jelas, Mama sedang membantu mereka merasa aman dan percaya diri saat menjelajahi dunia luar.

Dari ketujuh poin di atas, perilaku mana yang paling sering membuat Mama harus memberikan perhatian ekstra saat sedang mengajak si Kecil pergi ke tempat umum?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Kid

See More