Lebih dari 64 Ribu Balita Alami ISPA karena Asap Karhutla

Kemenkes mencatat 288.540 kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla hingga 14 Oktober 2026, termasuk 64.913 balita usia 0–5 tahun; Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan mencatat kasus terbanyak.
Asap karhutla mengandung PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa beracun yang dapat memicu ISPA, memperburuk asma, serta mengganggu paru-paru dan sistem kardiovaskular, terutama pada kelompok rentan.
Kemenkes menyalurkan sekitar 5,3 juta masker, menyiapkan layanan kesehatan dan logistik, sementara Palangkaraya mencatat ISPU 1.268 serta Gunung Mas 918 dengan PM2.5 sebagai pencemar kritis.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan masih terus terjadi dan penyebaran kini disebut semakin parah. Asap dari penyebaran karhutla pun kian menyebar ke sejumlah wilayah.
Kondisi ini sejumlah wilayah dikepung asap tebal dan awan berwarna kemerahan atau jingga, yang mana membuat kualitas udara di banyak daerah masuk kategori berbahaya.
Akibat penyebaran asap yang semakin pekat, sejumlah masyarakat mulai mengalami gangguan saluran pernapasan akut atau ISPA.
Terhitung per tanggal 13 Oktober 2026 kemarin, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat sebanyak 283.270 kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla.
Lebih mirisnya, ratusan ribu kasus ISPA ini didominasi oleh balita usia 0-5 tahun dengan jumlah lebih dari 60 ribu kasus di sejumlah wilayah terdampak.
Untuk mengetahui informasi selengkapnya, berikut Popmama.com rangkumkan ulasan selengkapnya terkait kasus ISPA akibat asap karhutla yang terjadi pada balita.
1. Rincian jumlah kasus ISPA akibat karhutla

Dok. Kemenkes Berdasarkan paparan yang dibagikan Kementerian Kesehatan hingga Rabu (14/10/2026) pukul 16.00 WIB, tercatat sebanyak 64.913 balita (usia 0-5 tahun) terserang ISPA.
Total kumulatif kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla ini tercatat sudah mencapai 288.540 kasus, yang tersebar di 7 provinsi dan 63 kabupaten/kota, dengan tambahan 3.295 kasus baru yang dilaporkan pada 14 Oktober 2026 kemarin.
Ada pun penyebaran angka kasus ISPA secara umum terdapat di dua wilayah, yakni Sumatera Selatan (76.460 kasus) dan Kalimantan Selatan (75.804 kasus).
2. Bahaya paparan asap karhutla

Dok. Istimewa Lebih lanjut, Kemenkes mengungkapkan bahwa asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun.
Karbon monoksida sendiri merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat berbahaya bagi tubuh.
Saat terhirup, karbon monoksida dapat mengikat hemoglobin dalam darah dan mengurangi kemampuan darah membawa oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya, organ vital seperti jantung dan otak bisa kekurangan oksigen, terutama pada balita dan lansia.
Paparan asap ini dapat memicu ISPA dengan gejala batuk, sesak napas, pilek, dan radang tenggorokan.
Selain itu, asap dapat memperburuk asma, memicu penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta menyebabkan iritasi mata dan kulit.
Dampak paparan asap juga dapat meluas ke sistem kardiovaskular, termasuk meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke serta tekanan darah, terutama pada kelompok rentan.
3. Kemenkes salurkan 5,3 juta masker

Magnific/wirestock Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dalam paparannya menjelaskan bahwa pihaknya telah menyalurkan sekitar 5,3 juta masker pada masyarakat di daerah terdampak karhutla.
Masker yang disalurkan ini nantinya akan terus ditambah sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa penanganan-penanganan kasus infeksi ISPA ini juga akan terus dilakukan.
Kemenkes pun akan memperkuat sistem surveilans dan penguatan fasilitas kesehatan untuk melayani warga terdampak, serta edukasi terkait pencegahan masalah infeksi saluran pernapasan yang masih terus dilakukan.
Dari sisi pelayanan, Kemenkes juga menyiapkan pos kesehatan di puskesmas serta dukungan logistik seperti oksigen konsentrator, tabung oksigen, dan masker, lengkap dengan laboratorium kesehatan, layanan rujukan, dan pelayanan kesehatan bergerak.
Masyarakat juga diminta mengurangi paparan polusi dengan memantau kualitas udara, membatasi aktivitas luar ruangan saat kondisi memburuk, dan menggunakan masker.
Mama perlu segera membawa si Kecil ke fasilitas kesehatan jika gejala ISPA kian memburuk.
4. Sejumlah wilayah dengan ISPU kategori berbahaya

Bbc.com Data Stasiun Pemantauan ISPU Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) per Jumat pukul 13.56 WIB menunjukkan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, mencatat ISPU tertinggi yakni 1.268. Parameter pencemar kritis di wilayah tersebut adalah PM2.5.
Selain Palangkaraya, Kabupaten Gunung Mas juga menjadi wilayah kedua dengan ISPU berbahaya yakni 918, yang mana kedua wilayah ini masih berada di Kalimantan Tengah.
ISPU tinggi turut tercatat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan dan Palembang, Sumatera Selatan yang semuanya tercatat PM2.5 sebagai parameter pencemar kritis.
PM2.5 sendiri merupakan partikel halus yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru saat terhirup dan berdampak pada kesehatan, termasuk ISPA.
5. Bahaya ISPA pada anak

Magnific/prostooleh Dari total lebih dari 64 ribu anak yang mengalami ISPA akibat asap karhutla, hal ini tentu perlu menjadi perhatian khusus bersama.
Gejala ISPA pada anak umumnya mirip dengan orang dewasa, seperti batuk, sesak napas, pilek, dan radang tenggorokan. Namun pada balita, gejala bisa lebih berat karena saluran pernapasan mereka masih berkembang dan belum sempurna.
Dampak jangka panjang ISPA pada anak juga perlu diwaspadai, Ma, terutama jika terpapar PM2.5 secara terus-menerus.
Paparan asap yang tidak sehat dalam jangka panjang bisa berpotensi meningkatkan risiko gangguan paru-paru, penyakit kardiovaskular, serta menurunkan kualitas hidup.
Kemenkes menegaskan bahwa perlindungan diutamakan bagi kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma/PPOK, serta pekerja luar ruangan.
Setiap batuk si Kecil akibat asap karhutla adalah pengingat bahwa mereka menanggung akibat dari sesuatu yang tak mereka pahami. Lebih dari 62 ribu balita kini berjuang melawan ISPA, dan mungkin ada di antara mereka yang kondisinya serius.
Kita doakan bersama semoga kebakaran hutan dan lahan segera mereda dan kualitas udara kembali membaik, agar masyarakat bisa kembali menghirup napas lega tanpa sesak.






















