- Batuk kering atau berdahak.
- Tenggorokan terasa gatal atau perih.
- Hidung berair atau tersumbat.
- Bersin.
- Suara serak.
- Mata terasa perih atau berair.
- Mengi atau napas berbunyi.
- Sesak napas.
- Dada terasa tidak nyaman.
- Tubuh terasa lelah.
Kemenkes Catat 64.913 Balita Mengalami ISPA akibat Karhutla

- Kemenkes mencatat 288.540 kasus ISPA akibat karhutla hingga 14 Oktober 2026, termasuk 64.913 balita, yang terdampak di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota.
- Kasus terbanyak tercatat di Kalimantan Selatan sebanyak 74.636 dan Sumatra Selatan 74.458; kualitas udara di 12 kabupaten/kota terdampak masuk kategori berbahaya.
- Paparan kabut asap dapat memicu batuk, iritasi, mengi, dan sesak napas; bayi atau kelompok rentan dengan gejala memburuk perlu segera diperiksakan ke dokter.
Berita tentang kebakaran hutan dan lahan yang kian marak mengundang keprihatinan masyarakat. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah wilayah di Indonesia dilaporkan menghadapi peningkatan titik api dan kabut asap.
Kabut asap menimbulkan banyak masalah, salah satunya adalah masalah ISPA (infeksi saluran pernasapan akut). Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga Rabu (14/10/2026) pukul 16.00 WIB, tercatat sebanyak 288 ribu kasus ISPA imbas dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dan 64 ribu balita termasuk di dalamnya.
Di media sosial, orangtua dari bayi yang terdampak ISPA berusaha menyuarakan kisahnya agar bisa mendapatkan perhatian dan penanganan. Informasi terkait kasus ISPA imbas dari kebakaran hutan dan lahan di tanah air sudah Popmama.com rangkum pada ulasan berikut ini, ya, Ma.
Kemenkes Catat 288.540 Kasus ISPA Imbas Karhutla, Termasuk 64.913 Balita

ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/Saravanan Narayanan) Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia kian mengkhawatirkan. Asap imbas dari kebakaran tersebut menimbulkan gangguan kesehatan seperti ISPA.
Hingga 14 Oktober 2026, Kemenkes mencatat sebanyak 288.540 ribu kasus ISPA imbas dari kebakaran hutan dan lahan, dan 64.913 balita termasuk di dalamnya. Secara keseluruhan, karhutla telah berdampak pada 7 provinsi dan 63 kabupaten/kota di Indonesia.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes RI, Then Suyanti, menjelaskan dari keseluruhan kasus itu, sebanyak 219.559 orang berusia di atas 5 tahun. Dan 63.711 diderita oleh anak berusia di bawah 5 tahun.Then juga menambahkan jika angka paling banyak penderita ISPA itu berasal di Kalimantan Selatan sebanyak 74.636. Dan 74.458 penderita ISPA berasal dari Sumatra Selatan.
Kualitas udara di 12 kabupaten/kota terdampak karhutla ini masuk dalam kategori berbahaya. 12 kabupaten/kota itu berada di enam di Provinsi Kalimantan Tengah, satu di Kalimantan Selatan, dua di Jambi, dua di Sulsel, dan satu lagi di Riau.Bayi 10 Bulan di Palangka Raya Alami Batuk Imbas dari Asap Karhutla

Unsplash/unsplash Dalam unggahan video di laman Instagram pribadi @monicaaidenjenar, Monica, ibu di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, menceritakan kondisi bayinya yang masih berusia 10 bulan di tengah situasi karhutla. Si Kecil mengalami batuk hingga muntah setelah terpapar asap dari Karhutla secara terus-menerus.
Menurut Monica, bayinya mulai mengalami batuk sejak 3 bulan lalu saat asap mulai pekat. Namun, dalam 2 minggu terakhir, batuk yang dialami bayinya semakin parah. Si Bayi pun terus batuk sampai muntah setiap malam dan subuh.
Bukannya tanpa usaha. Monica sudah membawa bayinya ke dokter spesialis anak. Oleh dokter, bayi malang itu sudah diberi obat, pijat batuk dan pilek hingga diberi nebulizer. Setiap satu minggu sekali, Monica juga membawa bayinya ke rumah aman asap untuk mendapatkan terapi oksigen.Di tengah gempuran asap karhutla, Monica dan keluarganya juga sudah berupaya menjaga udara seaman mungkin di dalam rumahnya. Mulai dari menghidupkan AC dan pasang 2 air purifier di kamar si Kecil. Namun, katanya, tiap subuh, lampu indikator air purifier tetap merah.
Akun Instagram @tehprem juga membagikan video bayi yang mengalami muntah berdarah karena terdampak asap karhutla.
Jangan Remehkan ISPA akibat Abu atau Asap

Unsplash/Matt Palmer Dikutip dari website resmi RS Darmo, batuk setelah terpapar abu atau kabut asap tidak selalu berarti seseorang mengalami infeksi.
Partikel dan zat iritan dari abu atau kabut asap sendiri dapat menyebabkan peradangan dan iritasi pada saluran pernapasan sehingga memicu batuk, bahkan tanpa adanya infeksi. Karena itu, penyebab batuk perlu dilihat bersama gejala lainnya dan kondisi pasien. Misalnya batuk terjadi ketika si Kecil terpapar asap kebakaran hutan dan lahan.
Batuk setelah terpapar abu atau kabut asap jangan selalu dianggap sebagai batuk biasa. Paparan asap mengandung berbagai polutan, termasuk partikel halus, silika kristalin dan mineral maupun senyawa vulkanik lainnya yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan menyebabkan iritasi serta peradangan. Kondisi ini dapat memicu batuk karena abu atau asap, tenggorokan terasa gatal atau kering, mengi, hingga sesak napas.
Pada sebagian orang, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit paru atau jantung, paparan abu atau kabut asap dapat menimbulkan gejala yang lebih berat. Karena itu, penting untuk mengenali gejala ISPA dan mengetahui kapan keluhan akibat ISPA akibat asap perlu diperiksakan ke dokter, Ma.
Abu atau kabut asap dapat mengandung partikel dan berbagai polutan yang mengganggu sistem pernapasan. Partikel berukuran sangat kecil, seperti PM10 dan PM2.5, silika kristalin dan mineral maupun senyawa vulkanik lainnya dapat masuk hingga ke bagian dalam paru dan berkaitan dengan berbagai gangguan pernapasan.
Paparan abu atau kabut asap dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan dan memperburuk kondisi seperti asma atau penyakit paru yang sudah ada sebelumnya. Gejalanya dapat berupa batuk, tenggorokan teriritasi, mengi, dan kesulitan bernapas.
Apa Saja Gejala ISPA akibat Abu atau Kabut Asap?

Pexels/Laura Garcia Gejala ISPA akibat abu atau kabut asap dapat berbeda pada setiap orang, tergantung pada tingkat paparan dan kondisi kesehatan masing-masing.
Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:
Paparan abu atau kabut asap juga dapat menyebabkan sakit kepala dan iritasi pada mata maupun saluran pernapasan.
Mama harus membawa bayi ke dokter bila mengalami hal berikut ini:
- Batuk tidak kunjung membaik atau terus berulang.
- Batuk semakin berat meskipun sudah mengurangi paparan abu atau kabut asap.
- Batuk disertai sesak napas.
- Muncul mengi atau napas berbunyi.
- Dada terasa nyeri atau tertekan.
- Tubuh terasa sangat lemas atau mengalami penurunan kondisi yang signifikan.
- Memiliki asma, PPOK, penyakit jantung, atau penyakit kronis lainnya dan gejalanya memburuk.
Mama juga harus menghubungi dokter bila bayi mengalami kesulitan bernapas, sesak nafas, batuk yang tidak berhenti, atau gejala lain yang tidak kunjung membaik setelah terpapar abu atau kabut asap.
Jangan menunda mendapatkan pertolongan medis apabila muncul sesak napas berat, nyeri dada, penurunan kesadaran, atau kondisi darurat lainnya. Pada kondisi seperti ini, segera kunjungi IGD atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan.
Itu informasi tentang kasus ISPA imbas dari karhutla di tanah air. Kita doakan agar kelompok rentan yang mengalami ISPA akibat kabut asap karhutla bisa segera ditangani dengan baik, ya, Ma.






















