Menurut Dokter Anak, Ini Alasan Anak Susah Tidur Siang dan Cara Mengatasinya

Mama pasti pernah mengalami momen di mana si Kecil yang biasanya anteng, tiba-tiba jadi rewel luar biasa saat waktunya tidur siang.
Mulai dari menangis, kabur-kaburan, minta ini-itu, atau tantrum kecil-kecilan yang sepertinya sudah jadi pemandangan biasa ya, Ma.
Kalau sudah seperti ini, rasanya Mama dan anak seperti masuk ke medan perang setiap kali jam tidur tiba. Tapi, tahukah Mama? Di balik drama anak susah tidur, ada alasan psikologis yang jarang orangtua pahami.
Seorang dokter anak dalam akun Instagram-nya @healthies_baby membagikan penjelasan sederhana namun mengubah cara pandang banyak orang.
Yuk, simak selengkapnya dalam artikel Popmama.com berikut ini.
Alasan Anak Tidak Mau Tidur Siang

Dilansir dari unggahan sang dokter, ternyata perilaku menolak tidur siang pada anak bukan karena mereka membenci tidur, Ma. Bukan pula karena mereka sudah tidak butuh tidur siang lagi.
Faktanya, sebagian besar anak masih membutuhkan tidur siang hingga usia 3–5 tahun.
Alasan sederhana di balik itu semua adalah karena anak benci berpisah dengan Mama atau Papanya, sehingga menolak tidur dan mau terus main bersama.
Bagi otak anak yang masih berkembang, berpisah dengan orang terdekatnya bahkan hanya untuk 60 menit terasa sangat lama dan berat. Ini bukan pembangkangan, ini bagian dari proses tumbuh kembangnya.
Lantas, bagaimana cara mengatasinya agar anak tetap mendapatkan jam istirahat yang cukup dengan tidur siang? Berikut cara dari sang dokter yang bisa Mama coba terapkan pada si Kecil, yaitu:
1. Ciptakan versi mini rutinitas malam hari

Anak-anak itu ternyata akan merasa aman dengan rutinitas, Ma. Itulah mengapa Mama bisa membuat ritual singkat sebelum tidur siang yang mirip dengan rutinitas malam.
Misalnya membaca satu buku cerita pendek, minum susu, atau sekadar berbaring bersama 2-3 menit sambil mengelus punggungnya. Rutinitas ini memberi sinyal pada otaknya bahwa sebentar lagi waktunya istirahat.
Yang terpenting, rutinitas sederhana ini jadi jembatan koneksi sebelum Mama meninggalkan kamar agar anak tetap merasa aman dan nyaman.
2. Coba ucapkan kalimat ajaib ini

Ini mungkin terdengar sederhana, tapi efeknya luar biasa. Dalam unggahannya, dokter anak yang kerap berbagi edukasi kepada para pengikutnya itu menyebutkan bahwa saat menidurkan anak, bisikkan bahwa Mama juga akan merindukannya selama ia tidur siang.
Dengan cara ini, anak pun akan paham bahwa perasaan rindu itu dua arah. Ia tidak merasa sendirian dengan kecemasannya.
Dengan kata lain, kalimat ini bisa bantu menenangkan sistem limbik otaknya yang sedang waspada karena akan "ditinggal". Coba Mama terapkan dan buktikan sendiri perbedaannya, deh!
3. Perhatikan waktu tidur yang tepat

Waktu tidur siang yang salah bisa jadi momen drama yang bikin anak tantrum, Ma. Jika terlalu siang, anak belum cukup lelah. Jika terlalu malam, anak sudah kelelahan dan justru semakin sulit tidur.
Untuk itu, perhatikan tanda-tanda mengantuk seperti mengucek mata, mulai rewel, atau kehilangan minat bermain. Itulah waktu yang tepat untuk Mama menidurkannya.
Idealnya, tidur siang dilakukan antara pukul 12.00–14.00, tergantung jam bangun pagi anak. Setiap anak bisa berbeda, jadi amati pola unik si Kecil ya, Ma.
4. Ciptakan lingkungan kamar yang mendukung

Lingkungan juga sangat memengaruhi kualitas tidur anak, Ma. Jadi, pastikan kamar cukup gelap, suhu sejuk, dan tenang.
Untuk tidur di siang hari, Mama bisa menggunakan gorden blackout jika perlu agar suasana kamar jadi lebih tenang tanpa sinar matahari dari luar.
Hindari juga mainan yang terlalu ramai di dekat tempat tidur karena bisa mengganggu fokusnya untuk tidur.
Lingkungan yang kondusif mengirimkan sinyal pada otak bahwa ini adalah tempat yang aman untuk "shut down" sejenak. Ini membantu transisi dari bangun ke tidur jadi lebih mulus.
5. Libatkan mainan kesayangannya

Daripada terus-terusan main dengan mainan kesayangannya, coba alihkan untuk bantu membuatnya tidur yuk, Ma.
Ajak anak menidurkan boneka atau mainan favoritnya terlebih dahulu. Kegiatan sederhana ini sangat efektif mengalihkan fokus dari kecemasan menjadi permainan yang menenangkan.
"Mama, bonekanya diselimuti dulu," atau "Bonekanya mau dicium dulu sebelum tidur." Kegiatan ini jadi rutinitas sederhana yang begitu dinanti anak agar mau cepat tidur.
Dengan menidurkan boneka, anak secara tidak langsung belajar menidurkan dirinya sendiri. Plus, mainan kesayangan bisa jadi "pengganti" Mama atau Papa selama ia tidur.
6. Pajang foto keluarga di kamar anak

Tips sederhana berikutnya adalah memajang foto keluarga, terutama foto Mama dan Papa, di tempat yang mudah dilihat anak dari tempat tidurnya.
Jadi, nggak cuma memajang foto keluarga di ruang keluarga saja, Ma, tapi juga di kamar si Kecil.
Dengan begitu, saat terbangun sebentar di antara siklus tidur, melihat wajah-wajah tersayang bisa jadi pengingat yang menenangkan.
Foto-foto ini memberikan kenyamanan visual bahwa ia tidak benar-benar sendiri. Ini solusi murah meriah yang efeknya besar lho, Ma.
Ketika orangtua memahami bahwa penolakan tidur siang adalah bentuk kerinduan, bukan pembangkangan, semuanya akan terasa berbeda.
Bukan tentang siapa yang menang, tapi tentang bagaimana membangun koneksi. Dengan menerapan beberapa cara sederhana di atas, Mama dan Papa pun sudah bisa mengubah medan perang jadi momen tenang yang justru mempererat ikatan batin.
Yuk, mulai coba terapkan pada si Kecil di rumah!


















