Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Program Keluarga SIGAP, Kolaborasi Nyata untuk Lindungi Anak Indonesia

Keluarga SIGAP 5.jpg
Dok. Keluarga SIGAP
Intinya sih...
  • Program Keluarga SIGAP kolaborasi Gavi, Unilever, dan The Power of Nutrition untuk lindungi 1 juta anak dari penyakit dini.
  • Pilot program di tiga kabupaten menunjukkan peningkatan cakupan imunisasi dan kepercayaan orang tua terhadap vaksin.
  • Keluarga SIGAP memperkuat layanan kesehatan anak melalui pendekatan lintas sektor dan perubahan perilaku positif di dalam keluarga.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Upaya melindungi kesehatan anak Indonesia kini semakin kuat lewat hadirnya Program Keluarga SIGAP. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Gavi, Unilever, dan The Power of Nutrition yang bertujuan membantu lebih dari 1 juta anak terhindar dari risiko penyakit dini. 

Fokus utamanya adalah mendorong perubahan perilaku positif di dalam keluarga lewat tiga pilar utama, yaitu imunisasi rutin yang lengkap, kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS), hingga pemberian makanan bergizi dan camilan sehat sesuai usia anak.

Program Keluarga SIGAP menyasar orang tua dengan anak usia 0–24 bulan atau yang dikenal sebagai baduta (bayi di bawah dua tahun).

Berikut Popmama.com siap membahas informasi lebih lanjut mengenai program keluarga SIGAP. 

3 Pilar Utama Program Keluarga SIGAP

Keluarga SIGAP 2.jpg
Popmama.com/Sania Chandra

Sebelumnya, program ini telah diuji coba melalui pilot program pada Januari hingga Juni 2024 di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Setelah menunjukkan hasil yang menjanjikan, program kemudian diperluas ke Brebes (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), dan kembali diperkuat di Banjar (Kalimantan Selatan).

Perluasan ini menjadi bagian dari inisiatif kolaboratif yang sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat praktik kesehatan keluarga. 

Keluarga SIGAP menitikberatkan pada tiga perilaku utama yang saling berkaitan, yaitu imunisasi, kebiasaan CTPS, dan pemenuhan gizi sesuai usia anak  baduta. Ketiganya bukan hanya sekadar edukasi, tetapi diarahkan menjadi kebiasaan sehari-hari di rumah.

Kolaborasi Lintas Sektor demi Memperkuat Layanan Kesehatan Anak

Keluarga SIGAP 1.jpg
Popmama.com/Sania Chandra

Program Keluarga SIGAP dibangun melalui kemitraan lintas sektor yang melibatkan Gavi, the Vaccine Alliance; Unilever Lifebuoy; serta The Power of Nutrition.

Ketiganya bekerja berdampingan dengan pemerintah dan sistem kesehatan baik di tingkat pusat maupun daerah. 

Pendekatan ini menunjukkan bahwa perlindungan anak membutuhkan peran banyak pihak, bukan hanya sektor kesehatan semata.

Alih-alih membangun sistem baru dari nol, Keluarga SIGAP justru memperkuat platform yang sudah akrab dengan keluarga.

Program ini terintegrasi ke dalam layanan Posyandu, kunjungan rumah, satuan pendidikan anak usia dini, hingga kanal digital.

Strategi ini membuat pesan-pesan kesehatan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari dan lebih mudah diterapkan oleh orangtua.

“Di Kementerian Kesehatan, prioritas kita yaitu ke Pilar Pertama: Layanan Primer, melakukan upaya promotif dan preventif. Melalui Keluarga SIGAP, masyarakat tidak sekadar tahu soal kesehatan, tapi benar-benar mengubah perilaku mereka sehari-hari. Jika kita berhasil memperkuat layanan primer melalui Keluarga SIGAP, kita sedang menyiapkan pondasi bagi Indonesia Emas 2045,” ujar Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas, dr. Niken Wastu Palupi, saat acara ‘Diseminasi Pembelajaran Program SIGAP’ di Artotel Mangkuluhur, Kamis (15/1/2026). 

Imunisasi yang Semakin Lengkap Berkat Kepercayaan Orang Tua

Keluarga SIGAP 4.jpg
Popmama.com/Sania Chandra

Salah satu dampak paling nyata dari Program Keluarga SIGAP terlihat pada peningkatan cakupan imunisasi. Di tiga kabupaten wilayah scale-up, rata-rata cakupan imunisasi dasar anak meningkat sekitar 15%. 

Kabupaten Banjar bahkan mencatat lonjakan signifikan, dari sebelumnya hanya 37% menjadi 59%, yang berarti hampir 6 dari 10 anak kini terlindungi dibandingkan sebelumnya kurang dari 4 dari 10 anak.

Tak hanya itu, meningkatnya kepercayaan orang tua terhadap vaksin juga mendorong lebih banyak keluarga menyelesaikan jadwal imunisasi lengkap.

Hal ini tercermin dari hampir dua kali lipatnya cakupan dosis akhir pneumonia di Brebes serta booster polio di Banjar yang kini mencapai sekitar 80%.

Peningkatan kepercayaan ini berkaitan erat dengan cara pesan imunisasi disampaikan bersamaan dengan praktik pengasuhan sehari-hari lainnya.

“Keluarga SIGAP menunjukkan bagaimana agenda imunisasi nasional Indonesia dapat diperkuat melalui koordinasi lintas sektor. Dengan mengintegrasikan imunisasi ke dalam praktik pengasuhan sehari-hari seperti gizi dan kebersihan, program ini membantu membangun kepercayaan terhadap vaksin dan mendorong lebih banyak keluarga menyelesaikan imunisasi rutin, sehingga anak terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah seperti polio dan pneumonia,” ungkap Augustin Flory, Managing Director of Innovative Partnerships di Gavi, the Vaccine Alliance.

Kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun yang Semakin Mengakar di Rumah

Keluarga SIGAP 3.jpg
Popmama.com/Sania Chandra

Pembelajaran dari aspek CTPS menunjukkan bahwa perubahan perilaku akan lebih cepat terjadi ketika motivasi keluarga didukung oleh fasilitas yang memadai. Kini, hampir 7% lebih banyak rumah tangga peserta SIGAP sudah memiliki fasilitas cuci tangan dengan sabun di rumah mereka.

Hal sederhana ini ternyata berdampak besar pada konsistensi perilaku. Keberadaan fasilitas tersebut mendorong peningkatan kepatuhan pada enam momen penting CTPS, seperti sebelum memberi makan anak dan setelah membersihkan anak. 

Secara keseluruhan, tingkat kepatuhan meningkat sebesar 6,4%, sebuah angka yang menunjukkan perubahan nyata dalam rutinitas harian keluarga. Menariknya, alasan orang tua dalam menerapkan CTPS juga mulai bergeser. 

Jika sebelumnya banyak yang mencuci tangan karena alasan sosial atau penampilan, kini semakin banyak yang melakukannya karena kesadaran akan pentingnya kesehatan dan kebersihan anak. 

“SIGAP menunjukkan bagaimana perilaku perlindungan utama, yaitu imunisasi, cuci tangan pakai sabun, dan gizi, dapat menjadi kebiasaan nyata ketika keluarga bisa melihat, merasakan, dan mempraktikkannya dalam rutinitas sehari-hari. Dengan memperluas pembelajaran dari rumah dan sekolah ke platform digital serta media massa, program ini membantu mempertahankan perilaku tersebut dalam skala yang lebih luas dan menjadikan CTPS bagian dari perjalanan kesehatan anak,” ungkap Parnil Sarin, Global Brand Director Lifebuoy. 

Praktik Pemberian Makan Anak yang Lebih Baik sejak 1.000 Hari Pertama

Keluarga SIGAP 6.jpg
Dok. Keluarga SIGAP

Dari sisi nutrisi, Program Keluarga SIGAP juga menunjukkan hasil positif, terutama dalam praktik pemberian makan anak pada periode emas 1.000 hari pertama kehidupan. 

Praktik inisiasi menyusu dini tercatat meningkat sebesar 4,4%, sementara proporsi anak yang mencapai Keanekaragaman Pangan Minimum naik 6,8%. 

Angka ini mencerminkan bahwa semakin banyak keluarga yang mulai memahami pentingnya kualitas makanan dan kesesuaian gizi dengan usia anak. Keputusan orangtua dalam memilih menu sehari-hari pun menjadi lebih terarah dan berbasis pengetahuan. 

“SIGAP mencerminkan kekuatan kemitraan dalam mendukung gizi di tempat yang paling penting, yaitu di rumah, setiap hari. Dengan menggabungkan alat praktis, pembelajaran bersama bagi orang tua, dan keterlibatan tenaga kesehatan di lapangan, program ini menunjukkan bagaimana pesan berbasis bukti dan komunikasi perubahan perilaku dapat membantu keluarga mempertahankan praktik pemberian makan yang lebih sehat dan membangun ketahanan jangka panjang,” jelas Chris Skeet, CEO The Power of Nutrition.

Demikian informasi mengenai Program Keluarga SIGAP yang memberikan dampak nyata untuk melindungi anak Indonesia dari penyakit dini. Program ini membuktikan bahwa perubahan kecil di dalam keluarga dapat membawa dampak besar bagi masa depan anak.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Kid

See More

Anak Rewel dan Menolak Tidur? Ketahui Fakta Tanda Anak Kelelahan

19 Jan 2026, 13:39 WIBKid