Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Repot Sekarang atau Nanti? Ini Tips Parenting yang Perlu Diketahui!

4 min read
Repot Sekarang atau Nanti? Ini Tips Parenting yang Perlu Diketahui!
Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI
  • Anak usia sekitar dua tahun dapat menangis karena strategi untuk memenuhi keinginan atau karena emosi murni; orangtua perlu membedakan keduanya agar tidak mudah terpancing.

  • Saat tantrum di tempat umum, orangtua disarankan tetap tenang dan tidak langsung menuruti permintaan anak hanya demi meredam perhatian orang lain.

  • Pendampingan dan batasan tegas sejak dini membantu anak mengenali kekecewaan serta mengatur emosi, yang disebut menjadi fondasi mental hingga dewasa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bagi Mama yang sedang menghadapi anak di fase terrible two, tangisan dan amukan sudah menjadi makanan sehari-hari.

Belum lagi jika si Kecil melakukan itu di tempat umum, sudah pasti menjadi pemandangan yang menguras emosi. 

Tidak sedikit orangtua yang merasa gengsi atau malu ketika anak mereka tantrum di tempat umum. 

Padahal, di balik kerepotan tersebut, ada proses belajar yang sangat berharga bagi tumbuh kembang emosional si Kecil ke depannya lho, Ma.

Seorang pakar parenting, Coach Andi JG, mengungkapkan sebuah pilihan dilema yang sering dihadapi oleh Mama dan Papa. 

Pilihannya adalah apakah Mama ingin merasa repot saat anak masih kecil, atau memilih santai sekarang namun berisiko menghadapi kerepotan yang jauh lebih besar di masa depan? 

Mengajari anak mengelola emosi sejak dini memang melelahkan kok Ma, tetapi hal ini jauh lebih baik daripada mengabaikannya hingga mereka dewasa.  

Oleh karena itu, penting sekali bagi Mama untuk memahami kondisi tersebut.

Memahami tantrum si Kecil dapat dibedakan dari tangisan strategi dan tangisan emosi yang murni.

Tenang aja, Ma!

Popmama.com punya solusinya nih, yuk simak bersama mau repot sekarang atau nanti? ini tips parenting yang perlu diketahui!

  1. 1. Mengenal dua jenis tangisan anak

    Perbandingan anak menangis di tempat umum dan di rumah
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Pada usia sekitar dua tahun, anak sering kali melewati fase yang dikenal sebagai terrible two atau amazing two. 

    Di fase ini, tangisan yang dikeluarkan oleh si Kecil terbagi menjadi dua kategori utama. 

    Kategori pertama adalah tangisan strategi yang manipulatif dan terjadi saat mereka meminta sesuatu, seperti mainan. 

    Tangisan jenis ini sebenarnya tidak sepenuhnya tulus dan hanya dijadikan alat agar keinginan mereka dituruti, lho.

    Mama dan Papa harus bisa jeli membedakan antara tangisan strategi dengan tangisan karena emosi yang murni. 

    Dengan memahami pola ini, Mama dan Papa tidak akan mudah terpancing emosi saat menghadapi si Kecil yang sedang rewel, deh!

  2. 2. Jangan takut menghadapi anak yang tantrum di tempat umum

    Anak menangis di tempat umum
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Mama dan Papa pastu merasa tidak enak hati atau malu ketika si Kecil menangis kencang di tempat umum. 

    Padahal, rasa malu tersebut sebenarnya tidak perlu dipelihara, Ma!

    Terlebih jika Mama sudah memiliki keyakinan yang kuat terhadap pola asuh yang diterapkan. 

    Anak yang sedang tantrum di tempat umum sebaiknya dihadapi dengan tenang.

    Kuncinya adalah tidak langsung menuruti kemauan si Kecil demi meredam pandangan orang lain.

    Merasa malu atau tidak enak hati wajar kok Ma, karena bagian dari adaptasi tingkah laku anak.

    Seiring berjalannya waktu, Mama akan menjadi lebih kebal dan percaya diri dalam menerapkan batasan yang tegas, deh.

  3. 3. Pentingnya mengajarkan regulasi emosi sejak dini

    Anak menangis
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Mendampingi si Kecil saat ia tantrum sebenarnya merupakan sarana terbaik untuk anak belajar mengenali dan meregulasi perasaannya. 

    Ketika anak menangis karena tidak dibelikan mainan padahal ia sudah memilikinya, Mama dan Papa harus konsisten menolak permintaannya dengan alasan yang logis. 

    Melalui momen penolakan yang tegas ini, anak akan perlahan-lahan menyadari arti dari rasa kecewa. 

    Mereka akan mulai belajar mengenali kalimat di dalam hatinya seperti, "Oh, aku sedang kecewa".

    Pembelajaran emosional seperti inilah yang akan menjadi fondasi mental yang kuat bagi si Kecil hingga ia beranjak dewasa, Ma.

  4. 4. Dampak jangka panjang jika anak tidak diajarkan regulasi emosi

    Anak remaja marah kepada orangtuanya
    Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

    Ma, pernah bayangin gak sih jika si Kecil tidak diajarkan untuk regulasi emosinya sejak dini?

    Bayangkan apa yang akan terjadi kedepannya.

    Jika Mama atau Papa tidak mengajarkan anak untuk regulasi emosinya, maka hal ini akan berdampak ke masa depan mereka, lho.

    Akibatnya, si Kecil akan tumbuh dengan sifat tidak mau mengerti situasi.

    Bahkan, akan berdampak pada tindakan buruk yang bisa membahayakan.

    Oleh karena itu Ma, yuk ajarkan si Kecil untuk mengendalikan emosinya sejak dini!

  5. 5. Pilih repot sekarang atau nanti?

    Perbandingan anak balita dan anak remaja saat emosi
    Popmama.con/Raisha Nurul Riza/AI

    Pada akhirnya, Mama dan Papa harus memilih pola asuh yang tepat untuk mendidik si Kecil.

    Mama bisa memilih untuk merasa lelah dan repot saat anak masih kecil demi membimbing mereka mengenal batasan diri. 

    Atau sebaliknya, Mama memilih santai di masa kecil anak tetapi harus menanggung risiko kerepotan luar biasa di masa depan. 

    Anak yang terbiasa dibimbing dalam meregulasi perasaannya sejak dini akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh, Ma. 

    Maka dari itu, yuk kuatkan tekad untuk menjadi orangtua yang sabar demi masa depan si Kecil yang lebih stabil secara emosional.  

    Dilema dalam dunia parenting memang tidak pernah ada habisnya ya, Ma.

    Belum lagi kesabaran ekstra yang dibutuhkan dari Mama dan Papa. 

    Itu dia Ma, kesimpulan dari mau repot sekarang atau nanti? ini tips parenting yang perlu diketahui!

    Menghadapi anak yang sedang tantrum atau marah-marah di depan umum memang menguji mental, namun konsistensi adalah kunci utamanya.

    Semoga ulasan kali ini bisa memberikan semangat baru bagi Mama dalam membersamai tumbuh kembang si Kecil di rumah!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More