“Temanmu juga ingin bermain dengan mainan itu. Setelah kamu selesai, boleh kita kasih kesempatan untuk teman, ya.”
5 Hal Ini Bisa Mengganggu Perasaan Anak 3 Tahun Tanpa Disadari

Anak usia 3 tahun mulai ingin mandiri, tetapi kemampuan bahasa dan mengelola emosi belum matang, sehingga keinginan yang tak dipahami dapat memicu tangisan atau frustrasi.
Dipaksa berbagi, tidak didengar, serta harus menghentikan atau berpindah aktivitas mendadak bisa membuat anak merasa kehilangan kendali dan sedih.
Kontrol berlebihan dapat menghambat kesempatan anak mencoba sendiri, sementara mempermalukan tubuh atau kecelakaan toilet training berisiko menimbulkan rasa tidak nyaman.
Memasuki usia 3 tahun, si Kecil mulai menunjukkan keinginan yang semakin kuat untuk menentukan pilihan dan melakukan berbagai hal sendiri. Namun, kemampuan bahasa dan pengelolaan emosinya masih terus berkembang.
Kondisi ini membuat anak belum selalu mampu menyampaikan apa yang dirasakan dengan jelas.
Hal-hal yang terlihat sederhana bagi orang dewasa pun bisa terasa besar bagi anak. Ketika keinginannya tidak dipahami, aktivitasnya dihentikan tiba-tiba, atau dirinya dipermalukan, si Kecil mungkin menunjukkan kesedihan melalui tangisan atau ledakan emosi.
Dilansir dari unggahan Ifi Lutpiah, C.PNLP, seorang Mom Trained in Child Development melalui akun Instagram @ifilutpiah_, ada beberapa hal yang ternyata dapat membuat anak usia 3 tahun merasa sedih.
Lantas, apa saja hal yang membuat anak 3 tahun merasa sedih? Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya.
Yuk, simak!
1. Ketika anak dipaksa untuk berbagi

Popmama.com/Violin Heldina/AI Pada usia 3 tahun, anak sedang belajar memahami konsep kepemilikan. Ia mulai mengenal bahwa ada sesuatu yang menjadi miliknya dan ia juga memiliki pilihan untuk menentukan apa yang ingin dilakukan.
Karena itu, ketika anak sedang memegang atau menggunakan sesuatu lalu dipaksa memberikannya kepada orang lain, ia dapat merasa frustrasi. Bagi orang dewasa, berbagi mungkin merupakan bentuk perilaku baik yang perlu dibiasakan.
Namun, bagi anak, paksaan tersebut bisa terasa seperti kehilangan kendali atas sesuatu yang sedang menjadi pilihannya.
Mama tidak harus memaksa si Kecil untuk langsung berbagi. Sebaliknya, momen tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengenalkan empati secara perlahan.
Misalnya, Mama bisa membantu anak memahami perasaan orang lain dengan mengatakan:
Dengan begitu, anak belajar berbagi tanpa merasa keinginannya diabaikan.
2. Ketika keinginannya tidak didengar

Popmama.com/Violin Heldina/AI Pernah merasa bingung karena si Kecil menangis, padahal Mama tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan? Kondisi seperti ini cukup mungkin terjadi pada anak usia 3 tahun.
Di usia ini, anak sudah memiliki banyak keinginan dan mulai memahami apa yang ia sukai atau tidak sukai. Namun, kemampuan bahasanya masih berkembang sehingga belum selalu mampu menjelaskan perasaan atau keinginannya dalam kalimat yang panjang.
Terkadang, satu kata yang diucapkan anak sebenarnya mewakili maksud yang jauh lebih panjang.
Misalnya, ketika mengatakan “mama”, bisa saja ia sedang ingin Mama mendekat, meminta bantuan, atau ingin menunjukkan sesuatu.
Ketika orang dewasa langsung mengabaikan atau salah memahami maksud tersebut, anak dapat merasa frustrasi karena tidak berhasil menyampaikan apa yang ia inginkan.
Mama bisa mencoba berhenti sejenak, mendengarkan, lalu membantu menerjemahkan maksud si Kecil, seperti:
“Kamu mau Mama ikut?”
“Kamu sedang minta mainan itu?”
Respons sederhana seperti ini dapat membuat anak merasa didengar.
3. Ketika harus berpindah aktivitas secara tiba-tiba

Popmama.com/Violin Heldina/AI Bagi anak, berpindah dari satu aktivitas yang menyenangkan ke aktivitas lainnya tidak selalu mudah. Apalagi jika perubahan tersebut terjadi secara mendadak.
Misalnya, si Kecil sedang asyik bermain di taman, kemudian tiba-tiba diminta berhenti karena harus pulang. Anak mungkin langsung menangis atau menolak karena belum siap mengakhiri kegiatan yang sedang dinikmatinya.
Hal serupa juga bisa terjadi ketika Mama tiba-tiba meminta anak menghentikan aktivitas dan melakukan kegiatan lain tanpa memberikan persiapan sebelumnya.
Untuk membantu si Kecil menghadapi transisi, Mama bisa memberikan pemberitahuan terlebih dahulu. Misalnya:
“Lima menit lagi kita pulang, ya. Setelah itu kita siap-siap.”
Mama juga dapat menggunakan cara yang menyenangkan, seperti bernyanyi saat waktunya berganti aktivitas. Lagu sederhana seperti “Mari-Mari Pulang” bisa menjadi tanda bagi anak bahwa waktunya bermain telah selesai dan kini saatnya melakukan kegiatan berikutnya.
4. Ketika anak terlalu banyak dikontrol

Popmama.com/Violin Heldina/AI “Jangan itu.”
“Bukan begitu.” “
Harus begini.”
Kalimat-kalimat tersebut mungkin sering terlontar ketika Mama ingin mengarahkan si Kecil.
Namun, terlalu banyak dikontrol dapat membuat anak merasa kesulitan untuk memiliki kesempatan mencoba sendiri. Di sekitar usia ini, anak mulai memiliki dorongan untuk mandiri dan ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu melakukan berbagai hal.
Misalnya, anak ingin makan sendiri, memakai sepatu sendiri, atau membawa barang sendiri. Meski hasilnya belum sempurna, proses mencoba tersebut merupakan bagian dari pengalaman belajar anak.
Mama tentu tetap perlu memberikan batasan ketika ada hal yang berbahaya atau tidak sesuai. Namun, tidak semua hal harus langsung dikoreksi.
Berikan kesempatan kepada si Kecil untuk mencoba selama masih aman. Mama bisa mendampingi dari dekat dan memberikan bantuan ketika benar-benar diperlukan. Dengan begitu, anak tetap mendapatkan arahan tanpa merasa setiap tindakannya selalu dikontrol.
5. Ketika anak dipermalukan karena tubuhnya

Popmama.com/Violin Heldina/AI Hal yang dianggap sepele oleh orang dewasa ternyata bisa meninggalkan perasaan tidak nyaman bagi anak. Salah satunya ketika si Kecil dipermalukan saat sedang belajar menggunakan toilet.
Misalnya, anak dimarahi ketika mengalami kecelakaan saat toilet training atau mendengar ucapan seperti:
“Ih, jorok,”
“Ih, jijik,”
Ketika sedang buang air besar.
Bagi orang dewasa, kalimat tersebut mungkin hanya keluar sebagai refleks. Namun, anak bisa menangkapnya dengan cara berbeda. Ia dapat mulai menganggap bahwa bagian tubuh atau proses alami yang sedang dialaminya merupakan sesuatu yang memalukan.
Mama dapat membantu anak melewati toilet training dengan respons yang lebih tenang. Jika terjadi kecelakaan, cukup bantu membersihkannya dan berikan pemahaman bahwa si Kecil sedang belajar.
Alih-alih mempermalukan, Mama bisa mengatakan:
“Tidak apa-apa, kamu masih belajar. Lain kali kalau mau pipis atau pup, bilang Mama, ya.”
Itulah 5 hal yang ternyata bisa membuat anak usia 3 tahun merasa perasaannya terganggu.
Jadi, ketika si Kecil menangis atau terlihat frustrasi, coba berhenti sejenak dan cari tahu apa yang sebenarnya sedang ia rasakan.
Semoga Mama dan si Kecil bisa terus belajar memahami satu sama lain, ya!





















