Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Waspada Anak Developmental Delay, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini
Magnific.com
  • Sekitar 5–10% anak mengalami developmental delay, yakni membutuhkan waktu lebih lama mencapai satu atau lebih tahap perkembangan; orangtua dianjurkan memantau tanpa membandingkan anak dengan anak lain.

  • Tanda yang perlu diperhatikan mencakup keterlambatan bicara, motorik, sosial-emosional, dan kognitif, seperti belum berjalan mandiri pada 18 bulan atau sulit merespons interaksi.

  • Skrining perkembangan rutin dianjurkan pada usia 9, 18, dan 30 bulan; skrining autisme direkomendasikan pada 18 dan 24 bulan untuk mendukung deteksi serta intervensi dini.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Masa-masa pertumbuhan si Kecil pasti selalu menjadi momen yang paling dinantikan oleh Mama dan Papa setiap harinya.

Mulai dari kata pertamanya, senyuman pertamanya, hingga usaha mereka untuk mulai merangkak. 

Namun, di balik rasa antusias tersebut, tidak jarang terselip rasa cemas di hati Mama dan Papa ketika melihat anak seusianya sudah bisa melakukan hal-hal baru, sementara si Kecil tampak memerlukan waktu yang sedikit lebih lama. 

Menanggapi kekhawatiran tersebut, dr. Citra, SpA, IBCLC, Mkes dalam Instagramnya @citra_amelinda mengingatkan para orangtua agar tidak langsung membandingkan tumbuh kembang anak dengan anak lainnya. 

Sebagai orangtua, wajar sekali jika Mama merasa was-was atau overthinking saat memantau setiap tahapan kemampuan dan perilaku anak di rumah. 

Menurut pandangan medis yang diperkuat oleh penjelasan dr. Citra, SpA, IBCLC, Mkes, sekitar 5-10% anak diperkirakan mengalami keterlambatan perkembangan atau yang biasa disebut dengan developmental delay. 

Maksud dari kondisi tersebut adalah anak memerlukan waktu lebih lama untuk mencapai satu atau lebih fase penting dalam hidupnya. 

Oleh karena itu, penting bagi Mama dan Papa untuk mengetahui batasan antara "setiap anak punya waktunya sendiri" dengan tanda-tanda keterlambatan yang memerlukan penanganan medis segera.

Agar Mama dan Papa tidak salah langkah dalam mendampingi tumbuh kembang si Kecil, yuk lebih waspada anak developmental delay, kenali tanda-tandanya sejak dini di Popmama.com!

1. Keterlambatan bicara dan bahasa pada anak

Pinterest.com/Healthcare

Ma, developmental delay biasanya meliputi kondisi keterlambatan di mana anak tidak mengoceh (babbling), belum bisa menggabungkan dua kata yang berarti, atau orangtua masih kesulitan mengerti perkataan anak saat usianya menginjak 30 bulan.

Kemampuan komunikasi ini sangat mendasar bagi si Kecil untuk mengekspresikan keinginan, emosi, serta kebutuhan dasarnya kepada orang di sekitar. 

Apabila di usia tersebut kosakata anak masih sangat minim atau pelafalannya sulit dipahami oleh orang terdekat, maka Mama dan Papa perlu waspada. 

Tipsnya, ajaklah anak untuk lebih sering berdialog, membacakan buku cerita bergambar, serta kurangi paparan gawai agar stimulasi bahasanya tidak terhambat.

Penanganan dini pada keterlambatan bicara akan menghindarkan anak dari rasa frustasi sosial ketika ia mulai masuk ke lingkungan sekolah, Ma!

2. Keterlambatan motorik kasar dan halus pada anak

Magnific.com/senivpetro

Hal lainnya yang perlu Mama dan Papa perhatikan adalah gerakan anak. 

Jika gerakan anak tampak tidak seimbang, misalnya antara anggota tubuh bagian kiri dan kanan, atau anak belum bisa berjalan secara mandiri saat menginjak usia 18 bulan, orangtua perlu waspada.

Keterampilan motorik kasar mencakup kemampuan otot-otot besar seperti merangkak, berdiri, dan berjalan, sementara motorik halus berkaitan dengan koordinasi tangan dan mata. 

Jika si Kecil menunjukkan kelemahan otot yang mencolok atau kesulitan memegang benda kecil pada usianya, hal ini patut diwaspadai lebih lanjut, Ma. 

Dengan melatih keseimbangan tubuh melalui aktivitas bermain yang aktif di luar ruangan dapat menjadi alternatif stimulasi yang menyenangkan untuk si Kecil, lho!

Jika keterlambatan motorik anak sudah melewati batas toleransi normal, segera bawa anak untuk terapi fisik di dokter, ya. 

3. Keterlambatan sosial dan emosional pada anak

Magnific.com/asier_relampagoestudio

Jika disaat Mama dan Papa mengajak si Kecil mengobrol, lalu ia tidak menunjukkan kontak mata, tidak merespons interaksi sosial, atau belum bisa bermain pura-pura, terlebih saat usianya mencapai 18 bulan, Mama dan Papa perlu waspada.

Karena kemampuan sosial emosional melatih anak untuk mengenali ekspresi wajah, membalas senyuman, serta berinteraksi secara timbal balik dengan anggota keluarga.

Jika si Kecil tampak acuh tak acuh, menghindari pelukan, atau kesulitan menunjukkan empati dasar perlu mendapatkan perhatian khusus dari orangtua, perlu adanya penanganan lebih lanjut.

Misalnya, Mama dan Papa dapat mengajak anak untuk bermain peran sederhana di rumah karena dapat merangsang kepekaan emosional serta melatih imajinasi mereka dengan baik. 

4. Keterlambatan kognitif pada anak

Pinterest.com/Pierre.taj

Kondisi keterlambatan kognitif pada anak ditandai dengan adanya kesulitan saat si Kecil mengikuti instruksi sederhana, belajar, mengingat sesuatu, atau memecahkan masalah dasar yang seusianya. 

Aspek kognitif mencakup cara anak berpikir, memproses informasi, serta memahami konsep sebab-akibat dari lingkungan sekitarnya. 

Apabila anak tampak kesulitan mengenali bentuk dasar, warna, atau sering kebingungan saat diberikan arahan ringan, Mama dan Papa harus sigap mendampinginya. 

Salah satu cara penanganannya, berikan permainan edukatif untuk merangsang daya ingat dan logika berpikir secara bertahap sesuai dengan fase usia si Kecil!

Dukungan serta kesabaran dari orangtua menjadi kunci utama agar kemampuan kognitif anak dapat terstimulasi secara optimal tanpa membebaninya.

5. Jangan bandingkan anak Mama dengan anak lainnya

Magnific.com/senivpetro

Ma, setiap anak diciptakan dengan keunikannya masing-masing serta kecepatan tumbuh kembang yang berbeda. 

Jika Mama dan Papa membandingkan si Kecil, misalnya dengan anak tetangga atau saudara, hal itu hanya akan menambah beban mental Mama dan Papa

Padahal yang paling penting adalah memantau perkembangan anak secara menyeluruh. 

Tekanan psikologis yang dirasakan orangtua karena terlalu sering membanding-bandingkan justru berpotensi membuat pola asuh menjadi kurang objektif dan penuh kecemasan. 

Padahal, setiap tahapan keterampilan memiliki rentang usia normalnya sendiri!

Oleh karena itu, yang Mama dan Papa perlu lakukan adalah fokus memberikan dukungan emosional yang hangat serta stimulasi yang konsisten di rumah, ya.

Skrining perkembangan anak secara rutin

Magnific.com/pressfoto

Nah, pastikan si Kecil mendapatkan skrining perkembangan secara rutin saat melakukan kunjungan ke dokter anak, Ma!

Terutama pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 30 bulan, dengan tujuan mendeteksi apakah terdapat potensi hambatan fisik maupun psikis pada anak sejak jauh-jauh hari.

Jangan menunggu sampai anak mengalami ketertinggalan baru membawanya berkonsultasi ke fasilitas kesehatan terdekat. 

Kunjungan rutin juga menjadi sarana terbaik bagi Mama dan Papa untuk berkonsultasi mengenai cara memberikan nutrisi seimbang guna mengoptimalkan pertumbuhan otak si Kecil secara optimal. 

Skrining khusus autisme

Pinterest.com/OccupationalTherapyPhnomPenh

Selain skrining tumbuh kembang umum, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) maupun American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar semua anak menjalani skrining khusus autisme pada usia 18 bulan dan 24 bulan, lho!

Tes skrining ini dirancang khusus untuk mendeteksi tanda-tanda awal gangguan spektrum autisme secara objektif sebelum gejalanya semakin kompleks. 

Deteksi dini pada rentang usia emas tersebut terbukti memberikan peluang intervensi dan terapi yang jauh lebih efektif bagi masa depan anak. 

Orangtua tidak perlu merasa takut ketika dokter menyarankan skrining ini, karena tujuannya murni untuk kebaikan jangka panjang si Kecil, Ma. 

Ingatlah selalu bahwa naluri seorang Mama tidak pernah salah, sehingga jika Mama menyadari ada kemunduran kemampuan pada si Kecil, segera konsultasikan hal tersebut ke dokter anak. 

Nah itu dia waspada anak developmental delay, kenali tanda-tandanya sejak dini, Ma.

Semakin dini suatu masalah atau hambatan perkembangan dikenali, maka semakin cepat pula si Kecil bisa mendapatkan dukungan, terapi, serta stimulasi yang sesuai dengan kebutuhannya.

Yuk buang rasa ragu untuk berdiskusi dengan dokter apabila Mama merasakan ada hal yang "berbeda" atau mengganjal pada tumbuh kembang si Kecil. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article