Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Alasan Mengapa Parenting Bisa Terasa Sulit untuk Orangtua

7 Alasan Mengapa Parenting Bisa Terasa Sulit untuk Orangtua
Pexels/monsteraproduction
Intinya Sih
  • Parenting terasa sulit karena respons orangtua sering tidak sejalan dengan cara kerja otak anak, terutama saat emosi anak sedang tinggi dan belum siap menerima nasihat.
  • Menenangkan anak lebih efektif daripada langsung menasihati; ketika anak sudah tenang dan merasa aman, barulah otaknya siap belajar dan memahami arahan dari orangtua.
  • Fokus utama parenting bukan mengontrol perilaku, melainkan membangun hubungan hangat agar anak merasa dipahami, sehingga proses belajar nilai dan aturan berjalan lebih mudah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Menjadi orangtua sering kali terasa lebih sulit dari yang dibayangkan. Padahal, Mama dan Papa sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk si Kecil. Menariknya, salah satu alasan parenting terasa menantang adalah karena cara kita merespons anak sering kali tidak sejalan dengan cara kerja otak mereka.

Saat anak menangis, marah, atau tantrum, banyak orangtua langsung ingin menasihati, meluruskan perilaku, atau mengajarkan pelajaran penting. Dilansir dari akun Instagram @dr_dono, padahal pada momen tersebut otak anak justru sedang tidak siap menerima nasihat.

Dr. Dono menjelaskan bahwa memahami cara kerja otak anak bisa membantu orangtua memilih respons yang lebih efektif.

Berikut Popmama.com rangkum beberapa alasan mengapa parenting terasa sulit dan apa yang sebenarnya perlu dipahami.

1. Orangtua sering mengajarkan sesuatu di waktu yang kurang tepat

mama dan anak perempuannya sedang berdebat
Pexels/RDNEstockproject

Ketika anak sedang marah, kecewa, atau tantrum, biasanya orangtua tergoda untuk langsung memberi nasihat. Sayangnya, justru pada saat itulah otak anak sedang tidak dalam kondisi terbaik untuk belajar.

Saat emosi sedang memuncak, fokus utama otak anak adalah mencari rasa aman, bukan mendengarkan penjelasan panjang. Karena itu, pesan yang disampaikan sering kali tidak benar-benar masuk.

Bukan berarti nasihat tersebut salah, hanya saja waktunya kurang tepat.

2. Saat emosi memuncak, otak anak masuk ke mode “siaga”

seorang anak laki-laki menunjukan ekspresi amarah
Pexels/mohamedabdelghaffar

Di dalam otak terdapat bagian yang bertugas mendeteksi ancaman atau bahaya. Ketika anak merasa marah, takut, malu, atau frustrasi, bagian ini menjadi sangat aktif.

Akibatnya, kemampuan anak untuk berpikir jernih, mengingat aturan, dan mempertimbangkan konsekuensi menjadi menurun sementara.

Inilah alasan mengapa anak yang biasanya paham aturan bisa tiba-tiba berteriak, melempar barang, atau sulit diajak bekerja sama saat emosinya sedang tinggi.

3. Menenangkan anak sering kali lebih penting daripada menasihatinya

Papa, mama, dan anak laki-lakinya menghabiskan waktu di luar
Pexels/AlinaMat

Banyak orangtua merasa harus segera memperbaiki perilaku anak ketika masalah terjadi. Padahal, langkah pertama yang lebih efektif adalah membantu anak kembali tenang.

Saat anak merasa aman dan emosinya mulai stabil, otaknya akan lebih siap menerima arahan.

Karena itu, sebelum membahas apa yang salah atau benar, fokuslah terlebih dahulu pada proses menenangkan situasi.

4. Anak membutuhkan regulasi emosi dari orangtuanya

seorang anak laki-laki terlihat pusing
Pexels/cottonbrostudio

Anak belum sepenuhnya mampu mengelola emosi besar sendirian. Mereka masih belajar memahami dan mengatur perasaannya.

Di sinilah peran orangtua menjadi sangat penting. Ketika Mama atau Papa tetap tenang di tengah tantrum anak, sebenarnya orangtua sedang membantu sistem saraf anak ikut menjadi lebih tenang.

Sebaliknya, jika orangtua ikut berteriak atau terpancing emosi, suasana biasanya akan semakin sulit dikendalikan.

5. Momen anak tenang justru merupakan waktu terbaik untuk mengajar

papa dan anak laki-lakinya sedang berbincang
Pexels/timurweber

Sering kali orangtua menganggap saat anak sedang tenang sebagai waktu untuk beristirahat dari urusan pengasuhan.

Padahal, kondisi tenang adalah kesempatan emas untuk mengajarkan banyak hal. Mulai dari sopan santun, keterampilan hidup, cara menyelesaikan konflik, hingga membahas kejadian yang sebelumnya terjadi.

Ketika anak merasa nyaman dan rileks, ia lebih mudah memahami informasi baru dan menyimpannya dalam ingatan.

6. Orangtua sering terlalu fokus pada perilaku yang negatif

papa sedang menasihati sang anak
Pexels/AugustdeRichelieu

Tanpa sadar, perhatian terbesar sering diberikan saat anak melakukan kesalahan.

Akibatnya, anak justru mendapatkan lebih banyak interaksi ketika berperilaku negatif dibanding saat ia bersikap baik. Padahal, memberikan perhatian pada perilaku positif juga sangat penting.

Memuji usaha anak, mengapresiasi sikap baiknya, atau sekadar mengakui kemajuannya dapat membantu memperkuat perilaku yang ingin dilihat orangtua.

7. Parenting bukan tentang mengontrol anak, tetapi membangun hubungan

papa dan anak laki-lakinya sedang bercengkrama
Pexels/AugustdeRichelieu

Banyak tantangan dalam pengasuhan muncul ketika fokus hanya tertuju pada membuat anak patuh.

Padahal, hubungan yang hangat dan penuh rasa aman sering kali menjadi fondasi utama agar anak mau mendengarkan orangtuanya.

Ketika anak merasa dipahami, dihargai, dan diterima, proses mengajarkan nilai, aturan, maupun kebiasaan baik biasanya akan berjalan lebih mudah dibandingkan jika hanya mengandalkan hukuman atau kemarahan.

8. Jadi, kapan waktu terbaik untuk mengajarkan anak?

papa dan kedua anaknya sarapan bersama
Pexels/paveldanilyuk

Bukan saat anak sedang menangis, marah, atau tantrum. Justru ketika anak sudah tenang dan merasa aman, otaknya berada dalam kondisi terbaik untuk belajar. Karena itu, jika si Kecil sedang bergejolak emosinya, fokuslah terlebih dahulu membantu ia menenangkan diri. Setelah suasana lebih kondusif, barulah Mama dan Papa bisa mengajaknya berdiskusi, memberi arahan, atau mengajarkan pelajaran penting yang ingin disampaikan.

Nah, Ma, memahami cara kerja otak anak bisa membantu kita melihat bahwa tidak semua perilaku sulit muncul karena anak tidak mau mendengarkan. Terkadang, mereka hanya sedang membutuhkan bantuan untuk mengelola emosinya. Dengan memilih waktu yang tepat, proses parenting pun bisa terasa lebih efektif dan minim konflik.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More