Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Awalnya Tidak Sengaja, Ini Asal Usul Tren Toodler Takeover yang Viral
Instagram.com/ikeakuwait/sociolla/wranglerjeansid
  • Tren Toddler Takeover bermula dari selfie buram yang tak sengaja diunggah anak pemilik brand Sahaba Abaya asal Kuwait, lalu menarik perhatian dan candaan warganet.

  • Setelah viral, konsep akun media sosial yang seolah diambil alih anak-anak diikuti berbagai brand besar, termasuk BMW, IKEA, McDonald’s, serta sejumlah instansi pemerintah.

  • Format konten spontan dan tidak kaku ini membuat unggahan brand terasa lebih ringan, lucu serta dekat dengan audiens di tengah ramainya pemasaran media sosial.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tren Toddler Takeover belakangan ramai di media sosial setelah tingkah spontan anak-anak kecil justru mendapat perhatian besar dari publik. Tren ini memperlihatkan bagaimana tingkah para anak kecil yang mengunggah foto maupun video seadanya, tetapi justru tingkah polos tersebut menjadi sebuah tren.

Menariknya, tren tersebut disebut bermula dari ketidaksengajaan seorang anak di negara timur tengah. Dari momen sederhana itu, tren Toddler Takeover kemudian semakin populer hingga menarik perhatian berbagai brand besar seperti BMW, IKEA, dan McDonald’s.

Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana tren di media sosial dapat berkembang dengan cepat dan melibatkan berbagai pihak. Berikut Popmama.com telah merangkum asal-usul Toddler Takeover hingga alasan tren ini bisa diikuti oleh brand-brand raksasa.

Yuk, disimak!

1. Berawal dari selfie buram anak pemilik brand Sahaba Abaya

Instagram.com/sahaba_abaya

Tren Toddler Takeover ternyata bermula dari sebuah kejadian yang tidak direncanakan di akun Sahaba Abaya, sebuah brand asal Kuwait. Anak dari pemilik brand tersebut secara tidak sengaja mengunggah foto selfie dengan hasil gambar buram yang hanya memperlihatkan sebagian wajahnya.

Unggahan tersebut awalnya hanyalah sebuah foto sederhana yang tidak direncanakan untuk menjadi konten. Namun, tingkah sang anak justru berhasil menarik perhatian pengguna media sosial yang melihatnya.

Kolom komentar pun langsung dipenuhi berbagai candaan dan reaksi warganet yang ikut gemas dengan aksi spontan tersebut. Dari unggahan tidak sengaja inilah, tren Toddler Takeover kemudian mulai berkembang dan semakin dikenal.

2. Tren Toddler Takeover mulai diikuti banyak brand

Instagram.com/mcdonaldsataqar/keretacepat_id

Tren Toddler Takeover ternyata tidak berhenti di akun-akun personal atau brand kecil. Setelah semakin viral, berbagai brand besar mulai ikut mengikuti tren dengan menghadirkan konten seolah-olah akun mereka sedang diambil alih oleh anak-anak.

Tidak hanya dari kalangan brand, sejumlah instansi pemerintah juga ikut meramaikan tren tersebut. Fenomena ini membuat Toddler Takeover semakin luas dan menunjukkan bagaimana tren sederhana dari media sosial bisa diadaptasi oleh berbagai pihak.

3. Toddler Takeover hadirkan format konten yang lebih segar

Instagram.com/ikeakuwait/sociolla/wranglerjeansid

Di era media sosial, audiens semakin sering menemukan berbagai bentuk iklan dan konten pemasaran dari brand. Namun, konten yang terlalu rapi, formal, dan terlihat sempurna terkadang justru terasa kurang dekat dengan keseharian mereka.

Tren Toddler Takeover menawarkan pendekatan yang berbeda dengan menghadirkan konten yang lebih spontan dan tidak kaku. Tingkah polos anak-anak membuat unggahan brand terasa lebih ringan, lucu, sekaligus memberikan pengalaman yang berbeda bagi audiens.

Format seperti ini juga membuat brand terlihat lebih berani bermain dengan sisi humor dan tidak selalu tampil serius. Pada akhirnya, konten yang terasa natural justru berpotensi lebih mudah menarik perhatian dan membuat audiens ingin ikut membagikannya.

Pada akhirnya, Toddler Takeover menjadi contoh bagaimana sesuatu yang berawal dari ketidaksengajaan bisa berkembang menjadi tren yang diikuti banyak brand hingga instansi pemerintah.

Di tengah persaingan konten media sosial yang semakin ramai, tren ini menawarkan cara baru bagi brand untuk berkomunikasi dengan audiens secara lebih santai, lucu, dan terasa dekat dengan keseharian.

Curated For You

Editorial Team

Related Article