Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Ini Bahaya Melanggar Body Boundaries Anak, Jangan Anggap Bercanda!

Ini Bahaya Melanggar Body Boundaries Anak, Jangan Anggap Bercanda!
Pexels/Markus Spiske
Intinya Sih
  • Unggahan viral tentang anak yang mengaku celananya dipeloroti kakeknya menyoroti risiko candaan tubuh anak, terutama saat cerita anak tidak dipercaya.
  • Orangtua dianjurkan mendengarkan cerita anak dengan tenang, menghargai perasaannya, lalu melakukan klarifikasi hati-hati tanpa mengintimidasi atau menyalahkan anak.
  • Anak perlu memahami hak atas tubuhnya, boleh menolak sentuhan tidak nyaman, sementara seluruh keluarga wajib menghormati privasi dan tidak menjadikan tubuh anak bahan candaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Belakangan ini, sebuah unggahan seorang Mama di media sosial ramai menjadi perbincangan. Dalam ceritanya, sang anak laki-laki mengaku celananya pernah dipeloroti oleh kakeknya saat berada di sebuah supermarket.

Mama mengaku mempercayai cerita anaknya karena sebelumnya keluarga dari pihak suami memang beberapa kali menjadikan tindakan meloroti celana anak sebagai bahan candaan.

Ia bahkan mengaku sudah beberapa kali menegur kebiasaan tersebut, namun tidak diindahkan.

Menurut unggahan tersebut, sang kakek juga beberapa kali melontarkan ucapan ingin melihat alat kelamin cucunya.

Ketika sang Mama menyampaikan kekhawatirannya kepada suami, respons yang diterima justru membuatnya semakin sedih. Suaminya disebut tidak mempercayai cerita anak mereka dan malah memarahi sang anak.

Kisah ini mengingatkan banyak orangtua bahwa candaan yang melibatkan tubuh anak tidak boleh dianggap sepele.

Lalu, apa yang perlu Mama dan Papa lakukan apabila menghadapi situasi serupa? Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya.

1. Percaya dan dengarkan cerita anak terlebih dahulu

Dengarkan cerita anak ketika ada yang membuatnya tidak nyaman
Pexels/Kampus Production

Ketika anak bercerita bahwa ada seseorang yang membuatnya merasa tidak nyaman, langkah pertama yang dianjurkan para ahli adalah mendengarkan dengan tenang.

Hindari langsung menyela, memarahi, atau mengatakan bahwa anak berbohong. Sikap orangtua pada momen pertama anak bercerita sangat menentukan apakah ia akan berani kembali bercerita jika suatu hari mengalami hal lain.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), orangtua perlu menjadi safe person atau tempat yang aman bagi anak.

Anak yang merasa dipercaya akan lebih mudah mengungkapkan detail kejadian dibandingkan dengan anak yang langsung dihakimi.

AAP juga menjelaskan bahwa orangtua tidak perlu langsung mengambil kesimpulan, tetapi penting untuk menunjukkan bahwa perasaan anak dihargai. Kalimat sederhana seperti:

"Terima kasih sudah cerita ke Mama," atau "Mama senang kamu mau jujur,"

Dapat membantu anak merasa didukung.

Hal serupa juga disampaikan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Dalam berbagai edukasinya, KPAI mengingatkan bahwa ketika anak menyampaikan pengalaman yang berkaitan dengan tubuhnya, orangtua sebaiknya mendengarkan tanpa intimidasi terlebih dahulu.

Setelah itu, Mama dan Papa dapat melakukan klarifikasi secara hati-hati dan mencari informasi lebih lanjut tanpa membuat anak merasa bersalah.

2. Ajarkan bahwa tubuh anak adalah miliknya sendiri

Ajarkan anak tentang konsep body autonomy
Pexels/Kampus Production

Salah satu konsep penting dalam pendidikan perlindungan anak adalah body autonomy, yaitu pemahaman bahwa setiap orang memiliki hak atas tubuhnya sendiri.

Artinya, tidak seorang pun boleh menyentuh, membuka pakaian, atau melihat bagian pribadi anak tanpa alasan yang jelas dan tanpa persetujuan yang sesuai dengan usianya.

Pendidik seksualitas Debra Haffner, Presiden Emerita Sexuality Information and Education Council of the United States (SIECUS), menjelaskan bahwa anak perlu diajarkan sejak dini bahwa tubuh mereka berharga dan layak dihormati.

Pendidikan ini bukan bertujuan membuat anak takut kepada orang lain, melainkan membantu mereka memahami batasan yang sehat.

Anak juga perlu mengetahui bahwa mereka boleh mengatakan "tidak" apabila ada sentuhan atau perlakuan yang membuat mereka tidak nyaman, sekalipun dilakukan oleh orang yang dikenal atau anggota keluarga.

Mama dan Papa dapat mulai mengenalkan konsep ini melalui aktivitas sehari-hari.

Misalnya dengan meminta izin sebelum membantu mengganti pakaian, menghormati ketika anak tidak ingin dipeluk, serta mengajarkan nama anatomi tubuh yang benar.

3. Jelaskan bahwa bagian pribadi tidak boleh dijadikan bahan candaan

Anak perlu memahami bagian tubuh pribadi yang tertutup pakaian dalam
Pexels/AI25.Studio

Sebagian orang dewasa mungkin menganggap membuka celana anak, menggoda soal alat kelamin, atau bercanda mengenai tubuh anak hanyalah bentuk keakraban.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menjelaskan bahwa anak perlu memahami bagian tubuh pribadi, yaitu bagian yang tertutup pakaian dalam.

Area tersebut tidak boleh disentuh, dilihat, atau dijadikan bahan candaan oleh orang lain, kecuali dalam kondisi tertentu seperti dibantu orangtua saat masih kecil atau diperiksa tenaga kesehatan dengan pendampingan orangtua.

Jika candaan mengenai tubuh terus dinormalisasi di lingkungan keluarga, anak bisa menganggap bahwa orang dewasa memang berhak melakukan apa saja terhadap tubuhnya.

Hal ini berisiko membuat anak kesulitan mengenali perilaku yang tidak pantas apabila suatu saat benar-benar menjadi korban kekerasan seksual.

Oleh karena itu, Mama dan Papa juga perlu menyampaikan kepada anggota keluarga lain bahwa menghormati privasi tubuh anak merupakan bagian dari upaya perlindungan anak, bukan berarti anak menjadi tidak sopan kepada orang yang lebih tua.

4. Anak boleh berkata "tidak", meski kepada orang yang lebih tua

Anak berhak menolak apabila merasa tidak nyaman
Pexels/Vika Glitter

Banyak anak diajarkan untuk selalu menurut kepada orang yang lebih tua.

Nilai menghormati orang lain memang penting, tetapi anak juga perlu mengetahui bahwa mereka tetap berhak menolak apabila merasa tidak nyaman terhadap perlakuan seseorang.

Dokter anak Kenneth Ginsburg, profesor pediatri di Children's Hospital of Philadelphia sekaligus penulis berbagai panduan parenting, menjelaskan bahwa membangun rasa aman pada anak dimulai dengan memberikan mereka kesempatan untuk menyampaikan perasaan dan menetapkan batas.

Ketika orangtua menghormati penolakan anak terhadap pelukan, ciuman, atau sentuhan tertentu, anak belajar bahwa persetujuan (consent) adalah sesuatu yang penting.

Mama dan Papa bisa mengajarkan kalimat sederhana seperti:

"Aku tidak mau,"

"Tolong berhenti,"

"Aku mau cerita ke Mama."

Latihan ini sebaiknya dilakukan dalam suasana santai sehingga anak terbiasa menggunakannya ketika benar-benar diperlukan.

Orangtua juga perlu menjelaskan bahwa berkata "tidak" bukan berarti anak menjadi nakal atau tidak sopan.

Sebaliknya, kemampuan tersebut merupakan keterampilan penting untuk menjaga keselamatan dirinya sendiri.

5. Seluruh anggota keluarga perlu menghormati batas tubuh anak

Seluruh anggota keluarga perlu memahami hak privasi tubuh anak
Pexels/Alena Darmel

Melindungi anak bukan hanya tanggung jawab Mama dan Papa, tetapi juga seluruh anggota keluarga yang berinteraksi dengannya.

Kakek, nenek, om, tante, hingga pengasuh perlu memahami bahwa setiap anak memiliki hak atas privasi tubuhnya.

UNICEF menjelaskan bahwa salah satu cara terbaik untuk mencegah kekerasan terhadap anak adalah membangun lingkungan yang menghormati batas pribadi anak sejak dini.

Orang dewasa sebaiknya tidak memaksa anak memberikan pelukan atau ciuman, tidak membuka pakaian anak sebagai bahan candaan, serta tidak mengomentari organ intim anak untuk hiburan.

Ketika orang dewasa menunjukkan sikap saling menghormati, anak akan belajar bahwa tubuhnya memang layak dihargai.

Apabila Mama atau Papa merasa ada perilaku anggota keluarga yang tidak sesuai, jangan ragu menyampaikan batasan dengan tegas namun tetap sopan.

Misalnya dengan mengatakan bahwa keluarga memiliki aturan untuk tidak bercanda mengenai tubuh anak.

Langkah ini bukan berarti memutus hubungan keluarga, melainkan menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi tumbuh kembang anak.

Itulah 5 hal yang perlu Mama dan Papa pahami ketika anak mengaku mengalami perlakuan yang membuatnya tidak nyaman, termasuk jika terjadi di lingkungan keluarga sendiri.

Sekecil apa pun cerita anak, usahakan untuk mendengarkan tanpa menghakimi dan berikan ruang agar ia merasa aman untuk bercerita.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More