Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Belajar Fondasi Imunitas Anak di Tengah Perubahan Lingkungan, Penting!

5 min read
Belajar Fondasi Imunitas Anak di Tengah Perubahan Lingkungan, Penting!
123rf.com/pongchart
  • Imunitas anak yang sehat bukan berarti tidak pernah sakit, melainkan mampu merespons infeksi secara wajar, beradaptasi, dan pulih lebih cepat.

  • Fondasi imun terbentuk terutama selama 1.000 hari pertama kehidupan, ketika mikrobiota usus dipengaruhi oleh ASI, nutrisi, dan lingkungan pendukung.

  • Metode persalinan memengaruhi mikrobiota awal, tetapi perkembangannya tetap dapat didukung melalui ASI, makanan bergizi, sinbiotik, serta konsultasi dokter anak bila diperlukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mama pasti sadar cuaca belakangan ini makin tak menentu, kadang panas terik, lalu tiba-tiba hujan deras tanpa aba-aba. Nggak bisa dipungkiri, kondisi ini kerap menguji kesehatan si Kecil dan bikin Mama Papa was-was.

Itu sebabnya imunitas anak selalu menjadi fondasi, tapi benarkah imunitas anak yang kuat itu sudah pasti jarang sakit? Lalu seberapa penting imunitas bagi pertumbuhan anak kini dan di masa depan? Kira-kira langkah apa yang harus Mama dan Papa lakukan untuk membangun imunitas si Kecil jadi lebih baik untuk kini dan masa depan? Yuk simak dulu!

  1. 1. Membuka mata soal Imunitas

    141129584_l.jpg
    123rf.com/marctran

    Selama ini banyak Mama menganggap anak yang imun bagus banget berarti anak yang tidak pernah sakit sama sekali. Tapi apa benar? Namun ternyata hal itu, belum tentu tepat lho Ma.

    Dalam podcast bersama Nikita Willy dan Aaliyah Massaid, dr. Ivan Riyanto Widjaja, Sp.A, Subsp.Neuro(K) beberapa waktu lalu menjelaskan bahwa sistem imun yang sehat bukan berarti anti-infeksi total, justru anak butuh "berlatih" menghadapi kuman dalam batas wajar supaya sistem imunnya makin matang. 

    Konsep inilah yang disebut immune resilience, ini mengubah cara pandang Mama dari "anak sehat = tidak pernah sakit" jadi "anak sehat = sistem imun yang responsif dan cepat pulih"[1,2]


  2. 2. Fondasi imunitas mulai dibangun sejak awal kehidupan

    247693169_l.jpg
    123rf.com/wosunan

    Tapi kalau berbicara soal sistem imun, Mama tahu nggak kalau sistem imun anak tidak terbentuk instan begitu lahir? Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), termasuk sejak dalam kandungan sampai usia 2 tahun jadi masa krusial pembentukan imunitas[3]. 

    Menurut jurnal Amerta Nutrition (Universitas Airlangga, 2025), mikrobiota usus punya peran dalam memengaruhi sistem kekebalan tubuh anak, dan periode awal kehidupan ini jadi jendela penting untuk membentuk fondasi tersebut lewat prebiotik, probiotik, dan sinbiotik[3-4].

    Semakin optimal fondasi ini dibangun, semakin siap si Kecil menghadapi berbagai infeksi di kemudian hari.


  3. 3. Proses kelahiran si Kecil juga berkaitan dengan mikrobiota di dalam tubuhnya

    181833756_l.jpg
    123rf.com/ryanking999

    Oh iya Ma, cara si Kecil lahir ternyata ikut menentukan "starter pack" bakteri baik di ususnya lho. 

    Dikutip dari artikel IDN Times, Menurut Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K), dokter spesialis anak konsultan gastrohepatologi, dalam webinar Bicara Gizi bertajuk "Kunci Kesehatan Jangka Panjang Anak Kelahiran Cesar", jenis mikrobiota yang pertama kali mengkolonisasi usus bayi berbeda tergantung metode persalinannya[8]. 

    Jika mikrobiota di usus seimbang, maka akan mendukung perkembangan sistem imun dan metabolisme anak[5].

    Tapi Mama yang melahirkan lewat caesar nggak perlu khawatir berlebihan ya! Metode kelahiran hanya memengaruhi titik awal pembentukan mikrobiota, bukan penentu akhir. 

    Selama masa emas 1.000 HPK, sistem imun anak masih sangat mungkin ‘dikejar’ dan dibangun setiap hari lewat ASI, nutrisi yang tepat, serta lingkungan yang mendukung.


  4. 4. Keseimbangan mikrobiota usus anak butuh terobosan Sinbiotik

    247656236_l.jpg
    123rf.com/wosunan

    Buat new Mom yang masih bingung soal probiotik dan prebiotik, sini Popmama jelaskan. Istilah sinbiotik adalah gabungan keduanya (probiotik dan prebiotik) yang bekerja sinergis. Probiotik itu bakteri baik yang hidup (seperti Bifidobacterium), sementara prebiotik adalah ‘makanan’ untuk bakteri baik tersebut, biasanya berupa serat khusus seperti FOS dan GOS.

    Penting bagi Mama untuk menjaga kesehatan saluran cerna anak karena sebagian besar sistem imun tubuh berhubungan erat dengan saluran cerna. Saluran cerna tidak hanya berfungsi untuk mencerna dan menyerap nutrisi, tetapi juga berperan penting dalam membantu tubuh mengenali dan melawan bakteri penyebab penyakit5.

    Menurut beberapa jurnal ilmiah, kombinasi prebiotik dan probiotik, dalam bentuk sinbiotik dapat mendukung kolonisasi mikrobiota usus dan dapat mendukung perkembangan sistem imun pada anak[4-6]. 

    Sumber sinbiotik bisa didapat secara alami maupun lewat produk yang difortifikasi:

    • Alami: ASI (mengandung human milk oligosaccharides/HMO dan bakteri baik) serta kombinasi makanan sumber prebiotik dan probiotik, misalnya bawang putih atau pisang (prebiotik) yang dikonsumsi bersama yoghurt (probiotik).
    • Fortifikasi: susu pertumbuhan tertentu yang diformulasikan mengandung kombinasi probiotik dan prebiotik (sinbiotik).

    Sebuah penelitian dari Puspita & Dwipoerwantoro (FKUI) terhadap studi acak terkontrol soal susu pertumbuhan mengandung sinbiotik menemukan, konsumsi susu pertumbuhan pada balita berkaitan dengan peningkatan kadar imunoglobulin A (IgA), antibodi penting di saluran cerna, sekaligus mendukung parameter pertumbuhan anak7.

    Mama bisa menemukan sinbiotik alami di beberapa kombinasi makanan yang telah disebutkan sebelumnya, seperti campuran yogurt dan pisang. Selain itu, buat si Kecil yang baru mulai MPASI atau saluran cernanya masih banyak ‘belajar’, memberikan ASI merupakan intervensi yang paling penting. Namun, jika ASI tidak dapat diberikan karena kondisi tertentu, susu pertumbuhan yang mengandung sinbiotik dapat menjadi pilihan karena cenderung lebih mudah diberikan dan praktis, Ma. Pastikan berkonsultasi dengan dokter anak si Kecil ya, Ma.

  5. 5. Jadi, apa ‘standar baru’ untuk melihat imunitas anak?

    193111362_l.jpg
    123rf.com/eggeeggjiew

    Jadi, apakah sekarang ada ‘standar baru’ terkait imunitas anak, terlebih di cuaca dan kondisi lingkungan yang kini bisa dibilang semakin kurang ramah anak? 

    Dilihat dari semua penjelasan beberapa poin di atas, standar baru imunitas anak bukan lagi soal "anti sakit" apalagi nggak pernah sakit, tapi soal seberapa cepat tubuh si Kecil pulih dan beradaptasi. Fondasinya dimulai sejak 1.000 HPK dan dapat dipengaruhi (tapi tidak ditentukan mutlak) oleh beberapa faktor, salah satunya adalah cara kelahiran. Namun, perkembangan sistem imunnya dapat terus didukung lewat nutrisi harian, termasuk asupan sinbiotik yang konsisten. 

    Jadi, apakah si Kecil sudah masuk dalam ‘standar baru’ ini Ma? (WEB/TAMA)

    Referensi :

    1. Ahuja, S. K., et al. (2023). Nature communications, 14(1), 3286.
    2. Semmes, E. C., et al. (2021). Frontiers in immunology, 11, 595297.
    3. Dogra, S. K., et al. (2021). Microorganisms, 9(10), 2110.​
    4. Sutanto, L. B., et al. (2025). Amerta Nutrition, 9(4), 747-766.
    5. Mörbe, U. M., et al. (2021). Mucosal immunology, 14(4), 793-802.
    6. Chua, M. C., et al. (2017). Journal of pediatric gastroenterology and nutrition, 65(1), 102-106​
    7. Puspita, R., et al. (2016). Sari Pediatri, 18(2), 164-8.
    8. https://www.idntimes.com/health/medical/persalinan-caesar-sebabkan-ketidakseimbangan-mikrobiota-di-usus-anak-00-jx89k-njll4y 

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More