Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
5 Cara Membangunkan Anak Sahur agar Tidak Rewel, Tanpa Drama
Pexels/cottonbro studio
  • Artikel membahas tantangan orangtua saat membangunkan anak untuk sahur, terutama karena anak masih berada dalam fase tidur nyenyak yang membuatnya mudah rewel.
  • Dijelaskan lima cara lembut agar anak bangun tanpa drama, seperti memanfaatkan aroma masakan, sentuhan ringan, panggilan lembut, pencahayaan bertahap, dan waktu bangun yang lebih awal.
  • Tujuan utama tips ini adalah membantu anak bertransisi dari tidur ke kondisi sadar dengan nyaman sehingga suasana sahur terasa hangat dan bebas stres bagi keluarga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Membangunkan anak untuk sahur sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Alih-alih bangun dengan tenang, tidak sedikit anak yang justru menangis, marah, atau kembali tertidur karena masih mengantuk berat.

Situasi ini wajar terjadi, terutama ketika sahur dilakukan pada dini hari saat tubuh anak belum sepenuhnya siap untuk terjaga. Secara ilmiah, sekitar pukul 03.00 dini hari merupakan fase deep sleep atau tidur nyenyak pada siklus tidur anak. 

Jika mereka dibangunkan secara tiba-tiba, otak dapat mengalami sleep inertia, yaitu kondisi transisi bangun yang membuat anak merasa pusing, mual, bingung, hingga emosinya menjadi tidak stabil. 

Tak heran, reaksi rewel atau marah sering muncul saat sahur.

Nah, kali ini Popmama.com siap membahas cara membangunkan anak sahur agar tidak rewel. 

1. Biarkan bau masakan masuk ke kamar tidur anak

Pexels/Proyek Saham RDNE

Aroma makanan ternyata bisa menjadi 'alarm alami' yang efektif untuk membangunkan anak sahur. Saat Mama mulai memasak atau menyiapkan hidangan, biarkan pintu kamar sedikit terbuka agar wangi makanan perlahan masuk.

Aroma hangat seperti nasi, sup, atau tumisan dapat merangsang indra penciuman anak dan membantu tubuhnya bertransisi dari tidur ke kondisi setengah sadar.

Cara ini bekerja karena otak menerima sinyal lingkungan tanpa merasa terkejut. Anak tidak dibangunkan secara mendadak, melainkan melalui stimulasi lembut yang membuatnya perlahan merasa lapar atau penasaran.

Dengan begitu, proses bangun menjadi lebih nyaman dan risiko rewel pun bisa berkurang.

2. Usap punggung atau pijat kaki anak secara perlahan

Pexels/cottonbro studio

Sentuhan fisik yang lembut dapat memberikan rasa aman sekaligus membantu anak bangun dengan suasana hati lebih baik.

Mama atau Papa bisa mulai dengan mengusap punggung, mengelus rambut, atau memijat ringan bagian kaki anak. Gerakan ritmis dan perlahan memberi sinyal bahwa sudah waktunya bangun tanpa membuatnya kaget.

Selain membantu transisi bangun, sentuhan juga memicu pelepasan hormon oksitosin yang berkaitan dengan rasa nyaman dan kedekatan emosional.

Anak pun merasa ditemani, bukan 'dipaksa' bangun, sehingga kemungkinan muncul tangisan atau penolakan bisa diminimalkan.

3. Panggil namanya dengan suara lembut, jangan berteriak

Pexels/cottonbro studio

Cara memanggil anak juga sangat berpengaruh terhadap respons bangunnya. Hindari memanggil dengan nada tinggi, tergesa, atau bahkan berteriak kepada anak.

Sebaliknya, panggil nama anak dengan suara pelan, hangat, dan konsisten sambil tetap memberikan jeda agar otaknya memproses suara tersebut.

Pendekatan ini membantu anak keluar dari fase tidur nyenyak secara bertahap. Ketika suara yang didengar terasa familiar dan menenangkan, anak lebih mudah membuka mata tanpa rasa panik. Suasana sahur pun tetap hangat dan jauh dari drama.

4. Mainkan cahaya lampu di kamar tidur anak secara bertahap

Freepik

Pencahayaan menjadi faktor penting saat membangunkan anak dini hari. Menyalakan lampu utama yang terang secara tiba-tiba bisa membuat mata silau dan otak kaget, sehingga anak berisiko merasa pusing atau mudah marah.

Karena itu, Mama disarankan memulai dengan lampu tidur atau cahaya remang-remang terlebih dahulu. Cahaya yang meningkat perlahan membantu tubuh menaikkan hormon bangun seperti kortisol secara bertahap.

Mata anak memiliki waktu untuk beradaptasi, sehingga proses bangun terasa lebih natural. Setelah anak mulai sadar, barulah lampu utama bisa dinyalakan tanpa menimbulkan ketidaknyamanan.

5. Bangunkan lebih awal agar tidak terburu-buru

Pexels/cottonbro

Salah satu penyebab anak rewel saat sahur adalah rasa terburu-buru. Jika dibangunkan terlalu mepet waktu imsak, anak belum sepenuhnya sadar tetapi sudah harus makan, minum, bahkan ke kamar mandi.

Situasi ini dapat memicu stres kecil yang membuat emosinya mudah meledak. Mama bisa mencoba membangunkan anak 15–20 menit lebih awal dari waktu makan sahur.

Waktu tambahan ini memberi ruang bagi anak untuk benar-benar sadar, duduk sebentar, atau sekadar dipeluk sebelum mulai makan. Dengan ritme yang lebih santai, pengalaman sahur menjadi menyenangkan dan anak pun lebih kooperatif keesokan harinya.

Nah, itu dia cara membangunkan anak sahur agar tidak rewel. Semoga informasinya membantu dan bisa diterapkan ya, Ma.

Editorial Team