Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

7 Fakta Menarik Tentang Perkembangan Anak Usia 5 Tahun

7 Fakta Menarik Tentang Perkembangan Anak Usia 5 Tahun
Pexels/Oli Liao
  • Anak usia 5 tahun makin mandiri dalam aktivitas sederhana, tetapi kemampuan motorik, kognitif, dan emosinya masih berkembang sehingga tetap memerlukan bantuan serta arahan.
  • Pada usia ini, anak mulai memahami humor, perbedaan fantasi dan kenyataan, aturan, serta pikiran dan perasaan orang lain, meski pengendalian diri dan empatinya belum konsisten.
  • Minat bersosialisasi meningkat: anak ingin diterima kelompok, belajar berteman dan menyesuaikan diri, serta lebih peka terhadap pengalaman dan hubungan di lingkungan sekitarnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Memasuki usia 5 tahun, anak mulai menunjukkan banyak perubahan yang mungkin membuat Mama menyadari bahwa anak sudah semakin besar. Ia mulai lebih mandiri, punya selera humor, memahami aturan, hingga semakin tertarik bermain bersama teman.

Meski begitu, anak usia 5 tahun belum bisa diperlakukan seperti orang dewasa dalam versi kecil.

Kemampuan berpikir, mengelola emosi, dan memahami perasaan orang lain masih terus berkembang. Tidak heran jika dalam satu waktu anak terlihat sangat mandiri, tetapi di waktu lain masih membutuhkan bantuan dan perhatian Mama.

Setiap anak tentu berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Namun, ada beberapa hal menarik yang umumnya mulai terlihat pada usia ini.

Berikut Popmama.com telah merangkum fakta tentang perkembangan anak usia 5 tahun yang menarik untuk Mama ketahui. Yuk, simak!

  1. 1. Sudah bukan balita, tetapi tetap butuh banyak bantuan

    Tumbuh besar bukan berarti anak tidak membutuhkan bantuan orangtua
    Pexels/Gustavo Fring

    Anak usia 5 tahun mungkin sudah terlihat jauh lebih besar dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

    Ia mulai bisa melakukan banyak hal sendiri, seperti mengenakan pakaian, makan, memilih mainan, atau membantu pekerjaan sederhana di rumah.

    Meski terlihat semakin mandiri, bukan berarti anak sudah mampu melakukan semuanya dengan sempurna.

    Kemampuan motorik, kognitif, dan emosionalnya masih berkembang sehingga Mama tetap perlu memberikan bantuan dan arahan ketika dibutuhkan.

    Misalnya, anak sudah ingin membereskan tempat tidur sendiri, tetapi hasilnya masih berantakan.

    Ia mungkin juga mencoba menuangkan minuman sendiri, tetapi sebagian justru tumpah. Situasi seperti ini merupakan bagian dari proses belajar.

    Mama sebaiknya memberikan ruang kepada anak untuk mencoba tanpa terlalu cepat mengambil alih. Jika hasilnya belum sesuai harapan, berikan arahan dengan lembut daripada langsung mengatakan bahwa caranya salah.

    Memberikan kesempatan untuk mencoba membantu anak membangun rasa percaya diri. Ia pun belajar bahwa menjadi mandiri tidak berarti harus selalu bisa melakukan semuanya dengan sempurna.

  2. 2. Mulai senang membuat dan memahami lelucon

    Anak usia 5 tahun mulai suka membuat orang lain tertawa atau bercanda
    Pexels/Anna Shvets

    Jangan heran jika rumah mulai terasa lebih ramai dengan lelucon anak. Memasuki usia 5 tahun, anak biasanya mulai menunjukkan ketertarikan yang lebih besar terhadap humor.

    Ia mungkin sengaja membuat ekspresi lucu, mengatakan sesuatu yang menurutnya kocak, atau mengulang lelucon yang berhasil membuat orang lain tertawa.

    Ketertarikan terhadap humor juga berkaitan dengan perkembangan kemampuan berpikir dan sosial anak. Ia mulai memahami bahwa perkataan atau tindakan tertentu dapat memunculkan reaksi dari orang lain.

    Bagi Mama, lelucon anak mungkin terdengar sederhana atau bahkan tidak masuk akal.

    Namun, bagi mereka, membuat orang lain tertawa bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan.

    Mama dapat ikut menikmati momen tersebut sambil mengajarkan batasan dalam bercanda. Anak perlu memahami bahwa tidak semua hal pantas dijadikan bahan lelucon, terutama jika dapat membuat orang lain merasa malu, sedih, atau tersinggung.

    Ketika anak mulai belajar menggunakan humor, Mama juga bisa mengenalkan pentingnya memperhatikan situasi dan perasaan orang lain.

    Dengan begitu, kemampuan sosialnya berkembang bersamaan dengan rasa percaya diri.

  3. 3. Mulai memahami perbedaan antara fantasi dan kenyataan

    Bisa membedakan yang mana nyata dan mana yang imajinasi
    Pexels/Ksenia Chernaya

    Anak usia 5 tahun masih memiliki imajinasi yang sangat aktif. Ia bisa bermain menjadi superhero, berpura-pura memiliki kekuatan khusus, atau membuat cerita tentang dunia khayalannya sendiri.

    Namun, pada usia ini, anak mulai lebih mampu memahami bahwa fantasi dan kenyataan merupakan dua hal yang berbeda.

    Ia perlahan mengerti bahwa karakter dalam film, buku cerita, atau permainan pura-pura tidak benar-benar ada di dunia nyata.

    Meski begitu, kemampuan tersebut belum selalu sempurna. Anak tetap bisa merasa takut terhadap monster dalam cerita atau percaya bahwa sesuatu yang dibayangkannya mungkin benar-benar terjadi, terutama ketika sedang merasa cemas.

    Mama dapat membantu dengan menjelaskan perbedaan antara keduanya menggunakan bahasa yang sederhana.

    Jika anak takut dengan monster setelah menonton film, misalnya, Mama bisa menjelaskan bahwa monster tersebut merupakan bagian dari cerita.

    Tidak perlu mematikan imajinasi anak hanya karena ingin mengenalkan realitas. Permainan pura-pura justru tetap menjadi bagian penting dari masa kanak-kanak.

    Mama hanya perlu membantu anak memahami kapan ia sedang bermain dalam dunia imajinasi dan kapan harus kembali pada kenyataan.

  4. 4. Sangat suka aturan, tetapi tidak selalu suka saat aturan berlaku untuk dirinya

    Tidak suka aturan yang ditujukan hanya pada dirinya saja
    Pexels/Gustavo Fring

    Salah satu hal yang menarik dari anak usia 5 tahun adalah ketertarikannya terhadap aturan. Mereka mulai memahami bahwa permainan memiliki aturan dan kehidupan sehari-hari juga memiliki batasan yang perlu diikuti.

    Menariknya, anak bisa sangat cepat menyadari ketika orang lain melanggar aturan. Misalnya, ketika bermain bersama teman, ia mungkin langsung mengatakan bahwa temannya tidak mengikuti giliran atau melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan.

    Namun, ketika aturan tersebut berlaku untuk dirinya, ceritanya bisa berbeda. Anak mungkin tahu bahwa waktu bermain sudah selesai, tetapi tetap meminta tambahan waktu.

    Ia juga bisa memahami bahwa mainan perlu dibereskan, tetapi masih berusaha mencari alasan untuk menundanya.

    Kondisi ini masih wajar karena kemampuan anak dalam mengendalikan keinginan dan emosinya belum berkembang sepenuhnya.

    Mama dapat membantu dengan membuat aturan yang sederhana, jelas, dan konsisten. Ketika anak protes, tetap dengarkan perasaannya tanpa harus langsung mengubah aturan.

    Anak boleh merasa tidak suka dengan sebuah aturan. Dari sini, ia belajar bahwa perasaan tersebut boleh ada, tetapi aturan tetap perlu dihormati.

  5. 5. Mulai memahami bahwa orang lain punya pikiran dan perasaan berbeda

    Anak mulai memahami tentang perasaan orang lain
    Pexels/Trinity Kubassek

    Memasuki usia 5 tahun, anak mulai menyadari bahwa setiap orang bisa memiliki pikiran, keinginan, dan perasaan yang berbeda. Ia perlahan memahami bahwa apa yang membuat dirinya senang belum tentu membuat orang lain merasakan hal yang sama.

    Misalnya, anak mulai mengerti ketika temannya tidak ingin memainkan permainan yang sama. Ia juga bisa mulai memahami bahwa saudara atau temannya merasa sedih ketika mainannya diambil.

    Kemampuan memahami perspektif orang lain merupakan bagian penting dari perkembangan sosial dan emosional anak.

    Meski demikian, jangan berharap anak selalu mampu bersikap penuh empati dalam setiap situasi. Kemampuan tersebut masih perlu dilatih dan berkembang secara bertahap.

    Mama bisa membantu dengan mengajak anak membicarakan perasaan setelah terjadi suatu kejadian. Ketika anak bertengkar dengan temannya, Mama dapat bertanya:

    “Menurut kamu, temanmu merasa bagaimana?”

    Pertanyaan sederhana seperti itu membantu anak belajar melihat situasi dari sudut pandang orang lain. Mama juga dapat memberi contoh dengan menunjukkan cara mengungkapkan perasaan dan memperhatikan perasaan orang di sekitar.

  6. 6. Mulai ingin merasa menjadi bagian dari kelompok

    Tertarik untuk masuk ke dalam lingkaran pertemanan
    Pexels/Kampus Production

    Anak usia 5 tahun mulai semakin tertarik dengan hubungan sosial. Ia mungkin mulai memiliki teman favorit, ingin ikut bermain bersama kelompok tertentu, atau merasa senang ketika memiliki kesamaan dengan teman-temannya.

    Keinginan untuk merasa diterima merupakan bagian dari perkembangan sosial anak.

    Anak sedang belajar bagaimana berteman, bergantian, bekerja sama, mengikuti aturan permainan, dan menyelesaikan konflik dengan orang lain.

    Namun, kebutuhan untuk merasa diterima juga membuat anak bisa lebih sensitif terhadap penolakan. Ketika tidak diajak bermain atau merasa berbeda dari teman-temannya, ia mungkin menunjukkan kesedihan atau kecewa kepada Mama.

    Momen tersebut bisa menjadi kesempatan bagi Mama untuk mengajarkan bahwa setiap orang tidak harus selalu menyukai atau menerima dirinya. Anak juga tidak perlu mengubah dirinya hanya agar bisa diterima dalam sebuah kelompok.

    Mama dapat mengajarkan anak untuk menghargai teman, berani mengajak bermain, sekaligus memahami bahwa tidak semua ajakan akan mendapatkan respons yang diharapkan.

    Dengan dukungan yang tepat, anak dapat membangun hubungan sosial yang sehat sekaligus merasa nyaman dengan dirinya sendiri.

  7. 7. Mulai lebih peka terhadap hubungan dan lingkungan sekitarnya

    Anak akan lebih peka dengan lingkungan sekitarnya
    Pexels/Artem Podrez

    Selain semakin ingin memiliki teman, anak usia 5 tahun juga mulai lebih memperhatikan apa yang terjadi di lingkungan sosialnya.

    Ia dapat mengingat siapa yang bermain dengannya, siapa yang membuatnya tertawa, atau siapa yang membuatnya merasa tidak nyaman.

    Anak juga mulai belajar menyesuaikan perilakunya berdasarkan situasi. Ketika berada di rumah, misalnya, ia mungkin memiliki kebiasaan tertentu.

    Namun, saat berada di sekolah atau bermain bersama teman, ia mulai memahami bahwa ada aturan dan kebiasaan yang perlu diikuti.

    Perkembangan ini menunjukkan bahwa dunia anak mulai meluas. Mama bukan lagi satu-satunya pusat perhatian anak karena ia mulai membangun hubungan dengan guru, teman, saudara, dan orang lain di sekitarnya.

    Mama dapat mendukung proses tersebut dengan sering mengajak anak bercerita tentang pengalaman sehari-harinya.

    Tanyakan siapa yang diajak bermain, apa yang membuatnya senang, atau apakah ada kejadian yang membuatnya tidak nyaman.

    Dengarkan cerita anak tanpa buru-buru menghakimi. Dengan begitu, anak merasa aman untuk berbagi sekaligus belajar mengenali pengalaman dan perasaannya sendiri.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More