Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Hal tentang Antibiotik yang Perlu Mama Pahami, Jangan Asal Berikan!
Pexels/cottonbrostudio
  • Antibiotik hanya efektif melawan infeksi bakteri, bukan virus seperti flu atau batuk biasa, sehingga tidak semua penyakit anak memerlukan antibiotik.
  • Penggunaan antibiotik harus sesuai resep dokter, termasuk menghabiskan dosis yang dianjurkan dan tidak memakai sisa obat dari pengobatan sebelumnya.
  • Pemakaian antibiotik berlebihan dapat menimbulkan efek samping serta risiko resistensi bakteri, sehingga penting bagi orangtua untuk selalu berkonsultasi dengan dokter.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat anak sakit, tidak sedikit orangtua yang berharap antibiotik bisa membuat si Kecil cepat sembuh. Padahal, antibiotik bukanlah obat untuk semua penyakit. Penggunaan yang tidak tepat justru bisa menimbulkan masalah baru, mulai dari efek samping hingga resistensi antibiotik. 

Dilansir dari instagram @dr.lucky.sp.a, ada banyak kesalahpahaman orangtua terhadap penggunaan antibiotik. Beberapa contohnya adalah meminta antibiotik setiap sakit, tidak menghabiskan antibiotik tanpa arahan dokter, hingga memakai sisa antibiotik saat anak kembali sakit. 

Agar tidak salah langkah, berikut Popmama.com rangkum beberapa hal penting yang perlu Mama ketahui tentang penggunaan antibiotik pada anak.

1. Tidak Semua Penyakit Anak Membutuhkan Antibiotik

Pexels/martproduction

Salah satu kesalahpahaman yang masih sering terjadi adalah menganggap semua infeksi harus diobati dengan antibiotik.

Padahal, banyak penyakit yang umum dialami anak, seperti flu, pilek, batuk karena virus, atau common cold, biasanya disebabkan oleh infeksi virus. Dalam kondisi ini, antibiotik tidak akan membantu mempercepat kesembuhan karena obat tersebut hanya bekerja melawan bakteri.

Itulah sebabnya dokter tidak selalu meresepkan antibiotik meski anak sedang demam atau batuk.

2. Demam Tidak Otomatis Berarti Anak Harus Minum Antibiotik

Pexels/wernerpfening

Saat suhu tubuh anak naik, sebagian orangtua langsung khawatir dan menganggap antibiotik adalah solusinya.

Padahal, dokter tidak menentukan kebutuhan antibiotik hanya berdasarkan tinggi rendahnya demam. Ada banyak faktor lain yang perlu dinilai, seperti kondisi pernapasan, kemampuan anak minum, tingkat aktivitas, hingga hasil pemeriksaan fisik.

Jadi, demam selama satu atau dua hari belum tentu menjadi tanda bahwa anak memerlukan antibiotik.

3. Antibiotik Harus Dihabiskan Sesuai Anjuran Dokter

pexels/Gustavofring

Ketika kondisi anak mulai membaik, terkadang orangtua tergoda untuk menghentikan obat lebih cepat.

Padahal, antibiotik sebaiknya tetap diberikan sesuai durasi yang telah ditentukan dokter. Menghentikan pengobatan terlalu dini dapat membuat sebagian bakteri masih bertahan dan berpotensi menyebabkan infeksi muncul kembali.

Karena itu, selalu ikuti aturan minum obat yang telah diberikan oleh tenaga medis.

4. Jangan Memberikan Antibiotik Sisa Pengobatan Sebelumnya

pexels/Vikaglitter

Masih memiliki sisa antibiotik di rumah bukan berarti obat tersebut bisa digunakan kembali saat anak sakit.

Penyebab penyakit yang dialami anak bisa berbeda-beda. Selain itu, dosis dan jenis antibiotik yang cocok untuk satu kondisi belum tentu sesuai untuk kondisi lainnya.

Menggunakan antibiotik tanpa pemeriksaan dokter berisiko membuat pengobatan menjadi tidak tepat sasaran.

5. Antibiotik Bisa Menimbulkan Efek Samping

Pinterest.com/Gustavofring

Seperti obat lainnya, antibiotik juga dapat menimbulkan efek samping pada sebagian anak.

Keluhan yang cukup sering muncul adalah diare, sakit perut, atau perubahan pola buang air besar. Hal ini terjadi karena antibiotik tidak hanya memengaruhi bakteri penyebab penyakit, tetapi juga dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di dalam usus.

Jika anak mengalami diare saat mengonsumsi antibiotik, pastikan kebutuhan cairannya tetap terpenuhi dan konsultasikan ke dokter bila keluhan berlanjut.

6. Penggunaan Antibiotik yang Berlebihan Bisa Menyebabkan Resistensi

pexels/Tima Miroshnichenko

Resistensi antibiotik merupakan kondisi ketika bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik yang sebelumnya efektif.

Akibatnya, saat anak benar-benar membutuhkan antibiotik di kemudian hari, obat tersebut bisa jadi tidak lagi bekerja dengan optimal.

Inilah alasan mengapa antibiotik tidak boleh digunakan sembarangan atau hanya karena ingin anak cepat sembuh.

7. Jangan Ragu Bertanya kepada Dokter

Pexels/LosMuertosCrew

Sebagai orangtua, Mama berhak memahami alasan di balik setiap pengobatan yang diberikan kepada anak.

Jika dokter meresepkan antibiotik, tidak ada salahnya bertanya mengenai tujuan pemberian obat, cara penggunaannya, hingga kemungkinan efek samping yang perlu diperhatikan.

Semakin Mama memahami pengobatan yang dijalani si Kecil, semakin mudah pula untuk memastikan obat digunakan dengan aman dan tepat.

Nah, Ma, antibiotik memang sangat membantu untuk mengatasi infeksi bakteri, tetapi penggunaannya perlu dilakukan dengan bijak. Jangan ragu berkonsultasi dengan dokter jika Mama masih memiliki pertanyaan atau keraguan terkait obat yang diberikan kepada si Kecil.

Editorial Team

Related Article