Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Dosis Obat Penurun Demam Anak yang Tepat dan Aman

Anak demam
Freepik/peoplecreations
Intinya sih...
  • Perbedaan berat badan anak mempengaruhi dosis obat.

  • Minimal 4-6 jam untuk Parasetamol dan 6-8 jam untuk Ibuprofen.

  • Demam pada anak tidak selalu perlu panik, tapi penting tahu kapan harus segera ke dokter.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah Mama panik saat si Kecil demam tinggi? Tubuhnya demam, pipinya memerah, dan Mama bingung harus memberikan obat berapa sendok. Apakah dosisnya sama dengan kakaknya dulu? Atau mungkin cukup setengah saja karena badannya masih kecil?

Pertanyaan seperti ini wajar sekali muncul. Sayangnya, banyak orangtua yang akhirnya memberikan obat berdasarkan "kira-kira" atau mengikuti takaran anak tetangga yang usianya sama. Padahal, dosis obat anak tidak bisa disamakan begitu saja.

Memberikan dosis yang tepat bukan hanya soal membuat demam turun, tapi juga menjaga keamanan organ tubuh si Kecil yang masih berkembang. Dosis yang kurang membuat obat tidak efektif, sementara dosis berlebih bisa membahayakan hati dan ginjalnya.

Berikut Popmama.com jelaskan dosis obat penurun demam anak yang tepat dan aman.

Table of Content

1. Kenapa dosis obat anak tidak bisa disamakan

1. Kenapa dosis obat anak tidak bisa disamakan

Mama memberikan obat
Freepik/gpointstudio

Meskipun usianya sama, berat badan mereka bisa sangat berbeda. Anak usia 3 tahun bisa saja memiliki berat badan 12 kg, 15 kg, atau bahkan 18 kg. Perbedaan ini sangat berpengaruh pada dosis obat yang aman dan efektif untuk tubuh mereka.

Menurut World Health Organization, "larger mg/kg body weight doses of water-soluble drugs need to be given to neonates and infants to achieve plasma concentrations similar to those seen in adults." Artinya, anak justru membutuhkan dosis yang lebih besar per kilogram berat badannya dibanding orang dewasa untuk mencapai efek terapeutik yang sama.

Namun WHO juga mengingatkan bahwa perhitungan ini "has to be balanced against diminished hepatic function and renal elimination before arriving at a final dosage recommendation." Fungsi hati dan ginjal anak yang belum sempurna harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan dosis akhir.

Organ hati bertugas memecah obat, sementara ginjal membuangnya dari tubuh. Pada anak, kedua organ ini masih dalam tahap perkembangan sehingga bekerja lebih lambat dibanding orang dewasa. Jika dosis terlalu tinggi dan diberikan terlalu sering, organ-organ ini harus bekerja terlalu keras dan bisa mengalami kerusakan.

Inilah mengapa memberikan obat berdasarkan "kira-kira" atau hanya melihat usia sangat berisiko.

2. Cara menghitung dosis Parasetamol

Anak demam diberikan obat sirup
Freepik/user18520652

Parasetamol adalah obat penurun demam yang paling umum digunakan untuk anak. Obat ini bekerja dengan cara menurunkan suhu tubuh dan meredakan nyeri ringan hingga sedang.

Parasetamol diberikan dengan dosis 10-15 mg per kg berat badan anak, dengan jarak pemberian 4-6 jam. Maksimal 5 kali dalam sehari. Jangan pernah memberikan parasetamol lebih sering dari itu karena bisa membebani hati dan ginjal anak.

Mari kita lihat contoh perhitungan untuk anak dengan berat badan 10 kg. Dosis yang dibutuhkan adalah 10 kg dikalikan 10-15 mg, sehingga hasilnya 100-150 mg per kali pemberian. Nah, sekarang bagaimana cara mengukurnya dalam bentuk obat cair?

JIka Mama pakai parasetamol drop (konsentrasi 100 mg/ml), dosisnya adalah 1-1,5 ml per kali pemberian. Drop biasanya untuk anak yang masih sangat kecil karena konsentrasinya tinggi dan volumenya sedikit.

Jika menggunakan parasetamol sirup (konsentrasi 120 mg/5 ml), dosisnya sekitar 4-6 ml per kali pemberian. Untuk memudahkan, Mama bisa memberikan 5 ml setiap kali.

Yang penting, selalu gunakan alat takar yang disediakan dalam kemasan obat seperti pipet atau sendok takar. Jangan menggunakan sendok makan rumah karena ukurannya bisa berbeda-beda dan tidak akurat.

3. Cara menghitung dosis Ibuprofen

Mama memberikan obat.
Freepik/prostooleh

Ibuprofen adalah alternatif lain untuk menurunkan demam, terutama jika demam disertai dengan nyeri atau peradangan.

Ibuprofen diberikan dengan dosis 5-10 mg per kg berat badan anak, dengan jarak pemberian 6-8 jam. Maksimal 3 kali dalam sehari. Interval pemberian Ibuprofen lebih panjang dari parasetamol, jadi Mama harus lebih sabar menunggu sebelum memberikan dosis berikutnya.

Untuk anak dengan berat badan 10 kg, dosis yang dibutuhkan adalah 10 kg dikalikan 5-10 mg, sehingga hasilnya 50-100 mg per kali pemberian.

Jika Mama menggunakan Ibuprofen sirup (konsentrasi 100 mg/5 ml), untuk dosis 50 mg berarti perlu 2,5 ml, sedangkan untuk dosis 100 mg perlu 5 ml. Jadi untuk anak seberat 10 kg, dosisnya adalah 2,5-5 ml per kali pemberian.

Ibuprofen sebaiknya diminum setelah makan untuk menghindari iritasi lambung. Pastikan juga si Kecil cukup minum air putih saat mengonsumsi Ibuprofen. Jangan mengombinasikan parasetamol dan Ibuprofen tanpa anjuran dokter, karena bisa membahayakan organ tubuh anak.

4. Selain obat, ini yang boleh dilakukan saat anak demam

Anak diukur suhu menggunakan termometer.
Freepik

Obat penurun demam memang penting, tapi bukan satu-satunya cara untuk membuat si Kecil lebih nyaman saat demam. Ada beberapa langkah pendukung yang bisa Mama lakukan di rumah.

Pertama, anak yang demam tidak harus dipaksa berbaring seharian. Jika si Kecil masih mau bermain atau beraktivitas ringan, biarkan saja. Yang penting jangan sampai kelelahan.

Kedua, kompres air hangat di lipat ketiak dan lipat selangkangan selama 10-15 menit bisa membantu menurunkan demam melalui proses penguapan. Jika suhu tubuh sangat tinggi (di atas 40°C) dan obat belum bekerja, sebaiknya berikan obat penurun demam dulu, tunggu sekitar 30 menit, baru kompres dengan air hangat.

Ketiga, hindari kompres dingin karena justru membuat tubuh menggigil dan suhu malah naik. Kompres alkohol juga berbahaya, uap alkohol yang terhirup bisa menyebabkan gangguan serius seperti penurunan gula darah hingga kehilangan kesadaran.

Keempat, pakaikan baju tipis yang menyerap keringat dan jaga sirkulasi udara ruangan tetap baik. Jangan tutupi anak dengan selimut tebal karena panas akan terperangkap.

Kelima, pastikan anak cukup minum untuk mengganti cairan yang hilang lewat keringat. Berikan air putih, hindari minuman manis atau bersoda.

5. Kesalahan umum orangtua saat memberi obat penurun demam

Anak memegang berbagai jenis obat.
Freepik

Dalam kepanikan menghadapi demam anak, banyak orangtua yang tanpa sadar melakukan kesalahan dalam memberikan obat. Kesalahan-kesalahan ini tampak sepele, tapi dampaknya bisa serius.

Pertama, memberikan obat terlalu sering karena panik. Ini sangat berbahaya untuk hati dan ginjal anak. Obat penurun demam butuh waktu untuk bekerja. Tunggu sesuai interval yang dianjurkan, minimal 4 jam untuk parasetamol dan 6 jam untuk Ibuprofen.

Kedua, mencampur berbagai obat sekaligus. Langsung memberi parasetamol, obat batuk, vitamin, dan obat lain sekaligus tanpa konsultasi dokter. Kombinasi obat yang salah bisa berbahaya, apalagi beberapa obat batuk-pilek anak juga mengandung parasetamol. Bisa jadi dosisnya jadi double tanpa disadari.

Ketiga, menyimpan obat di tempat yang salah. Obat sirup yang disimpan di tempat panas, terkena sinar matahari langsung, atau di kamar mandi yang lembap bisa rusak. Bahkan bisa berubah menjadi zat yang berbahaya. Simpan di tempat sejuk dan kering, jauh dari jangkauan anak.

Keempat, lupa mencatat kapan terakhir memberikan obat. Saat panik dan kurang tidur, mudah lupa kapan terakhir memberikan obat. Akibatnya bisa jadi memberikan obat terlalu cepat atau malah terlambat. Catat di ponsel atau di kertas, jam berapa, obat apa, berapa ml. Ini penting dilakukan untuk mencegah overdosis.

6. Cara aman menyimpan dan menakar obat

P3K
Freepik/8photo

Menyimpan dan menakar obat dengan benar sama pentingnya dengan menghitung dosis yang tepat. Mama perlu tahu cara yang benar agar obat tetap aman dan efektif saat digunakan.

Untuk penyimpanan, simpan obat di tempat yang sejuk, kering, dan terhindar dari sinar matahari langsung. Jauhkan dari jangkauan anak-anak, idealnya di lemari yang bisa dikunci supaya si Kecil tidak bisa mengambilnya sendiri.

Mama juga perlu selalu cek tanggal kedaluwarsa sebelum memberikan obat. Jangan pernah menggunakan obat yang sudah kedaluwarsa karena kandungannya sudah berubah dan bisa berbahaya.

Satu hal lagi yang sering terlupa: catat tanggal pertama kali Mama membuka botol obat sirup. Meskipun tanggal kedaluwarsanya masih lama, obat sirup biasanya hanya tahan 1-3 bulan setelah dibuka.

Saat menakar obat, pastikan Mama melakukannya di tempat yang terang agar bisa melihat skala dengan jelas. Untuk obat drop, tarik pipet perlahan sampai batas yang diinginkan dan pastikan tidak ada gelembung udara yang bisa membuat takaran jadi tidak akurat.

Jika menggunakan obat sirup, letakkan sendok takar di permukaan datar dan lihat skala setinggi mata, jangan dari atas atau bawah karena bisa salah lihat.

7. Kapan anak perlu dibawa ke Dokter

Mama dan anak pergi ke dokter
Freepik/pressfoto

Tidak semua demam pada anak harus membuat Mama panik, tapi penting tahu kapan harus segera ke dokter atau IGD. Demam di atas 38°C perlu diperhatikan karena sistem imun anak masih berkembang dan bisa menandakan infeksi serius. Demam sangat tinggi (≥39,5°C) atau tidak turun meski diberi obat, serta demam yang berlangsung >3 hari, juga harus diwaspadai.

Perhatikan kondisi anak. JIka lemah, sulit dibangunkan, kejang, sesak napas, atau napas cepat, segera bawa ke tenaga medis. Tanda dehidrasi seperti muntah terus-menerus, mulut kering, tidak buang air >6 jam, atau menangis tanpa air mata, juga memerlukan penanganan cepat.

Waspadai gejala lain: ruam atau bintik merah yang tidak hilang saat ditekan, leher kaku, sakit kepala hebat, atau rewel berlebihan tanpa sebab jelas.

Percayai insting Mama, jika merasa ada yang tidak beres, konsultasi dokter lebih aman. Pastikan juga selalu menakar obat anak dengan sendok takar atau pipet agar dosis tepat dan aman.

Apakah Mama sudah menggunakan sendok takar atau pipet untuk menakar obat anak agar dosisnya tepat dan aman?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Kid

See More

Kurikulum Belajar Anak di Rumah, Orangtua sebagai Madrasah Pertama

08 Jan 2026, 10:19 WIBKid
toddler yang aktif

7 Tanda Balita Kurang Tidur

07 Jan 2026, 14:23 WIBKid