“Otak menerima informasi dari berbagai indera seperti mata, telinga, kulit, kemudian informasi tersebut diproses. Jika proses ini terganggu, pengolahan informasi yang diterima anak juga dapat terganggu," jelas Chairunita kepada Popmama.com, Kamis (16/7/2026).
Peran Nutrisi dan Stimulasi Mendukung Perkembangan Otak Anak

- Perkembangan otak anak dipengaruhi oleh aktivitas listrik otak yang mendukung proses belajar, termasuk mielinisasi yang membantu penghantaran sinyal saraf agar informasi dapat diproses lebih efisien.
- Chairunita menegaskan pentingnya kombinasi berbagai zat gizi seperti DHA, ARA, omega-3, dan zat besi yang bekerja sinergis untuk mendukung perkembangan otak secara optimal, bukan hanya fokus pada satu nutrisi.
- Selain nutrisi, stimulasi sesuai usia dan tidur berkualitas berperan besar dalam perkembangan otak anak; orangtua juga diimbau menjadi teladan dalam menerapkan pola hidup sehat bagi si kecil.
Perkembangan otak anak dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari nutrisi, stimulasi, hingga kualitas tidur sehari-hari. Di balik kemampuan anak untuk belajar, mengingat, dan berkonsentrasi, terdapat proses kompleks yang melibatkan aktivitas sel saraf dan penghantaran informasi di dalam otak.
Tak heran, orangtua perlu memahami bahwa dukungan terhadap perkembangan otak anak tidak cukup hanya berfokus pada satu jenis nutrisi saja, melainkan membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.
Dalam wawancara khusus dengan Popmama.com, Chairunita, Wyeth Nutrition S-26 Expert, menjelaskan bagaimana aktivitas listrik otak berperan dalam proses belajar anak, pentingnya kombinasi berbagai zat gizi untuk mendukung perkembangan otak, hingga peran stimulasi dan tidur yang berkualitas.
Ia juga mengulas perbedaan susu sapi A1 dan A2 serta memberikan pesan bagi orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Berikut Popmama.com rangkum peran nutrisi dan stimulasi mendukung perkembangan otak anak agar optimal.
Table of Content
1. Aktivitas listrik otak dalam proses belajar anak

Aktivitas listrik otak berperan dalam proses penyampaian informasi di dalam otak itu sendiri. Ketika penyampaian informasi di otak berlangsung lebih optimal, proses belajar anak juga akan lebih cepat.
Ia menjelaskan bahwa salah satu proses penting dalam perkembangan otak adalah mielinisasi, yaitu pembentukan selubung mielin yang membantu penghantaran impuls saraf menjadi lebih efisien.
"Dalam perkembangan otak ada banyak proses, mulai dari neurogenesis atau pembentukan sel saraf, sinaptogenesis atau pembentukan koneksi antarsel saraf, hingga mielinisasi. Mielinisasi berfungsi mengoptimalkan penghantaran sinyal sehingga informasi dapat diproses lebih efisie,” ungkapnya.
2. Nutrisi bekerja secara sinergis, bukan hanya satu zat gizi

Chairunita menekankan bahwa perkembangan otak tidak hanya bergantung pada satu jenis nutrisi, melainkan kombinasi berbagai zat gizi yang saling melengkapi.
"Fungsi makanan sebagai sumber gizi itu bersifat holistik. Untuk mendukung perkembangan otak, anak membutuhkan kombinasi berbagai zat gizi, seperti sphingomyelin, fosfolipid, alfa-laktalbumin, DHA, ARA, omega-3, omega-6, hingga zat besi. Masing-masing memiliki peran yang berbeda dan tidak bisa bekerja sendiri,” paparnya.
Menurutnya, kekurangan salah satu zat gizi dapat memengaruhi perkembangan otak karena setiap nutrisi memiliki fungsi pada bagian dan proses yang berbeda. Misalnya, kalau hanya fokus pada DHA saja, sementara zat gizi lainnya kurang maka hasilnya juga tidak akan optimal.
Ia juga mengingatkan bahwa klaim manfaat suatu produk sebaiknya didukung oleh penelitian.
"Komposisi nutrisi yang diberikan harus tepat, baik jenis maupun jumlahnya. Untuk mengetahui apakah kombinasi tersebut optimal, tentu harus didukung oleh uji klinis. Jadi bukan sekadar klaim,” tutur Chairunita.
3. Selain nutrisi, stimulasi dan tidur juga berperan penting

Menurut Chairunita, perkembangan otak anak dipengaruhi oleh faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture). Orangtua masih dapat mengoptimalkan faktor lingkungan melalui nutrisi, stimulasi, dan kebiasaan sehari-hari.
"Stimulasi menjadi salah satu faktor yang bisa dimodifikasi. Tidak perlu memberikan stimulasi berlebihan, tetapi sesuaikan dengan usia anak. Hal sederhana seperti mengobrol, bermain bersama, membaca buku, berjalan di taman, hingga membangun bonding dengan anak merupakan bentuk stimulasi yang penting,” paparnya.
Chairunita pun menyoroti pentingnya kualitas tidur anak yang mendukung perkembangan otaknya. Di mana anak yang memiliki tidur berkualitas otaknya juga bisa bekerja lebih optimal.
"Penelitian menunjukkan bahwa gangguan tidur dapat memengaruhi fungsi kognitif anak. Jadi bukan hanya durasi tidur yang penting, tetapi juga kualitas tidur, termasuk apakah anak sering terbangun di malam hari,” ungkapnya.
4. Perbedaan susu sapi A2 dan A1 nih!

Selanjutnya, mengenai pemberian susu anak usia emas yakni 1-5 tahun, Chairunita menjelaskan perbedaan asalnya. Ia menyebut bahwa susu sapi A2 memiliki jenis protein yang berbeda dibandingkan susu yang mengandung protein A1.
"Perbedaannya terletak pada struktur proteinnya. Ketika protein susu dicerna, akan terbentuk senyawa hasil pemecahan protein. Pada sebagian anak yang sensitif terhadap protein A1, kondisi ini dapat memicu keluhan pencernaan seperti kembung, konstipasi, atau diare,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut sering disalahartikan sebagai intoleransi laktosa. Padahal tidak semua anak yang mengalami diare setelah minum susu berarti mengalami intoleransi laktosa. Bisa jadi karena mereka sensitif terhadap protein A1.
"Pada sebagian anak, susu A2 lebih mudah ditoleransi sehingga lebih nyaman untuk sistem pencernaan," jelas Chairunita.
Ia menambahkan bahwa pencernaan yang nyaman membantu proses penyerapan nutrisi berlangsung lebih baik.
"Kita tentu berharap zat gizi yang sudah dikonsumsi dapat diserap secara optimal oleh tubuh. Kalau pencernaannya terganggu, penyerapan nutrisi juga bisa menjadi kurang maksimal,” lanjutnya.
5. Pesan untuk orangtua agar mendukung perkembangan otak si Kecil

Di akhir sesi, Chairunita mengajak orangtua untuk mendukung perkembangan otak anak melalui nutrisi, stimulasi, dan pola pengasuhan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
"Berikan nutrisi yang baik, stimulasi sesuai usia, dan bantu anak mengeksplorasi minat serta bakatnya tanpa memaksakan kehendak. Setiap anak itu unik, sehingga tidak perlu dibandingkan dengan anak lain,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa orang tua merupakan contoh utama bagi anak dalam menerapkan gaya hidup sehat.
"Dalam urusan makan, orangtua harus menjadi role model. Jangan hanya menyuruh anak makan buah dan sayur, tetapi orang tuanya sendiri tidak melakukannya. Anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari,” pungkas Chairunita.
Itulah tadi peran nutrisi dan stimulasi mendukung perkembangan otak anak. Semoga membantu ya!





















