Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Rahasia Menyiapkan Bekal Sekolah yang Mudah dan Antiribet
Popmama.com/Violin Heldina/AI
  • Survei menunjukkan mayoritas ibu merasa kewalahan menyiapkan bekal sekolah, namun bekal bergizi dan disukai anak bisa dibuat praktis tanpa stres berlebih.

  • Damar Wijayanti menyoroti pentingnya memahami selera anak, melakukan persiapan sejak malam, serta fokus pada hal yang bisa dikendalikan agar proses menyiapkan bekal lebih ringan.

  • Susu kental manis disarankan sebagai pelengkap cita rasa makanan, bukan pengganti susu utama, sementara keseimbangan gizi tetap menjadi prioritas dalam setiap menu bekal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menyiapkan bekal sekolah sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi banyak orangtua.

Di tengah kesibukan pagi, Mama harus membagi waktu untuk membangunkan anak, menyiapkan kebutuhan sekolah, hingga memastikan menu bekal yang dibawa tetap bergizi dan disukai anak.

Tak heran jika rutinitas ini kerap terasa melelahkan, apalagi ketika waktu yang dimiliki sangat terbatas.

Kondisi tersebut juga dirasakan oleh banyak keluarga di Indonesia.

Sebuah survei terhadap lebih dari 700 ibu menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen responden mengaku pagi pertama saat anak kembali bersekolah setelah liburan terasa sangat sibuk.

Di sisi lain, hampir separuh ibu mengaku kesulitan menyiapkan bekal, mulai dari mengatur waktu hingga mencari inspirasi menu yang disukai anak.

Padahal, menyiapkan bekal sekolah tidak harus selalu rumit atau menghabiskan banyak waktu.

Mama tetap bisa menghadirkan bekal yang praktis, bergizi, dan membuat si Kecil semangat menyantapnya di sekolah.

Nah, berikut Popmama.com telah merangkum 5 tips yang bisa Mama terapkan agar menyiapkan bekal setiap pagi terasa lebih mudah.

1. Berikan bekal yang benar-benar dimakan anak

Magnific/rawpixel

Menurut Damar Wijayanti, Certified Positive Discipline Parent Educator, bekal terbaik bukanlah bekal yang paling cantik tampilannya, melainkan bekal yang benar-benar dimakan oleh anak.

Padahal, jika makanan tersebut tidak disentuh atau bahkan dibawa pulang dalam kondisi utuh, tujuan menyiapkan bekal tentu belum tercapai.

Setiap anak memiliki selera makan yang berbeda. Ada yang lebih menyukai makanan berkuah, ada pula yang lebih senang makanan praktis seperti roti, nasi kepal, atau pancake.

Karena itu, Mama tidak perlu memaksakan menu yang sedang tren jika ternyata kurang sesuai dengan kesukaan anak.

Yang terpenting adalah tetap memenuhi prinsip gizi seimbang dengan mengombinasikan sumber karbohidrat, protein, sayur, dan buah sesuai kemampuan anak menerimanya.

Makanan sederhana pun bisa dibuat terasa lebih spesial melalui cara pengolahan atau penyajian yang berbeda.

Misalnya, hidangan berkuah dibuat lebih creamy atau camilan sederhana disajikan dengan saus cocolan yang disukai anak.

Pendekatan seperti ini membuat anak lebih tertarik mencoba makanannya tanpa harus mengubah menu favorit mereka secara drastis.

2. Persiapkan bekal sejak malam agar pagi tidak terasa terburu-buru

Pexels/Collab Media

Salah satu tantangan terbesar saat menyiapkan bekal sekolah adalah keterbatasan waktu di pagi hari.

Akibatnya, proses membuat bekal sering terasa melelahkan dan memicu stres sejak awal hari.

Mama bisa mulai untuk membiasakan melakukan food preparation sejak malam sebelumnya. Bukan berarti memasak seluruh menu hingga matang, tetapi menyiapkan hal-hal yang memang bisa dicicil.

Misalnya mencuci dan memotong sayuran, membumbui daging atau ayam, menyiapkan adonan, hingga menata bahan-bahan yang akan digunakan keesokan harinya.

Dengan begitu, waktu memasak di pagi hari menjadi jauh lebih singkat dan Mama bisa lebih fokus pada proses penyelesaian menu.

Selain itu, Mama juga tidak perlu membuat menu khusus yang berbeda dengan makanan keluarga.

Jika menu makan siang keluarga sudah memenuhi kebutuhan gizi, sebagian porsinya dapat disiapkan sebagai bekal anak.

Cara ini tidak hanya menghemat waktu dan tenaga, tetapi juga mengurangi kebiasaan memasak dua kali dalam sehari.

Tak kalah penting, jangan ragu untuk berbagi tugas dengan Papa. Menyiapkan bekal seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya dibebankan kepada Mama.

3. Kenalkan gizi seimbang lewat kebiasaan, bukan dengan paksaan

Freepik

Pada kenyataannya banyak anak memiliki makanan favorit yang cenderung didominasi oleh karbohidrat atau makanan manis, sementara sayuran maupun sumber protein justru sering dihindari.

Kondisi ini kerap membuat Mama khawatir karena kebutuhan nutrisi anak tidak terpenuhi secara optimal.

Anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Ketika seluruh anggota keluarga terbiasa mengonsumsi makanan dengan komposisi yang seimbang, anak pun akan lebih mudah mencontoh kebiasaan tersebut.

Mama juga dapat menyiasati menu agar lebih menarik sesuai dengan preferensi anak.

Misalnya menambahkan potongan buah sebagai pelengkap, menyajikan sayuran dengan bentuk yang lebih menarik, atau mengombinasikannya dengan makanan favorit anak.

Cara ini membantu anak lebih terbuka untuk mencoba makanan baru tanpa merasa dipaksa.

Selain itu, jika anak mengonsumsi camilan atau makanan yang rasanya manis, usahakan untuk menyeimbangkannya dengan makanan yang kaya serat, seperti buah atau sayuran.

Pemilihan camilan sekolah juga sebaiknya tidak didominasi makanan tinggi karbohidrat saja karena dapat membuat anak lebih cepat mengantuk saat mengikuti kegiatan belajar di kelas.

4. Mama tidak perlu mengejar hasil yang berada di luar kendali

Dok. Dairy Champ

Pasti Mama sering merasa kecewa ketika bekal yang sudah disiapkan dengan penuh perhatian justru pulang dalam kondisi masih utuh.

Padahal, mulai dari memilih menu, memasak, hingga menghias bekal membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.

Mama perlu untuk memahami konsep circle of control saat menyiapkan bekal anak.

"Circle of control itu adalah hal-hal yang bisa kita kontrol. Yang paling sering bikin kita stres adalah ketika kita memasukkan hal-hal yang sebenarnya tidak bisa kita kontrol ke dalam circle of control. Jadi, sebaiknya kita fokus pada hal-hal yang memang bisa kita kendalikan," ujar Damar Wijayanti, Certified Positive Discipline Parent Educator.

Konsep ini membantu seseorang membedakan mana hal yang bisa dikendalikan dan mana yang tidak.

Mama dapat mengontrol kualitas bahan makanan, memastikan menu mengandung gizi yang seimbang, memilih makanan yang disukai anak, hingga menyiapkan bekal dengan penuh perhatian.

Namun, apakah anak akan menghabiskan bekalnya atau tidak merupakan keputusan yang berada di luar kendali.

Dengan memahami batas tersebut, Mama dapat mengurangi tekanan yang sering dirasakan setiap kali anak tidak menghabiskan makanannya.

Daripada terus memikirkan hasil akhirnya, lebih baik fokus pada usaha yang sudah dilakukan.

Seiring waktu, Mama juga bisa mengevaluasi menu mana yang paling disukai anak dan melakukan penyesuaian tanpa harus merasa gagal.

5. Susu kental manis dapat menjadi pelengkap untuk membuat makanan lebih menarik

Dok. Dairy Champ

Dodi Afandi, Head Marketing PT Etika Beverages Indonesia, menjelaskan bahwa susu kental manis dapat diposisikan sebagai bahan pelengkap (ingredient) untuk memperkaya cita rasa makanan dan minuman, bukan sebagai pengganti susu.

Kehadirannya dapat memberikan cita rasa yang lebih creamy dan lezat pada hidangan, misalnya sebagai campuran adonan pancake, pelengkap aneka kue, saus cocolan, hingga berbagai hidangan penutup.

Bahkan, untuk beberapa masakan berkuah, susu evaporasi juga dapat menjadi alternatif untuk menciptakan tekstur yang lebih lembut tanpa harus menggunakan santan dalam jumlah banyak.

Meski demikian, Mama tetap perlu memahami bahwa kebutuhan gizi harian anak tidak bisa hanya bergantung pada satu jenis bahan makanan.

Anak membutuhkan asupan karbohidrat sebagai sumber energi, protein untuk mendukung pertumbuhan, lemak sehat, vitamin, mineral, serta serat dari sayur dan buah agar tumbuh kembangnya optimal.

Karena itu, penggunaan susu kental manis sebaiknya diposisikan sebagai pelengkap yang memperkaya cita rasa makanan, bukan sebagai sumber nutrisi utama.

Bekal terbaik bukanlah yang paling mewah, melainkan bekal yang dibuat dengan perhatian dan benar-benar dinikmati oleh anak.

Sebagai tambahan inspirasi, Mama juga bisa mengeksplorasi berbagai ide resep bekal yang dibagikan Dairy Champ melalui sosial medianya, sehingga menu bekal anak tidak mudah membosankan.

Itulah 5 tips agar tidak ribet saat menyiapkan bekal untuk anak. Kalau menurut Mama, apa rahasia agar bekal sekolah selalu habis dimakan anak?

Curated For You

Editorial Team

Related Article