Anak Sering Tantrum? Bisa Jadi Cerminan Cara Mama Mengelola Emosi

- Anak mempelajari pengendalian emosi dengan meniru respons orangtua; ketenangan saat menghadapi tantrum memberi contoh pengolahan frustrasi tanpa agresi.
- Sikap menghargai berkembang ketika orangtua menghormati batasan, tubuh, dan emosi anak, sekaligus menghindari pengulangan pola pengasuhan keras dari generasi sebelumnya.
- Regulasi emosi dan kontrol impuls perlu diajarkan bertahap; orangtua dianjurkan menenangkan diri, hadir membimbing, serta meminta maaf dan memulihkan hubungan setelah lepas kontrol.
Melihat si Kecil mendadak tantrum hebat di tempat umum tentu bisa membuat dada terasa sesak. Di tengah situasi yang kacau tersebut, biasanya apa yang akan Mama lakukan?
Mungkin ada yang ikut tersulut emosi, berteriak, atau menganggap anak mama sengaja "menguji kesabaran". Namun, pernahkah Mama merasa bahwa makin panik dan marah respon orangtua, justru amukan anak malah makin menjadi-jadi?
Secara psikologis, anak adalah peniru ulung yang menyerap respon emosional dari lingkungan terdekatnya. Ibarat spons cuci piring, ia menyerap energi di sekitarnya.
Sering kali, reaksi anak saat menghadapi rasa frustrasi bukanlah tanda bahwa ia nakal, melainkan cerminan dari bagaimana orang-orang di sekitarnya mengelola stres.
Sebelum buru-buru menyalahkan perilakunya, mari pahami bagaimana emosi orangtua memiliki peran besar dalam membentuk kestabilan emosi anak. Berikut sudah Popmama.com rangkum informasinya.
Table of Content
1. Anak belajar mengontrol emosi dengan meniru respons Mama

Pexels/Barbara Olsen Saat si Kecil mulai menjerit hebat, perhatian utama Mama kerap tertuju pada cara menghentikan tangisannya secara instan. Padahal, anak belum memiliki kemampuan bawaan untuk menenangkan diri.
Menurut pakar pengasuhan anak Devon Kuntzman, pendiri platform edukasi Transforming Toddlerhood, anak belajar mengontrol perilaku dan impuls dengan mengamati cara orangtua mengendalikan amarah saat menghadapi situasi menantang.
Prinsip ini sejalan dengan pandangan Dr. Daniel Siegel dalam bukunya, Parenting From the Inside Out. Siegel menegaskan bahwa kesadaran diri orangtua merupakan kunci utama.
Saat Mama mampu menarik napas dalam dan mengontrol diri alih-alih ikut berteriak, anak mama sedang menyerap pelajaran nyata mengenai proses mengolah emosi yang memuncak. Sebaliknya, jika amarah dibalas bentakan, anak akan menyimpulkan bahwa rasa frustrasi memang harus dilepaskan secara agresif.
2. Anak belajar sikap menghargai saat mama menghormati batasannya

Pexels/Barbara Olsen Membentuk karakter anak yang sopan dan mau mendengarkan orangtua sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi para Mama. Namun, sikap saling menghargai bukanlah keterampilan yang bisa ditanamkan lewat paksaan atau ancaman.
Devon Kuntzman menjelaskan bahwa anak belajar menghargai orang lain dengan mengamati cara orangtua menghormati batasan, hak atas tubuh, serta emosi yang sedang dirasakan anak.
Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran Mark Wolynn dalam bukunya, It Didn't Start With You. Wolynn mengungkapkan bahwa sebagian besar pola reaksi emosional dan cara mengasuh anak merupakan warisan dari generasi sebelumnya.
Jika di masa lalu Mama terbiasa dibentak atau dipaksa menurut tanpa didengar, refleks tersebut rentan terulang kepada si Kecil. Dengan mulai mendengarkan emosi anak mama dan tidak memaksakan kehendak secara kasar, Mama sedang memutus rantai pengasuhan yang kaku.
3. Cara mama merespons stres menjadi regulasi diri anak

Pexels/Barbara Olsen Saat si Kecil mulai mengamuk di tengah keramaian, respon apa yang akan Mama lakukan? Ternyata anak akan mengingat respon pertama kali Mama tunjukkan kepadanya.
Mengutip dari Transforming Toddlerhood, anak belajar cara meregulasi emosi dengan mengamati orangtua merespons situasi penuh tekanan secara tenang, serta mempraktikkan.
Kondisi ini dijelaskan secara ilmiah oleh Dr. Bessel van der Kolk dalam bukunya, The Body Keeps the Score. Van der Kolk mengungkapkan bahwa reaksi tubuh dan sistem saraf terhadap stres sangat dipengaruhi oleh memori pengalaman masa lalu.
Ketika anak tantrum, jeritannya dapat secara otomatis mengaktifkan alarm bahaya di otak Mama, sehingga tubuh meresponsnya sebagai ancaman darurat. Oleh karena itu, kunci utama menenangkan anak adalah dengan menenangkan sistem saraf Mama terlebih dahulu.
Sebelum merespon anak mama, luangkan waktu sepersekian detik untuk menarik napas dalam, merilekskan bahu, dan menyadari bahwa situasi ini bukanlah kondisi darurat yang harus dibalas bentakan.
Ketika Mama menunjukkan cara mengolah stres secara sehat dan tidak ragu mengambil jeda saat lelah, anak mama sedang belajar cara paling efektif untuk mengelola emosi negatif.
4. Mengontrol impuls adalah ketrampilan yang perlu diajarkan, bukan bawaan lahir

Pexels/Barbara Olsen Memukul, menggigit, hingga tantrum merupakan tantangan yang kerap menguji kesabaran orangtua. Ketika si Kecil melakukan tindakan ini, Mama mungkin refleks melabeli nakal.
Padahal, Devon Kuntzman menekankan bahwa kemampuan mengontrol impuls dan meregulasi emosi bukanlah bakat alami anak, melainkan ketrampilan yang harus diajarkan secara bertahap oleh orangtua.
Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Dr. Gabor Maté dalam bukunya, Hold On to Your Kids. Maté mengingatkan bahwa anak tidak membutuhkan orangtua yang sempurna, melainkan yang hadir secara utuh untuk membimbingnya di masa-masa sulit.
Saat otak anak yang belum matang kewalahan oleh emosi besar, ia tidak bisa mengendalikan refleks fisiknya. Di sinilah peran Mama untuk hadir sebagai pelindung dan pengajar, bukan pihak yang memperkeruh suasana dengan hukuman fisik atau ancaman.
5. Ucapkan permintaan maaf jika Mama terlanjur lepas kontrol

Pexels/Kampus Production Membimbing anak yang sedang tantrum memang sangat menguras energi. Mengutip pesan dari Transforming Toddlerhood, ketika terlanjur membentak atau kehilangan kesabaran, hal tersebut tidak lantas membuat Mama menjadi orangtua yang buruk. Mama hanya manusia biasa, dan hal terpenting adalah tindakan pemulihan yang dilakukan setelah emosi mereda.
Proses pemulihan hubungan merupakan kunci utama untuk menyembuhkan luka emosional anak mama setelah konflik.
Ketika kondisi Mama dan si Kecil sudah tenang, hampiri dan berikan pelukan hangat, lalu sampaikan permohonan maaf secara jujur. Mama bisa berkata,
"Maaf ya, Nak. Tadi Mama sempat berteriak karena lelah. Berteriak itu tidak baik, dan Mama akan belajar untuk lebih tenang."
Langkah sederhana ini mengajarkan nilai emosional yang berharga bagi anak mama, yaitu mengakui kesalahan secara bijak.
Itulah informasi mengenai hubungan antara anak tantrum dan regulasi emosi orangtua. Mengasuh anak yang sedang aktif-aktifnya memang menguji kesabaran. Namun, ingatlah bahwa emosi si Kecil yang meledak-ledak bukanlah tanda ia nakal, melainkan caranya belajar mengenali perasaan. Apakah Mama pernah mengalami momen sulit saat menghadapi tantrum anak di rumah?





















