Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Anak Paling Rentan Terpapar Abu Vulkanik, Ini 5 Cara Melindunginya!

Anak Paling Rentan Terpapar Abu Vulkanik, Ini 5 Cara Melindunginya!
Instagram.com/seputarjawabarat.id
  • Anak lebih rentan terhadap abu vulkanik karena saluran napas masih berkembang; partikel silika dapat mengiritasi dan memperberat asma.
  • Saat hujan abu, anak sebaiknya di dalam rumah; tutup pintu-jendela, bersihkan dengan pel basah, serta lindungi air dan makanan dari kontaminasi.
  • Jika harus keluar, gunakan masker sesuai usia, lindungi mata dan kulit, dukung emosinya, serta segera cari bantuan medis bila muncul gangguan pernapasan atau tanda bahaya lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ketika hujan abu vulkanik terjadi, banyak orangtua mungkin bertanya-tanya apakah anak masih aman bermain di luar rumah. Menurut dr. Lucky Yogasatria, Sp.A., jawabannya adalah tidak.

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa yang mudah dibersihkan, tetapi mengandung partikel yang dapat berdampak pada kesehatan, terutama pada anak-anak yang masih dalam masa tumbuh kembang.

Selain mengganggu pernapasan, paparan abu vulkanik juga dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, hingga memicu gangguan psikologis akibat situasi bencana yang dialami anak.

Karena itu, penting bagi orangtua untuk memahami cara melindungi si Kecil saat kualitas udara memburuk akibat aktivitas vulkanik.

Berikut Popmama.com telah merangkum 5 hal yang perlu Mama ketahui tentang bahaya paparan abu vulkanik pada anak. Yuk, simak!

  1. 1. Anak lebih rentan terdampak abu vulkanik dibandingkan orang dewasa

    Risiko paparan abu vulkanik lebih rentan terjadi pada anak
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Abu vulkanik berbeda dengan debu rumah biasa. Partikel halus yang terkandung di dalamnya mengandung silika kristalin dan dapat mengiritasi:

    • mata,
    • hidung,
    • tenggorokan,
    • saluran pernapasan.

    Risiko ini menjadi lebih besar pada anak karena sistem pernapasan mereka masih berkembang.

    "Anak memiliki saluran napas yang masih berkembang. Mereka juga bernapas lebih cepat dibandingkan orang dewasa dan menghirup lebih banyak udara dibandingkan ukuran tubuhnya. Karena itu, paparan partikel udara dapat memberikan dampak yang lebih besar pada anak," jelas dr. Lucky.

    Anak yang memiliki riwayat asma juga perlu mendapat perhatian khusus. Paparan abu vulkanik dapat memicu kambuhnya gejala asma dan membuat kondisi pernapasan menjadi lebih berat.

    Dalam jangka panjang, paparan partikel abu vulkanik secara terus-menerus juga berisiko menyebabkan gangguan paru kronis yang dikenal sebagai Pneumonoultramicroscopicsilicovolcanoconiosis (PUSVC).

  2. 2. Sebaiknya anak tetap berada di dalam rumah

    Jaga kesehatan anak dengan tetap beraktivitas di dalam rumah
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Ketika abu vulkanik mulai turun atau kualitas udara memburuk, aktivitas di luar rumah sebaiknya ditunda terlebih dahulu. Bermain di taman, berolahraga, atau perjalanan yang tidak mendesak dapat menambah risiko paparan partikel abu pada anak.

    Mama juga dianjurkan untuk menutup rapat pintu dan jendela agar abu tidak masuk ke dalam rumah. Jika terdapat celah, bisa ditutup menggunakan lakban untuk mengurangi masuknya partikel dari luar.

    Untuk membersihkan rumah, gunakan pel basah dan hindari menyapu lantai dalam kondisi kering. Menyapu justru membuat abu kembali beterbangan dan terhirup oleh anggota keluarga.

    Selain itu, tandon dan wadah penyimpanan air perlu ditutup, sementara sayur dan buah yang berasal dari luar rumah sebaiknya dicuci lebih teliti sebelum dikonsumsi.

  3. 3. Gunakan masker yang sesuai usia jika harus keluar rumah

    Wajib menggunakan masker ketika mengharuskan keluar rumah
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Dalam kondisi tertentu, anak mungkin tetap harus keluar rumah. Jika hal tersebut tidak bisa dihindari, penggunaan masker yang tepat menjadi langkah perlindungan penting.

    IDAI menyarankan anak yang lebih besar menggunakan masker N95 atau KN95 yang pas di wajah. Masker tidak boleh terlalu longgar maupun terlalu besar karena efektivitasnya akan berkurang.

    Sementara itu, bayi dan balita kecil tidak dianjurkan menggunakan masker N95 karena berisiko mengganggu pernapasan mereka.

    Bagi anak yang memiliki asma, obat pelega napas sebaiknya selalu dibawa saat bepergian. Jika masker N95 atau KN95 tidak tersedia, masker bedah berlapis atau kain lembap masih lebih baik dibandingkan tidak menggunakan perlindungan sama sekali.

  4. 4. Lindungi mata, kulit, dan kondisi emosional anak

    Berikan perlindungan pada anak agar tidak terkena paparan dari abu
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Paparan abu vulkanik juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Jika mata anak terasa perih atau kemerahan, segera bilas menggunakan air bersih yang mengalir dan hindari mengucek mata karena dapat memperparah iritasi.

    Saat terpaksa keluar rumah, anak sebaiknya mengenakan:

    • pakaian yang menutupi sebagian besar tubuh
    • menggunakan kacamata pelindung atau goggle untuk mengurangi kontak langsung dengan abu.
    • setelah kembali ke rumah, segera mandi dan ganti pakaian agar partikel yang menempel tidak terus terhirup.

    Selain kesehatan fisik, kesehatan mental anak juga perlu diperhatikan. Menurut IDAI, situasi bencana dapat memicu stres, kecemasan, bahkan gejala PTSD subklinis pada sebagian anak.

    Karena itu, jelaskan kondisi yang sedang terjadi dengan bahasa yang mudah dipahami sesuai usia anak dan validasi perasaan takut yang mereka rasakan.

  5. 5. Kenali tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis

    Cari bantuan medis jika anak sudah menunjukkan gejala-gejalanya
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Orangtua perlu segera mencari bantuan medis jika anak menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan setelah terpapar abu vulkanik. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain:

    • sesak napas,
    • napas menjadi lebih cepat dari biasanya,
    • batuk yang tidak kunjung berhenti.

    Mama juga perlu memperhatikan jika bibir atau ujung jari anak tampak kebiruan karena kondisi tersebut dapat menjadi tanda tubuh kekurangan oksigen. Pada anak dengan asma, gejala yang muncul sering kali lebih berat sehingga memerlukan penanganan yang lebih cepat.

    Selain itu, mata yang tetap merah, nyeri, atau perih meskipun sudah dibilas juga sebaiknya diperiksakan ke dokter. Pada bayi, tanda seperti malas menyusu, tampak lemas, atau kurang responsif juga tidak boleh diabaikan karena bisa menjadi sinyal bahwa tubuhnya sedang mengalami gangguan akibat paparan abu vulkanik.

    Itulah 5 hal yang perlu Mama ketahui tentang bahaya abu vulkanik bagi anak.

    Mengingat anak merupakan kelompok yang lebih rentan terhadap paparan partikel udara, langkah pencegahan sejak dini sangat penting dilakukan agar kesehatan mereka tetap terjaga selama terjadi hujan abu vulkanik.

    Jangan lupa tetap jaga kesehatan ya, Ma!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More