Kalimat retardasi mental mungkin masih cukup asing di telinga sebagian besar masyarakat. Di dunia pendidikan Indonesia, retardasi mental lebih dikenal sebagai tuna grahita.
Pada dasarnya, retardasi mental adalah sebuah kondisi di mana seseorang memiliki kemampuan intelektual di bawah rata-rata, yakni IQ di bawah 70 dan terdapat gangguan dalam perilaku adaptif 1.
Perilaku adaptif sendiri merupakan kemampuan seseorang dalam membina hubungan sosial dan menyelesaikan permasalahan kehidupan sehari-hari, seperti menggunakan transportasi umum, menggunakan uang untuk berbelanja, dan sebagainya.
Dalam beberapa kasus, penyandang retardasi mental biasanya memiliki gangguan lainnya, seperti down syndrome, fragile-x syndrome, dan lain-lain.
Dulu, banyak pakar yang mempercayai bahwa anak dengan retardasi mental tidak dapat mengalami peningkatan kemampuan dan sama sekali tidak bisa disembuhkan.
Namun, saat ini anggapan tersebut perlahan-lahan mulai diubah. Penanganan dan pendampingan yang tepat pada anak dengan retardasi mental dapat membuatnya bertindak secara mandiri.
Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa anak dengan retardasi mental kategori ringan dapat dilatih untuk mencapai kemampuan layaknya orang normal.
Beberapa ahli mengatakan bahwa baik-buruknya perkembangan kemampuan anak dengan retardasi mental sangat bergantung pada lingkungan di sekitarnya.
Dalam hal ini, keluarga memiliki peran paling besar untuk membantu anak menjadi mandiri.
Orangtua dan saudara juga harus mampu menerima kondisi keterbatasan anak untuk menerapkan pengasuhan yang tepat sesuai kebutuhan mereka.
Memang, mengasuh dan mendidik anak dengan retardasi mental bukanlah hal yang mudah.
Namun sebagai orangtua, Mama dan Papa harus tetap berusaha agar si Kecil dapat tumbuh seperti anak lain pada umumnya.
Dilansir dari webmd.com, berikut Popmama.com telah merangkum 5 tips dasar merawat anak dengan retardasi mental.
