8 Alasan Ikan Sapu-Sapu Harus Dimusnahkan

- Ikan sapu-sapu yang berasal dari Amerika Selatan kini menjadi hama invasif di Indonesia, mengganggu keseimbangan rantai makanan dan mengancam spesies ikan lokal.
- Aktivitas menggali tanah dan menempel pada bebatuan membuat ikan sapu-sapu merusak habitat sungai, menyebabkan erosi, air keruh, hingga mempercepat longsor di bantaran sungai.
- Ikan ini menurunkan nilai ekonomi perairan karena tidak layak konsumsi akibat kandungan logam berat, sehingga pemerintah bersama masyarakat berupaya memusnahkannya sesuai aturan resmi.
Ikan sapu-sapu yang awalnya dikenal sebagai hewan pembersih aquarium kini justru mengancam ekosistem perairan lokal.
Hewan dengan nama asli Hypostomus plecostomus ini merupakan hama yang perlu dimusnahkan karena jumlahnya yang semakin banyak mengancam hewan lokal di perairan Indonesia.
Peneliti BRIN juga mendukung gerakan pemusnahan ikan sapu-sapu seperti yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Pemusnahan jenis ikan berbahaya dan merugikan perairan tanah air ini juga diatur dalam Permen Kelautan dan Perikanan No.19 Tahun 2020.
Sudah tahu dampak negatif ikan sapu-sapu hingga mengancam perairan Indonesia?
Berikut ini Popmama.com telah merangkum dampak negatif ikan sapu-sapu bagi ekosistem alam. Yuk, disimak!
Table of Content
1. Mengganggu keseimbangan rantai makanan

Pelepasan ikan sapu-sapu ke alam menimbulkan berbagai dampak negatif untuk perairan, salah satunya mengganggu keseimbangan rantai makanan. Hal ini dikarenakan ikan sapu-sapu alga, detritus (sisa organisme), bahkan telur ikan lain.
Mengutip dari laman IPB University, predator alami ikan sapu-sapu adalah ikan Common Snook (Centropomus undecimalis), ikan Tarpon (Megalops atlanticus), buaya Spectacled Caiman (Caiman crocodilus), dan burung Neotropic Cormorant (Phalacrocorax brasilianus) yang tidak terdapat di perairan Indonesia.
Kondisi ini menyebabkan populasinya tidak terkendali dan mengganggu keseimbangan rantai ekosistem perairan tawar.
2. Merusak habitat dasar sungai

Ikan sapu-sapu biasanya mengeruk dan membuat lubang atau sarang di tanah sekitar sungai saat mencari makanan atau menyimpan telurnya. Hewan ini juga memakan lumut, alga, detritus (sisa organik) sehingga mengancam habitat dasar sungai.
Selain itu, lubang yang dibuat ikan sapu-sapu juga dapat menyebabkan erosi pada tebing sungai hingga mempercepat longsornya tanah di pinggiran sungai.
3. Mengancam spesies asli sungai

Ikan sapu-sapu bukanlah asli Indonesia, asalnya dari perairan tawar di Amerika Selatan, seperti di Sungai Amazon, Argentina Utara, Paraguay, dan Uruguay.
Sifatnya yang invasif dan kemampuan adaptasinya yang tinggi membuat ikan sapu-sapu mengancam spesies asli sungai. Hal ini yang akhirnya memicu Pemprov DKI Jakarta berupaya memusnahkan ikan invasif ini karena telah menggeser posisi ikan lokal di perairan ini.
4. Mengeruhkan air

Aktivitas ikan sapu-sapu yang sering menggali tanah di bantaran air bukan hanya memicu tanah longsor, tetapi juga membuat air menjadi keruh. Partikel tanah yang dikeruk atau jatuh dari bantaran sungai membuat air menjadi keruh.
Meskipun memakan alga, ikan sapu-sapu juga menghasilkan kotoran yang banyak dan dapat memperburuk kualitas air pada ekosistem yang sempit.
5. Memicu tanah longsor

Ikan sapu-sapu biasanya menyimpan telurnya di tanah yang digali di pinggiran sungai. Jika populasinya semakin banyak, tentu hal ini dapat berisiko memicu tanah longsor di bantaran sungai.
Tanah yang semakin longsor di bantaran sungai ini juga akan mempercepat sedimentasi sungai, yang nantinya perairan semakin dangkal dan meningkatkan risiko banjir.
6. Merusak bebatuan dan tanaman air

Ikan sapu-sapu memiliki mulut yang berbentuk pengisap yang kuat untuk menempel pada permukaan keras (batu) dan mengikis alga atau mikroorganisme yang menempel. Kebiasaan ini dapat menyebabkan kerusakan pada bebatuan dan tanaman air jika populasi ikan sapu-sapu semakin tinggi.
Bukan hanya itu, ikan asal Amerika Latin ini juga kerap menggesek, menghisap, hingga mencabut tanaman kecil saat bergerak mencari makanan. Hal ini dapat mengakibatkan akar tanaman menjadi rusak dan menurunkan kerapatan vegetasi perairan.
7. Mengurangi nilai ekonomi perairan

Selain merusak ekosistem alami perairan, ikan sapu-sapu juga dapat mengurangi nilai ekonomi perairan. Hal ini dikarenakan ikan sapu-sapu memiliki kulit yang keras dan tidak dapat dimakan.
Ikan sapu-sapu juga tidak disarankan dikonsumsi karena biasanya hidup di perairan yang penuh polutan. Ikan sapu-sapu yang kerap tersangkut di jaring nelayan dalam jumlah besar dapat merugikan nelayan sehingga perairan dengan ikan sapu-sapu semakin tidak diminati.
8. Bisa hidup di sungai kotor dan bahaya dikonsumsi

Kemampuan bertahan hidup yang tinggi membuat ikan sapu-sapu juga dapat hidup di perairan yang kotor dan penuh logam berat seperti merkuri, timbal, hingga parasit. Ikan ini menyerap kotoran yang ada di perairan sehingga dagingnya bahaya dikonsumsi.
Peneliti BRIN juga menegaskan bahwa daging ikan sapu-sapu diduga mengandung logam berat sehingga dapat berdampak negatif pada kesehatan apabila dikonsumsi.
Itu dia dampak negatif ikan sapu-sapu bagi ekosistem alam. Pemerintah tengah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi populasi hewan invasif ini.
Upaya ini akan berhasil dengan peran masyarakat yang ikut membasmi dan tidak melepas ikan sapu-sapu sembarangan ke perairan, Ma.
FAQ Seputar Ikan Sapu-Sapu
| Ikan sapu-sapu apakah bisa dimakan? | Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp.) bisa dimakan, namun sangat tidak disarankan jika berasal dari sungai atau perairan yang tercemar. |
| Ikan sapu-sapu manfaatnya apa? | Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys sp.) memiliki dua manfaat utama: pembersih akuarium yang memakan alga/lumut, dan sumber protein alternatif (lebih dari 20%) yang dapat diolah menjadi makanan seperti kerupuk atau nugget. |
| Kenapa ikan sapu-sapu susah mati? | Secara fisik, ikan sapu-sapu dilengkapi pelat keras yang menyerupai armor. Struktur ini memberikan perlindungan ekstra terhadap serangan predator maupun kondisi lingkungan yang keras. |


















