Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Anggun C. Sasmi Ungkap Sisi Lain soal Kerasukan di Film Para Perasuk
imdb.com
  • Film Para Perasuk menampilkan kerasukan sebagai bentuk pelarian emosi dan hiburan kolektif, bukan sekadar fenomena mistis yang menakutkan.
  • Anggun C Sasmi menjelaskan bahwa fenomena kerasukan memiliki kesamaan lintas budaya dan film ini berusaha menampilkan perspektif yang lebih terbuka serta sensitif terhadap konteks sosial.
  • Sebagai Guru Asri, Anggun membawa isu sosial penting dalam cerita, menjalani latihan intens selama tiga bulan, dan menggambarkan karakter tegas namun menyimpan sisi rapuh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Anggun C Sasmi berperan sebagai Guru Asri di film Para Perasuk. Film karya Wregas Bhanuteja itu melihat fenomena kerasukan dari sisi yang lain. Biasanya kerasukan identik dengan horor, tetapi di film ini seperti dijelaskan Anggun justru sangat berbeda.

Di film Para Perasuk makna dari kerasukan punya sudut pandang unik karena kerasukan itu digambarkan sebagai bagian dari hiburan dan pelarian emosi. Anggun juga membagikan bagaimana ia menafsirkan konsep “perasuk”, proses pendalaman karakter, hingga isu sosial yang tersirat di balik cerita. 

Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.

1. Kerasukan sebagai pelarian emosi, bukan sekadar mistis

imdb.com

Film Para Perasuk memaknai kerasukan bukan soal roh atau hal gaib, tetapi sebagai bentuk pelarian dari tekanan hidup. Saat diwawancara Popmama.com, Anggun menjelaskan jika fenomena kerasukan ini menjadi medium untuk melepaskan emosi yang terpendam, bahkan memberi rasa lega bagi pelakunya.

“Jadi kerasukan di sini adalah semacam satu pelarian sih, kayak escapism. Karena orang-orang yang dirasuki itu setelah selesai, mereka tuh senang. Kayak habis stress release gitu,” tutur Anggun.

Dalam konteks cerita filmnya, orang yang kerasukan ini dijadikan hiburan kolektif di sebuah desa. Kerasukan bukan lagi sesuatu yang menakutkan, melainkan aktivitas yang dinanti seperti pesta yang menjadi sarana rekreasi emosional bagi masyarakat.

2. Kerasukan dan fenomena lintas budaya

Instagram.com/filmparaperasuk

Menurut Anggun, praktik seperti kerasukan sebenarnya tidak hanya ada di Indonesia. Ia melihat ada benang merah dengan berbagai tradisi di dunia yang sama-sama melibatkan kondisi trance atau perubahan kesadaran.

“Sebenarnya ini cross culture sih karena ada juga di Amerika Latin, di Afrika. Film ini punya satu collective energy yang kita nggak bisa dijelaskan tapi bisa kita rasakan,” tuturnya.

Meski begitu, pendekatan film tetap berusaha menjaga sensitivitas budaya yang ada. Alih-alih menghakimi, kerasukan yang masuk dalam unsur utama cerita justru membuka ruang bahwa fenomena ini bisa dipahami dari banyak sisi dan tidak selalu negatif.

3. Guru Asri membawa isu sosial tersirat dalam cerita

imdb.com

Jika dibandingkan dengan karakter Angga Yunanda atau Maudy Ayunda, Anggun C. Sasmi sebagai Guru Asri lebih sedikit di layar. Namun, karakter yang dimainkan Anggun ini bukan pula sekedar figur dalam dunia Para Perasuk. 

Seperti yang sudah banyak beredar kalau film ini dilihat sebagai salah satu kritik sosial. Di mana Guru Asri juga punya sedikit peran dari isu sosial yang lebih besar dalam film ini. Perannya terhubung dengan sebuah gerakan yang menjadi inti konflik cerita.

“Di film itu ada satu isu sosial yang diangkat dan Guru Asri merupakan salah satu yang mempelopori movement,” tutur Anggun.

Wregas Bhanuteja sebagai sutradara memang dikenal kerap mengangkat fenomena sosial. Karakter Guru Asri di film ini layak dilihat sebagai ‘pencetus’, tetapi Anggun mengatakan ia tidak kamu membocorkan lebih dalam mengenai pengaruh Guru Asri ini.

“Dengan karakter Bu Asri ini kan jadi guru para perasuk tadi. Dia menghimbau para perasuk itu supaya jadi ada ‘satu misi’ yang aku nggak bisa kasih tahu. Harus ditonton tangan 23 April 2026 nanti di bioskop,” pungkasnya.

4. Kolaborasi dan latihan intens membentuk interpretasi karakter

Instagram.com/chiccokurniawan

Untuk membangun karakter yang kuat, Anggun dan para pemain menjalani proses latihan panjang sebelum syuting. Hal ini penting karena dunia cerita yang diangkat cukup berbeda dari kehidupan sehari-hari para aktor.

Anggun menyebut ia dan aktor yang terlibat di film Para Perasuk melakukan workshop selama 3 bulan. Mulai dari reading, melatih aksen Betawi pinggir, koreografi ‘kerasukan’ hingga penyesuain fisik.

“Latihan (workshop) itu membantu banget. Aku bersyukur di film pertama ini dapat sutradara yang suka latihan. Jadi pas kita shooting, kita tuh sudah tahu masing-masing yang diharapkan sama dia itu apa,” jelas Anggun.  

Selain itu, Anggun juga menekankan pentingnya kepercayaan terhadap visi sutradara. Baginya, kolaborasi menjadi kunci agar karakter bisa terasa utuh di layar.

5. Karakter Guru Asri: Keras di luar, rapuh di dalam

imdb.com

Anggun memberikan sedikit gambaran mengenai karakternya, Bu Asri. Perempuan kelahiran 1974 ini mengaku karakter Bu Asri memang tidak mengalami transformasi besar dari awal hingga akhir film. 

Namun, karakter ini menarik karena memiliki lapisan emosi yang kompleks. Ia digambarkan sebagai sosok yang tegas, tetapi menyimpan sisi rapuh yang tidak selalu terlihat.

“Guru Asri itu memang digambarkan sebagai sosok yang sangat otoriter dan keras. Tapi, ada beberapa adegan di film ini yang kalau penonton jeli bisa melihat bahwa dia sebenarnya tidak sekeras itu. Ada sisi lain yang muncul, meski hanya sekilas, seperti fragmen kecil yang menunjukkan bahwa dia juga punya kelembutan,” tutur Anggun.

6. Memerankan karakter yang berbeda, ini cara Anggun riset!

imdb.com

Diakui Anggun kalau karakter Bu Asri sangat berbeda dengan dirinya sendiri. Namun, ini pula yang membuat pengalaman tersebut menyenangkan dan menantang untuk Anggun. Selama puluhan tahun menjadi penyanyi dan mencoba akting, Anggun ternyata menemukan kepuasan dan kenikmatan tersendiri.

“Guru Asri memang tidak punya banyak kebahagiaan dalam hidupnya. Ada banyak kesedihan yang membentuk dirinya, dan itu yang akhirnya membuat dia menjadi pribadi seperti itu. Beda banget sama aku, aku nggak gitu orangnya,” tutur Anggun.

Untuk mendalami karakter tersebut, Anggun banyak berdiskusi dengan sutradara serta menggali latar emosi tokoh yang ia perankan. Ia mencoba memahami bagaimana kesedihan dan pengalaman hidup bisa membentuk seseorang menjadi keras, tapi tetap menyisakan sisi rapuh. 

Lewat film Para Perasuk, Anggun C. Sasmi tidak hanya menjajal peran baru, tetapi juga menawarkan cara pandang berbeda tentang kerasukan. Ada pengalaman emosional dan pemikiran yang tertinggal, sekaligus membuka ruang diskusi tentang budaya, psikologi, dan sisi lain dari manusia itu sendiri.

Editorial Team