1. Mengalami Iritasi Saluran Pernapasan
Menghirup partikel abu vulkanik dapat membuat saluran pernapasan mengalami iritasi. Terlebih ketika konsentrasi abu di udara cukup tinggi. Orang yang sebelumnya sehat sekalipun bisa mengalami batuk, rasa tidak nyaman di dada, hingga gangguan pada pernapasan.
Dalam jangka pendek, paparan abu juga dapat menimbulkan beberapa gejala lain, seperti hidung dan tenggorokan yang terasa teriritasi, pilek, batuk kering, serta rasa kurang nyaman ketika bernapas.
2. Memicu atau Memperparah Gejala Asma
Bagi orang yang sudah memiliki asma atau masalah pernapasan lainnya, paparan abu vulkanik dapat membuat gejalanya menjadi lebih berat. Partikel abu yang berukuran kecil dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu batuk, mengi, hingga sesak napas.
CDC (Centers for Disease Control and Prevention) menyebutkan bahwa penderita asma termasuk kelompok yang lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan ketika terpapar abu maupun gas vulkanik.
3. Menyebabkan Gejala Bronkitis
Paparan abu vulkanik juga dapat berkaitan dengan munculnya gejala bronkitis akut. Beberapa tanda yang mungkin dirasakan antara lain batuk kering, munculnya dahak, mengi, dan sesak napas.
Tingkat keparahan gejala dapat berbeda pada setiap orang. Kondisi kesehatan seseorang serta lingkungan tempat tinggal selama terjadi erupsi juga dapat memengaruhi dampak paparan abu vulkanik.
4. Meningkatkan Risiko Silikosis
Silikosis merupakan penyakit paru-paru yang dapat terjadi akibat menghirup debu yang mengandung silika dalam jumlah tinggi dan dalam waktu lama. Paparan tersebut dapat memicu peradangan dan menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada paru-paru.
Meski abu vulkanik dapat mengandung silika kristalin, bukan berarti setiap orang yang terpapar abu akan mengalami silikosis. Risiko penyakit ini lebih berkaitan dengan paparan silika dalam konsentrasi tinggi dan secara terus-menerus, terutama selama bertahun-tahun.