Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa itu Bigorexia? Gejala, Risiko, dan Cara Mengatasinya
Pexels/Pikx By Panther
  • Bigorexia atau dysmorphia otot adalah gangguan mental yang membuat seseorang merasa tubuhnya kurang besar atau berotot, terutama pada dewasa muda yang terobsesi bentuk tubuh ideal.
  • Gejalanya meliputi obsesi terhadap penampilan, sering bercermin, latihan gym berlebihan, serta pola makan ekstrem; kondisi ini dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.
  • Tanpa penanganan, bigorexia berisiko memicu depresi, kecemasan, dan penyalahgunaan steroid; penanganannya mencakup CBT, dukungan medis, ahli gizi, keluarga, serta teman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bigorexia adalah saat seseorang merasa tubuhnya kurang besar atau kurang berotot. Mereka bisa sering melihat cermin, lama olahraga di gym, dan makan sangat ketat. Ini bisa membuat mereka sedih, cemas, atau memakai steroid yang berbahaya. Mereka perlu bantuan dokter, ahli gizi, keluarga, dan teman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bigorexia dikenal sebagai dysmorphia otot adalah gangguan kesehatan mental, yang membuat seseorang merasa tubuhnya tidak cukup besar atau berotot. Kondisi ini sering kali membuat penderitanya terjebak dalam pola pikir negatif tentang penampilan fisiknya, hingga memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Gangguan ini banyak dialami oleh orang dewasa muda yang terobsesi dengan bentuk tubuh ideal. Jika tidak ditangani, bigorexia dapat menyebabkan masalah serius seperti depresi, penyalahgunaan steroid, bahkan pikiran untuk mengakhiri hidup.

Penasaran dengan kelanjutannya? Yuk, simak Popmama.com merangkum bigorexia dan gejalanya secara lebih detail. Yuk, disimak informasinya!

1. Gejala bigorexia yang perlu diwaspadai

Pexels/VictorFreitas

Bigorexia dapat dikenali dari beberapa gejala, baik psikologis maupun fisik. Salah satu tandanya adalah obsesi berlebihan terhadap penampilan tubuh. Penderita bigoreksia sering kali memeriksa cermin, merasa tidak puas dengan bentuk tubuhnya, dan percaya bahwa kekurangan fisiknya sangat mencolok di mata orang lain.

Selain itu, penderita juga cenderung menghabiskan waktu berjam-jam di gym, memaksakan tubuh untuk melampaui batas kemampuan. Kebiasaan ini sering kali disertai pola makan ekstrem dengan tujuan membakar lemak dan menambah massa otot. Sayangnya, semua usaha tersebut sering kali tidak pernah dianggap cukup memuaskan.

2. Risiko yang dihadapi oleh penderita bigorexia

Pexels/VictorFreitas

Jika tidak segera ditangani, bigorexia dapat berdampak serius pada kesehatan fisik dan mental. Salah satu risiko utamanya adalah penyalahgunaan steroid untuk mempercepat pembentukan otot. Namun, penggunaan steroid jangka panjang memiliki efek samping berbahaya seperti gangguan hati dan kerusakan organ.

Di sisi psikologis, bigorexia dapat menyebabkan depresi dan gangguan kecemasan. Penderitanya merasa terjebak dalam tekanan untuk memenuhi standar tubuh ideal yang sulit dicapai.

3. Cara mengatasi bigorexia secara efektif

Pexels/VictorFreitas

Penanganan bigoreksia membutuhkan pendekatan holistik yang melibatkan terapi psikologis dan dukungan medis. Terapi kognitif perilaku (CBT) sering digunakan untuk membantu penderita mengubah pola pikir negatif tentang tubuh mereka. Dengan terapi ini, mereka belajar menerima tubuh apa adanya dan menghentikan kebiasaan merugikan.

Selain itu, penting untuk melibatkan ahli gizi untuk menyusun pola makan yang sehat dan realistis. Dukungan dari keluarga dan teman juga sangat membantu dalam proses pemulihan. Jika mama atau orang terdekat mengalami gejala bigorexia, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional.

Nah, itulah penjelasan terkait bigorexia dan gejalanya yang penting untuk mama ketahui. Semoga informasinya dapat bermanfaat ya, Ma.

Curated For You

Editorial Team

Related Article