- Faktor genetik: Orang yang memiliki variasi gen tertentu, seperti gen HLA (human leukocyte antigen), lebih rentan mengalami RA karena gen ini berperan dalam membedakan sel tubuh sendiri dengan zat asing.
- Faktor lingkungan: Seperti paparan infeksi virus atau bakteri yang bisa memicu munculnya gejala pada orang dengan predisposisi genetik.
- Kebiasaan merokok: Menurut HSS, orang yang merokok dapat meningkatkan risiko RA sekaligus memperparah kondisi penyakit.
- Radang gusi (gingivitis): Dikutip dari HSS, sebagai salah satu faktor lingkungan yang mungkin berkaitan dengan berkembangnya RA di tahap awal.
- Stres fisik maupun emosional: Menurut Arthritis Foundation, stres dapat menjadi salah satu pemicu munculnya gejala pada orang yang berisiko.
- Faktor hormon: Melansir Cleveland Clinic, merupakan salah satu kombinasi penyebab RA selain genetik dan lingkungan.
Apa Itu Autoimun Rheumatoid Arthritis? Kenali Gejala hingga Obatnya

- Rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun sistemik saat imun menyerang sinovium, memicu peradangan, kerusakan sendi, serta gangguan pada organ lain.
- Gejalanya meliputi nyeri, bengkak, dan kaku pagi hari lebih dari 30 menit, terutama pada sendi kecil yang simetris, disertai lelah, demam ringan, atau penurunan berat badan.
- Penyebab pastinya belum diketahui; risiko berkaitan dengan genetik, merokok, obesitas, dan faktor lain. RA belum dapat disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan melalui obat, gaya hidup sehat, dan operasi bila perlu.
Pernah merasa jari-jari tangan kaku dan sulit digerakkan saat bangun tidur? Jangan buru-buru menganggapnya sekadar pegal biasa, sebab bisa jadi itu adalah tanda awal dari rheumatoid arthritis.
Rheumatoid arthritis, merupakan salah satu penyakit autoimun yang menyerang sendi dan bisa memengaruhi banyak bagian tubuh lainnya.
Berbeda dari nyeri sendi akibat penuaan, rheumatoid arthritis memiliki pola serangan yang khas dan dapat berkembang cukup cepat jika tidak segera ditangani.
Untuk mengenal lebih jauh tentang penyakit ini, berikut Popmama.com mengulas apa itu autoimun rheumatoid arthritis? Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
Pengertian Autoimun Rheumatoid Arthritis

Wikimedia Commons/Laboratoires Servier Melansir Hospital for Special Surgery (HSS), rheumatoid arthritis (RA) adalah penyakit inflamasi autoimun yang bersifat sistemik pada tubuh manusia.
Meski gejala utamanya muncul pada sendi, kondisi ini sebenarnya bisa memengaruhi kesehatan banyak sistem lain dalam tubuh, bukan hanya tulang dan sendi saja.
Pada orang yang sehat, sistem imun bertugas melawan kuman dan zat asing penyebab penyakit. Namun, pada penderita RA, sistem imun ini justru keliru dan menyerang jaringan tubuhnya sendiri, terutama lapisan pelindung sendi yang disebut sinovium.
Serangan ini memicu pelepasan zat kimia seperti sitokin yang menyebabkan sendi bengkak, rusak, dan tubuh terasa lelah serta tidak enak badan.
Mengutip Cleveland Clinic, peradangan pada RA yang tidak terkontrol dapat merusak tulang rawan yang berfungsi sebagai peredam kejut pada sendi. Lama-kelamaan, kondisi ini bisa membuat sendi berubah bentuk, tulang tergerus, bahkan sendi bisa menyatu (fusi).
Menurut Arthritis UK, RA biasanya menyerang sendi-sendi kecil di tangan dan kaki lebih dulu, dan uniknya, biasanya menyerang sendi yang sama di kedua sisi tubuh secara bersamaan.
Penyebab Rheumatoid Arthritis

Pexels/Nafsika G. Sampai saat ini, penyebab pasti rheumatoid arthritis belum diketahui secara jelas. Namun, para peneliti menduga ada beberapa faktor yang saling berkaitan hingga akhirnya memicu sistem imun salah sasaran. Melansir Cleveland Clinic, berikut beberapa faktor yang diduga menjadi penyebabnya:
Gejala Rheumatoid Arthritis

Pexels/Towfiqu barbhuiya Gejala rheumatoid arthritis bisa berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun, tapi pada sebagian orang justru muncul dengan cepat. Mengutip Arthritis Foundation, berikut beberapa gejala yang biasanya menjadi tanda dari RA:
- Nyeri, bengkak, kaku, dan nyeri tekan: Terdapat pada lebih dari satu sendi yang berlangsung selama 6 minggu atau lebih.
- Kaku di pagi hari: Sensasi ini berlangsung selama 30 menit atau lebih.
- Sendi kecil di pergelangan tangan, jari tangan, dan kaki: Bagian tubuh ini biasanya terkena terlebih dahulu daripada bagian tubuh yang lain.
- Gejala muncul pada sendi yang sama di kedua sisi tubuh: Dapat terjadi pada kedua lutut atau kedua tangan sekaligus.
- Rasa lelah berlebihan (fatigue): Menurut HSS, kondisi ini dapat menjadi gejala paling mengganggu bagi sebagian penderita.
- Demam ringan dan penurunan berat badan: Orang yang mengalami RA dapat mengalami demam ringan dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Menurut Arthritis UK, gejala RA memang cenderung berkembang dalam hitungan minggu hingga bulan, tetapi bisa juga muncul lebih cepat.
Selain itu, penderita RA sering mengalami periode gejala memburuk yang dikenal dengan istilah flare, yang bisa berlangsung dari beberapa hari hingga berbulan-bulan.
Dampak Rheumatoid Arthritis untuk Kesehatan

Pexels/freestocks.org Uniknya, rheumatoid arthritis tidak cuma menyerang sendi. Mengutip Arthritis Foundation, berikut beberapa dampak RA terhadap kesehatan tubuh secara keseluruhan:
- Mata: Orang yang RA, pada bagian matanya terasa kering, nyeri, meradang, kemerahan, hingga sensitif terhadap cahaya.
- Mulut: Selain itu, penderita penyakit ini dapat mengalami kekeringan serta peradangan atau iritasi pada gusi.
- Kulit: Dapat memunculkan benjolan kecil di bawah kulit yang disebut nodul reumatoid, biasanya di area tulang seperti siku.
- Paru-paru: Dapat mengalami peradangan dan jaringan parut sehingga memicu sesak napas.
- Jantung dan pembuluh darah: Dapat berisiko mengalami peradangan hingga kerusakan otot jantung.
- Darah: Dimana jumlah sel darah merahnya bisa menjadi lebih rendah dari normal.
Selain itu, mengutip Cleveland Clinic, RA yang tidak ditangani dengan baik juga bisa meningkatkan risiko sindrom carpal tunnel, mata dan mulut kering yang lebih parah, osteoporosis, penyakit jantung, hingga penyakit paru interstisial.
Sendi yang terus-menerus meradang tanpa penanganan pun berisiko mengalami kerusakan permanen dan perubahan bentuk.
Faktor Risiko Rheumatoid Arthritis

Pexels/Elizabeth Ferreira Meski bisa dialami siapa saja, ada beberapa kondisi yang membuat seseorang lebih berisiko terkena rheumatoid arthritis. Melansir Cleveland Clinic, berikut faktor risikonya:
- Usia: Biasanya RA umumnya mulai berkembang pada usia 30 hingga 60 tahun, meski bisa dialami siapa saja.
- Jenis kelamin: Wanita diketahui 3 kali lebih berisiko mengalami RA dibandingkan dengan pria.
- Riwayat keluarga: Karena risiko RA lebih tinggi pada orang yang memiliki kerabat dekat dengan riwayat penyakit yang sama.
- Kebiasaan merokok: Orang yang merokok dapat meningkatkan risiko sekaligus memperparah gejala RA.
- Kelebihan berat badan atau obesitas: Orang yang mengalami obeseitas, dapat meningkatkan peluang seseorang mengalami RA.
Pencegahan Rheumatoid Arthritis

Pexels/Aleksandar Andreev Sayangnya, karena penyebab pastinya belum diketahui, rheumatoid arthritis adalah penyakit yang tidak bisa dicegah sepenuhnya oleh setiap orang.
Mengutip Arthritis UK, ada beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi risiko sekaligus melindungi jantung dan pembuluh darah dari dampak peradangan RA pada tubuh.
Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan, seperti rutin mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, menjaga pola makan seimbang, tetap aktif bergerak, dan berhenti merokok.
Berhenti merokok dan menjaga berat badan tetap ideal juga disebut sebagai langkah yang dapat menekan risiko RA, mengingat merokok dan obesitas termasuk faktor risiko yang dapat dikendalikan.
Perawatan dan Pengobatan Rheumatoid Arthritis

Pexels/SHVETS production Kabar baiknya, meski belum ada obat yang bisa menyembuhkan RA sepenuhnya, kondisi ini bisa dikendalikan dengan baik lewat penanganan yang tepat. Mengutip Cleveland Clinic, berikut beberapa jenis pengobatan yang umum digunakan untuk menangani rheumatoid arthritis:
- Obat antiradang nonsteroid (NSAID): Obat ini membantu meredakan nyeri dan peradangan pada sendi.
- Kortikosteroid: Obat ini bekerja cepat untuk meredakan bengkak, nyeri, dan kekakuan sendi dalam jangka pendek.
- Disease-modifying antirheumatic drugs (DMARD): Obat yang bekerja memperlambat perkembangan penyakit, bukan sekadar meredakan gejala.
- Janus kinase (JAK) inhibitor: Obat ini biasanya diberikan jika pengobatan lain belum cukup efektif.
- Terapi biologis (biologics): Merupakan obat yang bekerja menekan bagian spesifik dari sistem imun yang menyerang sendi.
- Operasi: Dilakukan operasi seperti penggantian sendi lutut atau pinggul, yang dipertimbangkan jika sendi sudah mengalami kerusakan parah dan tidak membaik dengan obat.
Selain pengobatan medis, mengutip Arthritis Foundation, penderita RA juga disarankan menjalani pola hidup sehat untuk membantu meredakan berbagai gejala
Aktivitas seperti menjaga pola makan bergizi seimbang, tetap aktif bergerak setiap hari, menyeimbangkan aktivitas dengan istirahat, menggunakan terapi panas atau dingin untuk meredakan kekakuan, serta mengelola stres.
Nah, itulah pembahasan mengenai apa itu autoimun rheumatoid arthritis? Semoga informatif dan bermanfaat!





















