Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Hipertensi Portal? Kenali Gejala dan Penyebabnya
Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI
  • Hipertensi portal adalah peningkatan tekanan darah pada vena portal yang menghubungkan organ pencernaan dengan hati, umumnya disebabkan oleh sirosis atau sumbatan aliran darah menuju hati.
  • Gejalanya meliputi muntah darah, feses hitam, perut membuncit karena asites, pembengkakan kaki, kelelahan, kebingungan mental, kulit menguning, dan pembesaran limpa akibat gangguan fungsi hati.
  • Diagnosis dilakukan lewat pemeriksaan fisik, pencitraan, elastograf, dan endoskopi; pengobatan fokus menekan komplikasi melalui obat beta-blocker, terapi endoskopi, shunting, hingga transplantasi hati.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Hipertensi portal adalah kondisi meningkatnya tekanan darah pada vena portal yang menghubungkan organ pencernaan dengan hati, menyebabkan gangguan aliran darah dan risiko perdarahan di saluran cerna.
  • Who?
    Kondisi ini dapat dialami oleh penderita penyakit hati kronis, terutama mereka yang mengalami sirosis akibat hepatitis C, konsumsi alkohol berlebihan, atau perlemakan hati nonalkoholik.
  • Where?
    Kondisi ini terjadi di sistem vena portal dalam tubuh manusia, yaitu pembuluh darah yang membawa darah dari lambung, usus, pankreas, dan limpa menuju hati.
  • When?
    Hipertensi portal dapat berkembang seiring waktu pada penderita gangguan hati kronis; gejalanya sering muncul setelah komplikasi terjadi. Waktu pasti perkembangan tiap kasus berbeda-beda.
  • Why?
    Penyebab utamanya adalah hambatan aliran darah menuju hati akibat jaringan parut dari sirosis. Faktor lain termasuk infeksi parasit schistosomiasis, granuloma hati, dan gumpalan darah di vena portal.
  • How?
    Kondisi ini didiagnosis melalui pemeriksaan fisik, tes pencitraan seperti USG atau CT scan, serta endoskopi. Penanganannya meliputi obat-obatan beta-blocker, terapi endoskopi, shunting, hingga transplantasi hati bila diperlukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Ada orang yang bisa sakit karena darah di perutnya tidak bisa jalan lancar ke hati. Namanya hipertensi portal. Kalau itu terjadi, perut bisa buncit, muntah darah, pup jadi hitam, dan badan lemas. Biasanya karena hati rusak atau ada sumbatan darah. Dokter bisa kasih obat atau operasi supaya darahnya bisa jalan lagi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah dengar keluhan muntah darah, buang air besar berwarna hitam, atau perut yang tiba-tiba membuncit padahal tidak lagi hamil atau kekenyangan? Kondisi ini tidak boleh dianggap remeh, karena bisa jadi tanda dari gangguan yang jarang dibahas orang awam, yaitu hipertensi portal.

Beda dengan hipertensi biasa yang menyerang tekanan darah di seluruh tubuh, hipertensi portal terjadi di satu jalur khusus, yaitu pembuluh darah yang menghubungkan organ pencernaan dengan hati. 

Untuk lebih jelasnya tentang penyakit ini, berikut Popmama.com membahas apa itu hipertensi portal? Yuk, simak sampai habis!

Pengertian Hipertensi Portal

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI

Melansir Cleveland Clinic, hipertensi portal adalah peningkatan tekanan darah di vena portal beserta cabang-cabang kecilnya yang disebut sistem vena portal. Sistem vena portal ini bertugas mengalirkan darah dari lambung, usus, pankreas, dan limpa menuju hati untuk disaring, sebelum akhirnya dikembalikan ke jantung.

Saat aliran darah di vena portal terhambat atau melambat, tekanan di sepanjang sistem tersebut ikut naik. Tubuh lantas mencoba mengimbangi kondisi ini dengan mengalihkan aliran darah ke pembuluh-pembuluh lain. Sayangnya, cara ini justru membuat pembuluh darah pengganti tersebut melebar, dindingnya menipis, dan rawan bocor bahkan pecah.

Mengutip Columbia Surgery, hipertensi portal adalah kondisi meningkatnya tekanan darah pada vena portal akibat adanya sumbatan aliran darah menuju hati, yang umumnya disebabkan oleh sirosis.

Gejala Hipertensi Portal yang Perlu Diwaspadai

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI

Sayangnya, hipertensi portal kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Mengutip Cleveland Clinic, hingga 90 persen orang dengan sirosis sudah mengalami hipertensi portal sebelum gejalanya muncul. Berikut gejala yang biasanya baru terasa setelah muncul komplikasi pada pembuluh darah:

  1. Muntah darah: Terjadi akibat pembuluh darah di kerongkongan atau lambung yang pecah.

  2. Buang air besar berwarna hitam atau berdarah: Menjadi tanda adanya perdarahan di saluran cerna.

  3. Perut membuncit dan cepat bertambah berat: Hal ini karena penumpukan cairan di rongga perut (asites).

  4. Bengkak di kaki dan tungkai: Gejala ini muncul akibat penumpukan cairan (edema).

  5. Mudah lelah dan lemas: Dikutip dari The Cardiology Advisor, gejala ini merupakan salah satu keluhan awal yang kerap muncul.

  6. Kebingungan atau disorientasi mental: Terjadi karena racun dalam darah tidak tersaring sempurna oleh hati.

  7. Kulit dan mata menguning (jaundice): Mengutip Columbia Surgery, ciri ini merupakan salah satu tanda yang dapat muncul.

  8. Limpa membesar (splenomegali): Dikutip The Cardiology Advisor, hal ini dapat meningkatkan risiko infeksi dan mudah memar.

Penyebab Hipertensi Portal

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI

Menurut Cleveland Clinic, penyebab paling umum hipertensi portal di negara-negara Barat adalah sirosis hati, yaitu kondisi jaringan hati yang mengeras dan berjaringan parut akibat penyakit hati jangka panjang. 

Dikutip dari Columbia Surgery, jaringan parut ini membuat lapisan dalam vena portal jadi tidak rata, sehingga aliran darah melambat dan tekanannya naik.

Beberapa penyebab hipertensi portal lainnya:

  1. Sirosis hati: Hal ini biasanya dipicu oleh hepatitis C kronis, kebiasaan minum alkohol berlebihan, atau perlemakan hati nonalkoholik.

  2. Infeksi parasit schistosomiasis: Penyebab paling umum di sejumlah wilayah dunia selain negara Barat memengaruhi lebih dari 230 juta orang secara global.

  3. Granuloma hati: Kumpulan sel radang yang menyumbat sistem vena portal dan biasanya mendahului munculnya jaringan parut.

  4. Gumpalan darah (trombosis): Pada sistem vena portal, gumpalan darah dapat menghambat aliran darah menuju, melalui, maupun keluar dari hati.

Diagnosis dan Penanganan Hipertensi Portal

Pexels/cottonbro studio

Cara paling akurat untuk mendiagnosis hipertensi portal sebenarnya adalah dengan mengukur langsung tekanan di pembuluh vena hati menggunakan kateter. Menurut Cleveland Clinic, prosedur ini cukup rumit sehingga jarang dilakukan kecuali benar-benar diperlukan. 

Dokter biasanya lebih dulu mengenali kondisi ini melalui gejala klinis, kemudian memastikannya dengan sejumlah pemeriksaan penunjang.

Dikutip Columbia Surgery, beberapa metode diagnosis yang umum dipakai, di antaranya:

  1. Pemeriksaan fisik: Dilakukan terutama untuk mendeteksi perut yang membuncit akibat asites atau pembuluh darah yang melebar.

  2. Tes pencitraan: Seperti USG, CT scan, hingga rontgen untuk melihat kondisi vena portal.

  3. Elastograf: Tes yang mengukur elastisitas jaringan hati; semakin kaku jaringannya, semakin besar kemungkinan adanya gangguan.

  4. Endoskopi: Menggunakan selang tipis berkamera untuk memeriksa kondisi pembuluh darah dan organ dalam.

Dilansir dari The Cardiology Advisor, dokter juga akan menggali riwayat kesehatan dan faktor sosial pasien, seperti kebiasaan minum alkohol, serta melakukan pengukuran gradien tekanan vena hepatik guna mendapatkan hasil yang lebih akurat. 

Setelah diagnosis ditegakkan, penanganan berikutnya akan disesuaikan dengan tingkat keparahan dan penyebab yang mendasarinya.

Pengobatan Hipertensi Portal

Pexels/Nataliya Vaitkevich

Sayangnya, hipertensi portal akibat sirosis tidak dapat disembuhkan total. Karena itu, menurut Columbia Surgery, tujuan utama pengobatan adalah mengendalikan dampaknya, terutama risiko perdarahan dalam. Berikut beberapa pilihan pengobatan yang umum diberikan:

  1. Obat-obatan: Golongan beta-blocker untuk menurunkan tekanan pada vena portal, serta obat yang membantu mengurangi risiko perdarahan berulang.

  2. Terapi endoskopi: Pengikatan pembuluh darah dengan cincin karet (banding) atau penyuntikan cairan untuk menghentikan perdarahan (skleroterapi).

  3. Shunting: Prosedur memasang pirau atau selang kecil untuk mengalihkan aliran darah, mengurangi tekanan, dan mencegah pembentukan varises baru.

  4. Transplantasi hati: Menjadi pilihan pada kasus yang sudah berat, dengan mengganti hati yang rusak dengan hati sehat dari pendonor.

Pencegahan Hipertensi Portal

Pexels/Edmond Dantès

Karena penyebab utamanya adalah penyakit hati kronis, langkah pencegahan hipertensi portal pun berfokus pada menjaga kesehatan hati sejak dini.

Melansir Cleveland Clinic, kerusakan hati akibat alkohol atau gangguan metabolik sering kali masih bisa diperbaiki melalui perubahan pola makan dan gaya hidup, sementara hepatitis C sudah bisa disembuhkan dengan obat antivirus asalkan terdeteksi lebih awal.

Dikutip dari Columbia Surgery, orang yang berisiko rutin membatasi konsumsi alkohol, menjaga pola makan seimbang, dan aktif bergerak sebagai bagian dari upaya menjaga fungsi hati tetap optimal.

Nah, itulah pembahasan mengenai apa itu hipertensi portal? Semoga informatif dan bermanfaat!

Curated For You

Editorial Team

Related Article