Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Autoimun Menular? Ini Fakta yang Wajib Kamu Tahu
Pexels/Ron Lach
  • Penyakit autoimun tidak menular karena disebabkan oleh gangguan sistem imun tubuh sendiri, bukan oleh kuman atau virus yang bisa berpindah antarindividu.
  • Faktor risiko autoimun meliputi genetik, lingkungan, infeksi tertentu, jenis kelamin perempuan, kebiasaan merokok, serta riwayat memiliki penyakit autoimun lain.
  • Autoimun bersifat kronis dan belum bisa disembuhkan total, namun pengobatan tepat dapat membantu mengendalikan gejala serta menjaga kualitas hidup penyintas tetap baik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Penyakit autoimun dijelaskan sebagai kondisi yang tidak menular, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri, bukan disebabkan oleh virus atau bakteri yang berpindah antarindividu.
  • Who?
    Penjelasan berasal dari lembaga medis seperti Pfizer, Boston Children's Hospital, Cleveland Clinic, dan Global Autoimmune Institute yang meneliti serta memberikan informasi mengenai penyakit autoimun.
  • Where?
    Informasi ini merujuk pada penjelasan dari berbagai institusi kesehatan internasional yang berbasis di Amerika Serikat dan digunakan untuk edukasi masyarakat secara global.
  • When?
    Keterangan ini disampaikan dalam konteks terkini mengenai pemahaman medis tentang penyakit autoimun, tanpa menyebutkan tanggal spesifik kejadian atau publikasi.
  • Why?
    Pembahasan dilakukan untuk meluruskan kesalahpahaman masyarakat bahwa penyakit autoimun bukanlah penyakit menular dan agar masyarakat tidak menghindari penyintas karena ketakutan tertular.
  • How?
    Penyakit autoimun terjadi karena gangguan sistem imun yang menyerang sel tubuh sendiri; faktor genetik, lingkungan, infeksi tertentu, serta kebiasaan hidup dapat memicu munculnya kondisi ini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Ada orang yang punya sakit namanya autoimun. Badannya salah kenal, jadi tubuhnya malah nyerang dirinya sendiri. Orang itu bisa capek, pegal, atau kulitnya merah. Tapi tenang, sakit ini tidak menular ke orang lain. Sampai sekarang belum ada obatnya, tapi dokter bisa bantu supaya gejalanya tidak parah dan orangnya tetap bisa hidup nyaman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernahkah kamu melihat teman atau anggota keluarga yang tiba-tiba mudah lelah, sering nyeri sendi, atau punya ruam kulit yang tidak kunjung hilang, lalu muncul pertanyaan di kepala, "Ini menular tidak, ya?" 

Wajar saja kalau pertanyaan itu muncul, apalagi kalau ternyata orang tersebut memiliki penyakit autoimun dan orang di sekitar kita jadi ikut khawatir dan menjaga jarak karena takut ketularan

Nah, supaya tidak salah paham dan tidak ikut-ikutan parno, berikut Popmama.com merangkum apakah autoimun menular? Yuk, simak sampai habis!

Apakah Penyakit Autoimun Bisa Menular?

Pexels/Monstera Production

Jawaban singkatnya: tidak. Autoimun bukan penyakit menular, jadi kamu tidak perlu khawatir tertular hanya karena dekat atau bersentuhan dengan orang yang mengidapnya.

Melansir Pfizer, penyakit autoimun terjadi ketika sistem imun tubuh tidak bisa membedakan mana sel sehat dan mana musuh yang harus diserang, sehingga sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan tubuh sendiri. 

Karena akar masalahnya ada pada sistem imun orang tersebut, bukan pada kuman atau virus yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain, penyakit ini digolongkan sebagai kondisi yang tidak menular.

Mengutip Boston Children's Hospital, autoimun bukan penyakit menular dan penyebabnya bukan berasal dari satu faktor tunggal saja, melainkan kombinasi dari banyak hal.

Tapi tunggu dulu, ada satu hal yang sering bikin bingung. Menurut Global Autoimmune Institute, infeksi oleh virus, bakteri, parasit, atau jamur ternyata bisa menjadi salah satu pemicu munculnya autoimun pada orang yang memang sudah punya kecenderungan genetik. 

Jadi, infeksinya memang bisa menular, tapi bukan berarti penyakit autoimun yang muncul setelahnya ikut menular ke orang lain. Dua hal ini beda konsep, ya.

Penyebab Autoimun

Pexels/Monstera Production

Sampai sekarang, para ahli belum bisa memastikan satu penyebab tunggal dari penyakit autoimun. Namun, ada beberapa faktor yang diketahui bisa meningkatkan risiko seseorang mengalaminya, di antaranya:

  • Faktor genetik atau keturunan: Melansir Pfizer, autoimun cenderung lebih sering muncul dalam satu keluarga, sehingga faktor genetik diduga berperan besar.

  • Faktor lingkungan: Paparan bahan kimia atau zat tertentu di lingkungan sekitar bisa memicu munculnya autoimun, terutama pada orang yang sudah punya bakat genetik.

  • Infeksi virus atau bakteri: Mengutip Cleveland Clinic, infeksi seperti COVID-19 dan virus Epstein-Barr termasuk faktor pemicu yang cukup sering disebut. Dikutip dari Global Autoimmune Institute, infeksi bisa mengelabui sistem imun lewat mekanisme yang disebut molecular mimicry, di mana molekul kuman mirip dengan molekul tubuh sendiri, sehingga sistem imun jadi salah sasaran.

  • Jenis kelamin: Perempuan diketahui punya risiko lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Boston Children's Hospital bahkan mencatat anak perempuan berisiko hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan anak laki-laki.

  • Kebiasaan merokok: Dilansir dari Cleveland Clinic, kebiasaan merokok dan penggunaan produk tembakau lainnya bisa memicu munculnya autoimun.

  • Sudah punya satu penyakit autoimun: Kalau kamu sudah didiagnosis dengan satu jenis autoimun, risiko munculnya jenis autoimun lain juga jadi lebih besar.

Gejala Autoimun

Pexels/Thirdman

Karena ada lebih dari 100 jenis penyakit autoimun, gejalanya pun bisa sangat beragam tergantung pada bagian tubuh mana yang diserang. Namun, menurut Pfizer, ada beberapa gejala umum yang sering muncul, yaitu:

  • Peradangan pada tubuh

  • Nafsu makan menurun

  • Demam yang muncul berkala

  • Nyeri, kemerahan, rasa panas, atau bengkak di satu atau beberapa bagian tubuh

  • Kelelahan yang terus-menerus

  • Kesulitan bernapas

  • Masalah kulit, seperti ruam atau luka

  • Otot terasa pegal atau lemah

  • Nyeri pada sendi

Yang perlu kamu ingat, gejala autoimun ini biasanya tidak muncul terus-menerus dengan intensitas yang sama.

Menurut Cleveland Clinic, gejala bisa mereda (remisi) lalu kambuh lagi lebih parah (flare) tanpa pola yang pasti, jadi penting banget buat rutin cek ke dokter kalau kamu merasa ada gejala yang berulang.

Dampak Autoimun

Pexels/Picas Joe

Autoimun bukan sekadar bikin badan pegal atau capek biasa. Kalau tidak ditangani dengan tepat, dampaknya bisa cukup serius, seperti:

  • Menyerang berbagai organ tubuh: Dikutip dari Cleveland Clinic, autoimun bisa memengaruhi sendi, otot, kulit, pembuluh darah, sistem pencernaan, sistem endokrin, hingga sistem saraf.

  • Berpotensi mengancam nyawa: Dilansir dari Boston Children's Hospital, autoimun yang menyerang organ vital seperti hati, ginjal, paru-paru, atau pembuluh darah bisa berisiko fatal, meski kasus seperti ini tergolong jarang.

  • Bersifat kronis dan butuh pengelolaan jangka panjang: Karena bukan penyakit yang datang lalu hilang begitu saja, autoimun perlu dikelola seumur hidup.

  • Meningkatkan risiko autoimun lain: Punya satu jenis autoimun bisa memperbesar peluang munculnya jenis autoimun lainnya.

  • Rentan terhadap infeksi: Menurut Global Autoimmune Institute, orang dengan autoimun justru lebih rentan terkena infeksi, bahkan saat sedang menjalani pengobatan.

  • Memengaruhi aktivitas dan kualitas hidup sehari-hari: Rasa nyeri, lelah, dan gejala yang datang dan pergi bisa membuat penyintas autoimun harus menyesuaikan rutinitas harian mereka.

Apakah Autoimun Bisa Sembuh Total?

Pexels/Vanessa Ray

Sayangnya, sampai saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan autoimun secara total. Mengutip Cleveland Clinic, autoimun termasuk kondisi kronis yang umumnya berlangsung seumur hidup.

Tapi, bukan berarti tidak ada harapan. Beberapa penyintas autoimun bisa mengalami masa remisi, yaitu periode panjang di mana gejala mereda sehingga aktivitas sehari-hari tidak terlalu terganggu.

Remisi memang berbeda dari sembuh total, tapi kabar baiknya, pengobatan yang tepat bisa membantu mengendalikan gejala dan menjaga kualitas hidup tetap baik.

Bisakah Autoimun Dicegah?

Pexels/Monstera Production

Karena penyebab pastinya masih belum diketahui secara jelas, saat ini belum ada cara yang terbukti bisa mencegah munculnya autoimun sepenuhnya, seperti dikutip dari Cleveland Clinic.

Meski begitu, ada langkah-langkah yang bisa kamu lakukan untuk meminimalkan faktor pemicu, terutama dari sisi infeksi.

Dikutip dari Global Autoimmune Institute, selalu rajin menjaga kebersihan tangan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit, serta memastikan makanan disimpan dan diolah dengan benar agar terhindar dari kontaminasi bakteri maupun jamur. 

Langkah-langkah sederhana ini memang bukan jaminan mutlak, tapi setidaknya bisa membantu menurunkan risiko infeksi yang berpotensi memicu autoimun pada orang yang punya kecenderungan genetik.

Nah, itulah pembahasan mengenai apakah autoimun menular? Semoga informatif dan bermanfaat!

Curated For You

Editorial Team

Related Article