- Kerusakan jaringan yang gignifikan: Mengelupas bibir hingga lapisan kulit dalam terlihat, berdarah, atau menyebabkan koreng yang sulit sembuh.
- Siklus puas dan menyesal: Merasa sangat lega atau puas setelah berhasil mengelupas kulit, namun segera diikuti oleh rasa malu atau penyesalan karena bibir terlihat rusak.
- Upaya berhenti yang gagal: Muncul rasa frustrasi karena sudah mencoba memakai pelembap (lip balm) atau menutup mulut, namun tangan tetap bergerak secara impulsif ke arah bibir.
- Dilakukan dalam kondisi "Trance": Tindakan ini sering terjadi tanpa disadari saat seseorang sedang melamun, membaca, atau bekerja (disebut sebagai perilaku otomatis)
Benarkah Sering Mengelupas Bibir Tanda Gangguan Psikologis?

Excoriation Disorder (Dermatillomania): Mengelupas kulit bibir secara kronis masuk dalam spektrum Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) dan dapat merusak jaringan kulit bibir secara berulang.
Mekanisme Koping terhadap Kecemasan: Mengelupas bibir sering kali berfungsi sebagai mekanisme koping untuk melepaskan ketegangan akibat stres, depresi, atau kecemasan.
BFRB (Body-Focused Repetitive Behavior): Mengelupas bibir adalah bagian dari kelompok perilaku berulang yang merusak tubuh karena otak mengalami malfungsi dalam mengatur sirkuit kontrol impuls.
Bagi sebagian orang, mengelupas kulit bibir dianggap sebagai respons spontan saat bibir pecah-pecah. Namun, jika kebiasaan ini dilakukan secara impulsif, sulit dikendalikan, hingga menimbulkan luka, hal tersebut bisa menjadi indikasi adanya masalah kesehatan mental.
Secara medis Internasional, perilaku ini sering kali dikaitkan dengan gangguan kecemasan dan kontrol impuls. Kira-kira apa saja faktornya?
Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasan tentang benarkah sering mengelupas bibir tanda gangguan psikologis? Yuk simak rangkuman berikut ini.
Table of Content
1. Excoriation Disorder (Dermatillomania)

Berdasarkan panduan diagnosis gangguan mental DSM-5 dari American Psychiatric Association (APA), mengelupas kulit secara kronis disebut Excoriation Disorder.
Ini masuk dalam spektrum Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Penderitanya merasa ada dorongan obsesif untuk "merapikan" tekstur kulit yang tidak rata, namun justru berakhir dengan merusak jaringan kulit bibir secara berulang.
2. Mekanisme koping terhadap kecemasan

Menurut Mayo Clinic, perilaku repetitif ini sering kali berfungsi sebagai mekanisme koping. Saat sistem saraf mengalami tekanan akibat stres, depresi, atau kecemasan, tubuh mencari cara untuk melepaskan ketegangan tersebut.
Mengelupas bibir memberikan stimulasi fisik yang bagi sebagian orang dapat memberikan efek menenangkan sementara.
3. BFRB (Body-Focused Repetitive Behavior)

Data dari The TLC Foundation for BFRBs menunjukkan bahwa mengelupas bibir (lip picking) adalah bagian dari kelompok perilaku berulang yang merusak tubuh.
Kondisi ini terjadi ketika otak mengalami malfungsi dalam mengatur sirkuit kontrol impuls, sehingga seseorang tetap melakukan tindakan tersebut meski tahu hal itu menyakitkan.
4. Cheilitis Faktisial

Dalam studi dermatologi Internasional, ini dikategorikan sebagai artefactual dermatitis. Kondisi peradangan bibir ini bukan disebabkan oleh faktor eksternal seperti cuaca, melainkan murni akibat tindakan trauma fisik yang sengaja dilakukan oleh individu tersebut karena kondisi psikis yang tidak stabil.
4 Gejala yang Perlu Diwaspadai

Penting untuk mengenali kapan kebiasaan ini sudah masuk dalam kategori gangguan. Perhatikan tanda-tanda berikut:
Kesimpulannya, sering mengelupas bibir memang bisa menjadi indikasi gangguan psikologis jika frekuensinya tidak terkendali.
Secara medis, pengobatan tidak cukup hanya dengan memberikan krim bibir, tetapi juga perlu menyentuh akar permasalahannya melalui terapi perilaku kognitif (CBT).
Jika Mama atau orang terdekat mengalami gejala di atas, sebaiknya konsultasikan dengan psikolog untuk mendapatkan penanganan yang tepat agar kesehatan fisik dan mental tetap terjaga.


















