Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Cara Meneladani Hidup Rasulullah SAW Ketika Kondisi Ekonomi Sulit

Cara Meneladani Hidup Rasulullah SAW Ketika Kondisi Ekonomi Sulit
ilustrasi kondisi ekonomi (pexels.com/Nicola Barts)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Kondisi ekonomi yang tidak stabil menuntut umat untuk memperkuat ketakwaan, bertawakal, dan yakin bahwa Allah akan memberi jalan keluar serta rezeki dari arah yang tak disangka.
  • Rasulullah SAW meneladankan sikap sabar, optimis, dan kebersamaan saat krisis ekonomi, sambil menekankan pentingnya kejujuran serta amanah dalam berdagang dan kehidupan sosial.
  • Hidup sederhana menjadi prinsip utama Rasulullah; beliau mengajarkan untuk bersyukur, menjauhi gaya hidup konsumtif, serta hanya membawa kebutuhan seperlunya layaknya seorang musafir.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kondisi ekonomi belakangan ini memang semakin tidak stabil, terutama sejak melemahnya rupiah yang memicu kenaikan harga bahan-bahan pokok. Tentu kondisi ini berdampak bagi semua pihak, terutama bagi kelompok yang tergolong miskin dan menengah.

Saat merasa kesulitan dan putus asa di kondisi seperti ini, ingat bahwa Mama bukan satu-satunya orang yang mengalami ini. Setiap orang di dunia, bahkan Rasulullah SAW sekalipun pernah mengalami kesulitan seperti ini, Ma.

Menghadapi kondisi krisis saat ekonomi sulit, kuncinya adalah tawakkal dan ikhtiar. Ingatlah bahwa setiap kesulitan pasti akan menemukan jalan dan hikmahnya, Ma.

Untuk menyikapi hal ini, Mama juga bisa meneladani hidup Rasulullah SAW ketika ekonomi sulit, selengkapnya telah Popmama.com rangkum berikut ini!

Table of Content

Bertawakal Kepada Allah saat Kondisi Ekonomi Sulit

Bertawakal Kepada Allah saat Kondisi Ekonomi Sulit

Meneladani Hidup Rasulullah SAW Ketika Kondisi Ekonomi Sulit
ilustrasi wanita muslim sedang berdoa dengan tasbih (pexels.com/ Zeynep Sude Emek)

Saat menghadapi dinamika kehidupan yang penuh permasalahan, terutama saat kondisi ekonomi sulit, sangat penting bagi seorang muslim untuk menguatkan ketakwaan kepada Allah SWT. 

Dengan ketakwaan yang kuat, Allah akan memberikan petunjuk dan jalan keluar untuk segala permasalahan yang terjadi dengan cara yang tidak disangka-sangka. Hal ini juga tertulis dalam Al-Qur’an surah At-Thalaq ayat 2 dan 3 sebagai berikut:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ ۝٢ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ۝٣ 

Wa may yattaqillāha yaj‘al lahū makhrajā. Wa yarzuqhu min ḥaiṡu lā yaḥtasib. Wa may yatawakkal ‘alallāhi fahuwa ḥasbuh. Innallāha bālighu amrih. Qad ja‘alallāhu likulli syai’in qadrā.

Artinya: “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.”

Sikap Rasulullah saat Mengalami Kondisi Ekonomi Sulit

Meneladani Hidup Rasulullah SAW Ketika Kondisi Ekonomi Sulit
ilustrasi shalat (unsplash.com/Curated Lifestyle)

Firman Allah SWT dalam surah At-Thalaq tersebut sangat selaras dengan apa yang terjadi belakangan ini. Tidak sedikit dari masyarakat yang mengalami perasaan gelisah karena harga berbagai kebutuhan mengalami kenaikan.

Untuk menjalani kondisi sulit dengan lebih tenang, Allah meminta para hambanya untuk bertakwa agar dicukupkan segala keperluan kita.

Mengutip dari NU Online, kondisi ekonomi sulit seperti saat ini ternyata juga pernah dialami oleh masyarakat Madinah, tepatnya di zaman Rasulullah SAW. Tertulis dalam Kitab Kanzul Ummal, bahwa harga barang dan kebutuhan di Madinah melambung tinggi yang akhirnya membuat masyarakat semakin sulit.

Saat itu, Rasulullah SAW mengajarkan umat untuk tetap tenang, sabar, tetap menjaga kebersamaan, dan yakin atas keberkahan yang akan diberikan oleh Allah SWT. 

Rasul juga mengingatkan bahwa Allah telah memberi karunia keberkahan dalam kebersamaan, di mana makanan satu orang bisa cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang, dan makanan empat orang cukup untuk lima atau enam orang.

Tiga Hal Penting yang Diajarkan Rasulullah saat Ekonomi Sulit

Meneladani Hidup Rasulullah SAW Ketika Kondisi Ekonomi Sulit
ilustrasi kebersamaan tim (freepik.com/peoplecreations)

Saat menghadapi situasi sulit yang terjadi pada masyarakat Madinah, Rasulullah SAW mengajarkan masyarakat untuk menerapkan tiga hal penting berikut, yakni:

  1. Kesabaran
  2. Optimisme
  3. Kebersamaan

Jangan biarkan kondisi ekonomi yang sulit membuat umat saling menjatuhkan, memutus tali sitaruahmi, hingga memikirkan diri sendiri. Saat kondisi sedang sulit, lebih baik masyarakat berhotong royong, saling membantu, dan tetap berbagi.

Jangan sampai ketika ekonomi sulit, ada praktik penimbunan barang, kecurangan dalam timbangan, atau mengambil untung secara berlebihan. Rasulullah saat itu juga menyampaikan kabar gembira bagi para pedagang yang jujur dana amanah dalam hadits riwayat Imam Ibnu Majah:

التَّاجِرُ الأَمِينُ الصَّدُوقُ الْمُسْلِمُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ 

At-tājiru al-amīnu aṣ-ṣadūqu al-muslimu ma‘a an-nabiyyīna wa aṣ-ṣiddīqīna wa asy-syuhadā’i yauma al-qiyāmah.

Artinya: "Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada pada hari kiamat." (HR Ibnu Majah).

Rasulullah Mengajarkan Hidup Sederhana

Meneladani Hidup Rasulullah SAW Ketika Kondisi Ekonomi Sulit
Bahan makanan sederhana untuk menu rumahan. (pexels.com)

Teladan yang harus kita ikuti selanjutnya adalah kesederhanaan yang jadi prinsip hidup Rasulullah. Meski kedudukannya sangat mulia dan terhormat, Nabi Muhammad SAW tetap hidup dalam kesederhanaan.

Tentu teladan ini perlu kita terapkan dalam kehidupan modern, terutama saat kondisi ekonomi sedang sulit. Sebaiknya hindari gaya hidup konsumtif dan mendahulukan kebutuhan daripada keinginan.

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Unẓurū ilā man huwa asfala minkum, wa lā tanẓurū ilā man huwa fauqakum, fahuwa ajdaru an lā tazdarū ni‘matallāhi ‘alaikum.

Artinya: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian." (HR Muttafaq 'Alaih).

Rasul meminta agar kita senantiasa bersyukur dengan rezeki kita saat ini. Banyak orang yang hidup berkecukupan, tapi terus merasa kurang karena selalu membandingkan diri mereka dengan orang yang berada di atasnya. Hal ini juga telah disampaikan lewat firman Allah SWT dalam surat Al-A’raf ayat 31:

 يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَࣖ ۝٣١ 

Yā banī Ādama khużū zīnatakum ‘inda kulli masjidin wa kulū wasyrabū wa lā tusrifū, innahū lā yuḥibbul musrifīn.

Artinya: “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”

Hidup Seperti Musafir, Hanya Membawa yang Diperlukan

Meneladani Hidup Rasulullah SAW Ketika Kondisi Ekonomi Sulit
Ilustrasi musafir (pexels.com/Alican Helik)

Untuk bersikap sederhana dan mengurangi gaya hidup konsumtif, Rasulullah menganalogikan hal ini dengan prinsip hidup seperti musafir atau orang dalam perjalanan. 

Maksudnya, seorang musafir tidak membawa terlalu banyak beban, melainkan hanya apa yang mereka butuhkan diperjalanan. 

وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ، إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟

Wa hal laka yābna Ādama min mālika illā mā akalta fa afnaita, aw labista fa ablaita, aw taṣaddaqta fa amḍaita

Artinya: “Wahai anak Adam tidaklah ada dari hartamu kecuali yang engkau makan kemudian lenyap, atau pakaian yang engkau pakai kemudian usang, atau yang engkau sedekahkan dan jadi simpananmu (di akhirat).” (HR Muslim)

Mari kita teladani apa yang telah Rasulullah lakukan dan ajarkan saat kondisi ekonomi sedang sulit. Penting untuk tetap bersyukur dan berusaha sambil hidup dalam kesederhanaan agar Allah SWT memberikan jalan dan keberkahan pada rezeki kita.

Setiap kesulitan pasti akan ada jalan, Ma.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Denisa Permataningtias
EditorDenisa Permataningtias

Related Articles

See More