Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

5 Daftar Antibiotik untuk Radang Tenggorokan, Apa Saja?

5 Daftar Antibiotik untuk Radang Tenggorokan, Apa Saja?
Pexels/Anna Shvets
  • Antibiotik digunakan untuk radang tenggorokan akibat bakteri Streptococcus, bukan virus, guna mengatasi infeksi dan mencegah komplikasi seperti demam rematik atau gangguan ginjal.
  • Penicillin dan amoxicillin menjadi pilihan utama; amoxicillin lebih praktis, tetapi perlu dihindari oleh orang dengan alergi penisilin karena berisiko memicu reaksi serupa.
  • Cephalexin, azithromycin, dan clindamycin merupakan alternatif berdasarkan riwayat alergi atau kondisi tertentu, dengan risiko resistensi maupun efek samping pencernaan yang perlu diperhatikan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tenggorokan yang mendadak nyeri, panas, sampai sulit menelan makanan memang bikin aktivitas jadi berantakan. Tapi tahukah kamu bahwa radang tenggorokan tidak selalu disebabkan oleh virus?

Ketika bakteri Streptococcus menjadi biang keladinya, kondisi ini dikenal dengan istilah strep throat, dan dokter biasanya akan meresepkan antibiotik agar infeksi cepat teratasi sekaligus mencegah komplikasi yang lebih serius seperti demam rematik atau gangguan ginjal.

Nah, dari sekian banyak pilihan obat yang beredar, ada beberapa jenis antibiotik yang paling sering direkomendasikan oleh tenaga medis untuk mengatasi radang tenggorokan akibat infeksi bakteri. 

Penasaran apa saja jenis antibiotik yang bisa mengobati radang tenggorokan? Berikut Popmama.com merangkum 5 daftar antibiotik untuk radang tenggorokan, dikutip dari GoodRX. Yuk, simak sampai habis!

  1. 1. Penicillin

    Penicillin
    Alo Dokter

    Penicillin bisa dibilang sebagai "sesepuh" dari seluruh antibiotik modern yang ada saat ini. Sejak pertama kali ditemukan pada 1928, obat ini masih dipercaya sebagai salah satu pilihan utama untuk mengatasi radang tenggorokan akibat bakteri Streptococcus. 

    Keunggulannya terletak pada spektrum kerja yang sempit, sehingga hanya menyasar bakteri penyebab infeksi tanpa banyak mengganggu bakteri baik di saluran pencernaan.

    • Komposisi: Phenoxymethylpenicillin, yang juga dikenal sebagai penisilin V, tersedia dalam bentuk kalium fenoksimetil penisilin.
    • Manfaat: Mengatasi infeksi bakteri.
    • Dosis:
      Dewasa: Konsumsi 250 mg sebanyak 4 kali sehari atau 500 mg sebanyak 2 kali sehari selama 10 hari. Dosis harian tidak boleh melebihi 2.000 mg.
      Anak-anak: Konsumsi 250 mg sebanyak 2–3 kali sehari selama 10 hari. Dosis maksimal yang dianjurkan adalah 2.000 mg per hari.
    • Efek samping: Mual, muntah, sakit perut, diare, radang mulut, hingga reaksi alergi berupa ruam dan gatal-gatal.
    • Harga: Berkisar Rp500–Rp15.000 per tablet, Rp12.000–Rp100.000 per botol sirup, dan Rp15.000–Rp25.000 per vial untuk bentuk suntik.

  2. 2. Amoxicillin

    Amoxicillin
    K24 Klik

    Kalau penicillin dirasa kurang praktis karena harus diminum berkali-kali dalam sehari, amoxicillin bisa jadi jawabannya. 

    Obat ini masih satu keluarga besar dengan penicillin, tapi punya keunggulan dari segi rasa yang lebih enak dan jadwal minum yang lebih sederhana. Tak heran, amoxicillin jadi favorit banyak orang, termasuk anak-anak yang susah minum obat pahit.

    • Komposisi: Amoxicillin trihydrate.
    • Manfaat: Meredakan infeksi bakteri pada saluran pernapasan atas, termasuk radang tenggorokan, tonsilitis, sinusitis, dan otitis media.
    • Dosis:
      Dewasa: Dosis yang dianjurkan adalah 500 mg setiap 8 jam atau 750–1.000 mg setiap 12 jam. Pada infeksi yang tergolong berat, dosis dapat ditingkatkan menjadi 750–1.000 mg setiap 8 jam selama 10 hari.
      Anak dengan berat badan <40 kg: Dosis yang diberikan berkisar 40–90 mg/kgBB per hari dan dapat dibagi menjadi beberapa kali pemberian sesuai anjuran dokter..
    • Efek samping: Mual, diare, dan ruam kulit ringan. Pada kasus yang lebih serius, bisa muncul ruam disertai memar, nyeri otot dan sendi, mata menguning, hingga urine berwarna gelap.
    • Harga: Tablet 500 mg dibanderol mulai Rp600-an hingga Rp9.000-an per tablet tergantung merek, sedangkan sirup kering sekitar Rp30.000-an per botol.

    Perlu diingat, karena amoxicillin masih satu golongan dengan penicillin, orang yang alergi penisilin sebaiknya menghindari obat ini karena berisiko memicu reaksi alergi serupa.

  3. 3. Cephalexin

    Cephalexin
    Shopee.co.id

    Nah, buat kamu yang punya riwayat alergi ringan terhadap penisilin, cephalexin bisa jadi solusi alternatif. 

    Obat ini termasuk ke dalam golongan sefalosporin generasi pertama yang bekerja dengan cara serupa, yakni menghambat pembentukan dinding sel bakteri sehingga bakteri penyebab infeksi mati dengan sendirinya.

    • Komposisi: Cefalexin (sefaleksin) monohydrate.
    • Manfaat: Mengatasi infeksi saluran pernapasan, kulit, saluran kemih, hingga tulang, termasuk radang tenggorokan pada orang dengan alergi ringan penisilin.
    • Dosis:
      Dewasa: Dosis yang dianjurkan adalah 250 mg setiap 6 jam atau 500 mg setiap 12 jam selama minimal 10 hari. Dosis harian tidak boleh melebihi 4.000 mg dan perlu dibagi ke dalam beberapa kali pemberian.
      Anak-anak: Dosis yang diberikan berkisar 25–50 mg/kgBB per hari, dikonsumsi setiap 12 jam selama 10 hari
    • Efek samping: Gangguan pencernaan seperti diare, mual, dan sakit perut, disertai kemungkinan pusing, lelah, atau sakit kepala.
    • Harga: Sekitar Rp1.791 per tablet, tergantung merek dan apotek.

    Meski efektif, cephalexin punya spektrum kerja yang lebih luas dibandingkan dengan penicillin dan amoxicillin, sehingga berisiko lebih besar untuk memicu resistensi antibiotik. Karena itu, obat ini biasanya baru diresepkan ketika dua pilihan sebelumnya tidak memungkinkan.

  4. 4. Azithromycin

    Azithromycin
    K24 Klik

    Buat kamu yang sering lupa jadwal minum obat, azithromycin atau yang akrab disapa Z-Pack ini punya keunggulan tersendiri. 

    Cukup diminum sekali sehari selama lima hari, obat golongan makrolida ini jadi pilihan yang lebih praktis dibandingkan dengan antibiotik lain untuk radang tenggorokan.

    • Komposisi: Azithromycin dihydrate.
    • Manfaat: Mengobati infeksi saluran pernapasan bagi orang dengan alergi berat terhadap penisilin maupun sefalosporin, termasuk yang pernah mengalami reaksi anafilaksis.
    • Dosis: Suspensi lepas cepat 12 mg/kg BB per hari selama 5 hari.
    • Efek samping: Mual, muntah, diare, dan nyeri perut. 
    • Harga: Berkisar Rp10.000–Rp30.000 per strip isi 10 tablet.

    Sayangnya, tingkat resistensi bakteri terhadap azithromycin terus meningkat dari waktu ke waktu. Karena itu, obat ini biasanya baru direkomendasikan untuk orang yang benar-benar tidak bisa mengonsumsi penicillin, amoxicillin, atau cephalexin.

  5. 5. Clindamycin

    Clindamycin
    K24 Klik

    Terakhir, ada clindamycin yang biasanya jadi pilihan paling akhir ketika keempat antibiotik sebelumnya tidak bisa digunakan. 

    Obat golongan lincomycin ini memang jarang jadi rekomendasi utama, mengingat rasanya yang cukup kuat dan efek samping pencernaannya yang lebih terasa dibandingkan dengan obat-obat lain di daftar ini.

    • Komposisi: Clindamycin hydrochloride.
    • Manfaat: Alternatif pengobatan bagi orang yang tidak bisa mengonsumsi penicillin, amoxicillin, maupun golongan sefalosporin akibat riwayat alergi berat.
    • Dosis:
      Dewasa: Dosis yang dianjurkan adalah 150–300 mg setiap 6 jam. Pada infeksi yang tergolong berat, dosis dapat ditingkatkan menjadi 400–450 mg setiap 6 jam.
      Anak-anak: Dosis yang diberikan adalah 3–6 mg/kgBB setiap 6 jam.
    • Efek samping: Mual, muntah, nyeri sendi, sensasi terbakar di dada, nyeri saat menelan, hingga diare yang perlu diwaspadai jika berlangsung lama.
    • Harga: Berkisar Rp7.000–Rp50.000 per strip isi 10 tablet, tergantung dosis dan merek.

    Nah, itulah pembahasan mengenai 5 daftar antibiotik untuk radang tenggorokan. Semoga informatif dan bermanfaat!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More