Saat El Nino terjadi, berbagai informasi tentang fenomena ini biasanya ikut bermunculan.
5 Fakta dan Mitos Tentang El Nino yang Perlu Kamu Ketahui

El Nino tidak menghilangkan hujan sepenuhnya; curah hujan dapat turun sekitar 40 persen, tetapi peluang hujan tetap ada.
Dampak El Nino di Indonesia tidak merata; wilayah selatan ekuator dan berpola hujan monsun tipe A lebih rentan, sementara kekeringan dipengaruhi kondisi geografis serta iklim lokal.
El Nino dapat memperparah atau memperpanjang kemarau, bukan menyebabkannya; fenomena ini juga bisa meningkatkan produksi garam melalui cuaca panas dan kering.
Ada yang menyebut El Nino pasti membuat semua wilayah mengalami kekeringan, ada pula yang menganggap El Nino adalah penyebab musim kemarau.
Benarkah demikian? Yuk, cek fakta di balik mitos-mitos seputar El Nino dalam artikel Popmama.com tentang 5 mitos dan fakta tentang El Nino berikut ini.
Table of Content
1. Hujan saat El Nino

Mitos: Tidak ada hujan selama El Nino.
Fakta: Dilansir dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino tidak berarti tidak hujan. Curah hujan saat El Nino memang turun sekitar 40%, tetapi masih ada peluang untuk hujan turun.
2. Wilayah terdampak El Nino di Indonesia

Mitos: El Nino melanda seluruh wilayah Indonesia.
Fakta: Dampak El Nino tidak selalu merata di seluruh wilayah Indonesia. Wilayah Indonesia yang berada di selatan ekuator lebih rentan terhadap El Nino dibanding wilayah Indonesia di utara ekuator.
BMKG menyebutkan bahwa hal ini terjadi karena El Nino cenderung melanda wilayah dengan pola hujan monsun tipe A, seperti Pulau Jawa, Pulau Bali, NTB, NTT, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan
3. Kekeringan akibat El Nino

Mitos: El Nino menyebabkan kekeringan merata di seluruh wilayah Indonesia
Fakta: Dampak kekeringan karena El Nino tidak selalu terjadi merata di seluruh wilayah Indonesia. Dampak El Nino bisa berbeda tergantung dari letak geografis dan iklim lokal tiap wilayah.
4. Dampak El Nino

Mitos: El Nino tidak memiliki dampak positif, hanya negatif.
Fakta: Dampak El Nino tidak selalu negatif, seperti kekeringan, kebakaran hutan, dan gagal panen. El Nino ternyata membawa rezeki bagi petani garam.
El Nino rupanya menguntungkan sektor produksi garam. Seperti yang diketahui, salah satu proses produksi garam adalah penguapan air laut hingga akhirnya menjadi butiran garam yang selama ini kita lihat.
Cuaca panas dan kering selama El Nino mampu mempercepat proses penguapan dan meningkatkan produksi garam mencapai berton-ton. Hal ini tentunya sangat menguntungkan bagi petani garam.
5. El Nino dan musim kemarau

Mitos: El Nino adalah penyebab musim kemarau
Fakta: Melansir dari Bureau of Meteorology, El Nino merupakan fenomena iklim yang terjadi setiap 2-7 tahun sekali sehingga bukanlah penyebab musim kemarau yang bisa terjadi setiap tahun, khususnya di Indonesia.
Terjadinya El Nino, khususnya di Indonesia, hanya memperparah atau memperpanjang musim kemarau karena memicu pergeseran awan pembentuk hujan menjauhi wilayah indonesia sehingga dapat menurunkan curah hujan.
Nah, itulah 5 mitos dan fakta tentang El Nino. Semoga informasi ini dapat membantu meluruskan berbagai anggapan yang beredar di masyarakat dan membuat kamu lebih memahami fenomena El Nino dengan tepat.





















