Bayangkan tubuh yang seharusnya melindungi, malah berbalik menyerang otak sendiri. Itulah gambaran singkat dari ensefalitis autoimun, kondisi langka namun serius yang bisa membuat seseorang tiba-tiba mengalami perubahan perilaku, kehilangan ingatan, bahkan kejang tanpa sebab yang jelas.
Apa Itu Ensefalitis Autoimun? Kenali Gejala hingga Pengobatannya

- Ensefalitis autoimun adalah peradangan otak saat sistem imun keliru menyerang sel saraf sehat, memicu gangguan memori, perilaku, cara berpikir, hingga kejang.
- Gejalanya dapat bermula seperti flu lalu berkembang dalam minggu hingga bulan menjadi psikosis, gangguan bahasa, gerakan tak terkendali, kejang, dan penurunan kesadaran; kerap disalahartikan sebagai gangguan jiwa.
- Penyebab pastinya belum jelas, tetapi dapat terkait tumor, infeksi virus, atau terapi tertentu. Penanganan meliputi imunosupresi, pengangkatan tumor bila ada, serta terapi rehabilitasi; deteksi dini penting.
Sayangnya, kondisi ini kerap disalahartikan sebagai gangguan kejiwaan biasa sehingga penanganannya sering terlambat. Padahal, semakin cepat dikenali dan diobati, semakin besar pula peluang pemulihan.
Supaya kamu semakin mengetahui tentang penyakit ini, berikut Popmama.com mengulas apa itu ensefalitis autoimun? Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
Pengertian Ensefalitis Autoimun

Pexels/Anna Shvets Melansir Mayo Clinic, ensefalitis autoimun (AE) adalah kelompok kondisi yang menyebabkan peradangan atau pembengkakan pada otak. Ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melawan virus dan bakteri malah keliru menyerang sel-sel otak yang sehat.
Gejalanya bisa bermacam-macam, mulai dari hilang ingatan, perubahan cara berpikir, perubahan perilaku, hingga kejang.
Perlu diketahui, ensefalitis autoimun berbeda dengan ensefalitis infeksius yang disebabkan oleh virus atau bakteri. Menariknya, jumlah kasus ensefalitis autoimun ternyata sebanding dengan jumlah kasus ensefalitis infeksius, meski selama ini dianggap jarang terjadi.
Mengutip Cleveland Clinic, ensefalitis autoimun terjadi saat sistem imun keliru menyerang protein pada sel saraf yang sehat serta neurotransmitter atau zat kimia yang mengatur komunikasi antarsel otak.
Serangan inilah yang kemudian memicu peradangan dan memunculkan berbagai gejala, mulai dari hilang ingatan, kejang, hingga psikosis.
Penyebab Ensefalitis Autoimun

Pexels/Monstera Production Sampai saat ini, penyebab pasti ensefalitis autoimun belum diketahui secara jelas. Para ahli menduga, ada beberapa faktor pemicu yang membuat sistem imun "salah sasaran" dan menyerang otak.
Melansir Mayo Clinic dan Cleveland Clinic, berikut beberapa hal yang bisa memicu munculnya kondisi ini:
- Kanker tertentu: Kondisi ini dikenal sebagai ensefalitis autoimun paraneoplastik, yang paling sering dikaitkan dengan kanker paru-paru sel kecil, timoma, dan kanker ovarium.
- Infeksi virus: Seserang yang mengdap penyakit yang diakibatkan oleh virus, seperti infeksi herpes simpleks yang sebelumnya pernah dialami.
- Obat-obatan tertentu: Antibodi monoklonal atau obat penekan sistem imun yang biasa digunakan setelah transplantasi organ.
- Terapi immune checkpoint inhibitor:Salah satu jenis pengobatan kanker yang bekerja dengan cara memodifikasi sistem imun.
Gejala Ensefalitis Autoimun

Pexels/Ketut Subiyanto Gejala ensefalitis autoimun bisa berbeda-beda pada tiap orang, tergantung jenis dan bagian otak yang terdampak. Namun, umumnya gejala diawali dengan tanda-tanda yang mirip dengan infeksi biasa, seperti sakit kepala dan demam, sebelum akhirnya berkembang menjadi lebih serius.
Mengutip International Autoimmune Encephalitis Society (IAES), fase awal atau prodromal biasanya ditandai dengan gejala mirip flu, seperti sakit kepala, demam, mual, muntah, diare, hingga gangguan saluran pernapasan atas. Setelah fase ini, gejala pun berkembang dan bisa meliputi:
- Gejala psikiatri: Seperti cemas berlebihan, serangan panik, perubahan perilaku, agitasi, halusinasi, delusi, hingga sulit mengorganisasi pikiran.
- Gangguan memori: Seseorang yang mengalami gangguan memori dapat mengalami kehilangan ingatan sementara atau mudah lupa.
- Gangguan berbahasa: Perubahan yang terjadi seperti bicara menjadi lebih sedikit atau mengulang-ulang kata dan kalimat.
- Gerakan tubuh yang tidak disengaja: Terjadi seperti kedutan otot atau gerakan berulang pada wajah dan mulut.
- Kejang: Pada kasus tertentu bisa berlangsung lebih dari lima menit atau terjadi berulang tanpa disertai kesadaran penuh.
- Perubahan tingkat kesadaran: Dapat terjadi seperti bingung hingga penurunan kesadaran yang parah.
- Gangguan pola tidur: Orang yang mengalami ensefalitis autoimun biasanya sulit tidur di awal penyakit, lalu tidur berlebihan saat masa pemulihan.
Menurut Cleveland Clinic, gejala lain yang juga bisa muncul adalah gangguan berbahasa (afasia), gangguan keseimbangan dan koordinasi (ataksia), serta psikosis yang ditandai dengan halusinasi, delusi, dan paranoia.
Gejala-gejala ini umumnya berkembang secara bertahap dalam hitungan minggu hingga bulan.
Yang membuat kondisi ini kian rumit, mengutip IAES, sekitar 75% pasien dengan gejala psikiatri justru pertama kali diperiksa oleh psikiater atau psikolog.
Wajar saja, sebab gejala ensefalitis autoimun memang kerap menyerupai gangguan bipolar atau skizofrenia, sehingga banyak pasien yang salah didiagnosis dan penanganannya pun tertunda.
Jenis-Jenis Ensefalitis Autoimun

Wikimedia Commons/Goleisureintl Ensefalitis autoimun ternyata memiliki beberapa jenis, tergantung pada reseptor otak mana yang diserang oleh antibodi. Melansir Mayo Clinic, berikut jenis-jenis ensefalitis autoimun yang perlu kamu ketahui:
- Anti-NMDA-receptor encephalitis: Jenis AE yang paling umum terjadi. Biasanya menyerang wanita muda dan anak-anak, dengan gejala kejang, gerakan wajah tidak normal, hingga psikosis.
- Anti-GABA-B receptor encephalitis: Jenis ini biasanya berkaitan dengan tumor, terutama kanker paru-paru sel kecil, dengan gejala kejang, kebingungan, dan hilang ingatan. Rata-rata terdiagnosis pada usia 60 tahun.
- Anti-GABA-A receptor encephalitis: Umumnya terdiagnosis sekitar usia 40 tahun, meski anak-anak juga bisa mengalaminya, dengan gejala kejang, gangguan gerak, serta perubahan cara berpikir dan berperilaku.
- Anti-AMPA receptor encephalitis: Lebih sering dialami wanita, dengan gejala kebingungan dan hilang ingatan. Rata-rata terdiagnosis pada usia 62 tahun.
- Anti-LGI1 limbic encephalitis: Jenis ini cenderung menyerang pria, dengan gejala hilang ingatan, kebingungan, dan kejang. Rata-rata terdiagnosis pada usia 60 tahun.
- Anti-CASPR2 associated encephalitis: Gejalanya meliputi kebingungan, hilang ingatan, gangguan tidur, hingga nyeri saraf. Jenis ini lebih sering dialami pria dan dalam kasus tertentu bisa memicu sindrom Morvan yang ditandai dengan halusinasi dan perubahan tekanan darah.
- Anti-IgLON5 disease: Jenis ini ditandai dengan gangguan tidur berupa perilaku dan gerakan tak biasa saat sudah tertidur. Rata-rata terdiagnosis pada usia 64 tahun.
Faktor Risiko Ensefalitis Autoimun

Wikimedia Commons/DrOONeil Meski bisa dialami siapa saja, ada beberapa kondisi yang membuat seseorang lebih berisiko mengalami ensefalitis autoimun. Melansir Cleveland Clinic, berikut faktor risikonya:
- Pernah mengalami ensefalitis autoimun sebelumnya, terutama jika tidak diobati dengan tuntas.
- Memiliki riwayat ensefalitis herpes simpleks.
- Sedang mengonsumsi antibodi monoklonal atau obat penekan sistem imun setelah transplantasi organ.
- Memiliki tumor, terutama kanker paru-paru sel kecil, timoma, atau kanker ovarium.
- Pernah menjalani terapi immune checkpoint inhibitor sebagai bagian dari pengobatan kanker.
Namun begitu, ensefalitis autoimun juga bisa muncul pada orang yang tidak memiliki faktor risiko di atas sama sekali.
Pencegahan Ensefalitis Autoimun

Wikimedia Commons/Goleisureintl Sayangnya, ensefalitis autoimun tidak selalu bisa dicegah karena penyebab pastinya belum diketahui. Meski begitu, melansir Mayo Clinic, ada satu langkah yang bisa membantu menurunkan risikonya, yaitu rutin melakukan skrining kanker.
Deteksi dini terhadap tumor, terutama yang berkaitan dengan ensefalitis autoimun paraneoplastik, dapat membantu penanganan dilakukan lebih cepat sebelum memicu gangguan pada otak.
Oleh karena itu, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter mengenai risiko kanker dan skrining yang mungkin diperlukan sesuai kondisi kesehatanmu.
Perawatan dan Pengobatan Ensefalitis Autoimun

Pexels/Anna Shvets Kabar baiknya, meski terdengar menakutkan, ensefalitis autoimun bisa diobati. Mengutip Cleveland Clinic, tujuan utama pengobatan adalah menekan aktivitas sistem imun (imunosupresi) dan mengangkat tumor jika ada. Berikut beberapa metode pengobatan yang umum dilakukan:
- Kortikosteroid: Merupakan obat lini pertama untuk meredakan peradangan otak.
- Imunoglobulin intravena (IVIG): Bekerja dengan menghancurkan antibodi berbahaya penyebab peradangan.
- Plasmaferesis atau plasma exchange: Yaitu prosedur mengganti plasma darah pasien dengan plasma donor yang sehat untuk menyingkirkan antibodi berbahaya.
- Rituximab: Yakni obat suntik golongan antibodi monoklonal yang diberikan bila pengobatan lini pertama belum cukup efektif.
- Siklofosfamid: Yaitu obat kemoterapi yang juga digunakan sebagai pengobatan lini kedua.
- Operasi pengangkatan tumor dan/atau kemoterapi: Apabila ensefalitis autoimun dipicu oleh kanker.
- Obat pendukung lain: Seperti obat antikejang, obat pereda cemas dan depresi, serta obat antipsikotik untuk mengatasi gejala penyerta.
Selain pengobatan medis, terapi fisik, terapi okupasi, dan terapi wicara juga sering direkomendasikan untuk membantu proses pemulihan.
Menurut Cleveland Clinic, penanganan yang dilakukan sejak dini terbukti dapat menurunkan risiko komplikasi jangka panjang serta kemungkinan kambuhnya penyakit ini di kemudian hari.
Nah, itulah pembahasan mengenai apa itu ensefalitis autoimun? Sebuah penyakit yang dapat mengganggu kesehatan otak. Semoga informatif dan bermanfaat!





















