Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Hipertensi Tingkat 2 Apakah Berbahaya? Ini Fakta dan Penjelasannya

Hipertensi Tingkat 2 Apakah Berbahaya? Ini Fakta dan Penjelasannya
Pexels/Marta Branco
Intinya Sih
Gini Kak
  • Hipertensi tingkat 2 tergolong serius dengan tekanan darah ≥140/90 mmHg dan berisiko menyebabkan stroke, serangan jantung, serta kerusakan organ vital bila tidak ditangani segera.
  • Kondisi ini bisa dikendalikan melalui kombinasi obat penurun tekanan darah, pola makan sehat, olahraga rutin, serta pengelolaan stres agar kualitas hidup tetap terjaga.
  • Faktor pemicu utamanya meliputi konsumsi garam berlebih, kurang aktivitas fisik, obesitas, stres kronis, alkohol, kafein, merokok, usia lanjut, dan riwayat keluarga hipertensi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernahkah kamu memeriksa tekanan darah dan menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi dari biasanya? Wajar rasanya kalau kamu langsung waswas dan panik akan hasil tersebut. 

Apalagi kalau dokter bilang kamu sudah masuk kategori hipertensi tingkat 2, bukan lagi sekadar darah tinggi ringan yang dialami oleh tubuh.

Supaya tidak makin cemas karena informasi yang simpang siur, berikut Popmama.com membahas hipertensi tingkat 2 apakah berbahaya? Yuk, simak sampai habis!

Apakah Berbahaya Orang dengan Hipertensi Tingkat 2?

Apakah Berbahaya Orang dengan Hipertensi Tingkat 2
Pexels/Vlada Karpovich

Jawabannya, iya, hipertensi tingkat 2 memang tergolong kondisi yang serius dan tidak boleh dianggap remeh. Mengutip Norton Healthcare, hipertensi tingkat 2 didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik 90 mmHg atau lebih. 

Kondisi ini membutuhkan penanganan medis segera karena kalau dibiarkan tanpa pengobatan, risikonya bisa mengarah ke stroke, serangan jantung, hingga kerusakan serius pada ginjal, mata, dan otak.

Melansir Pain and Spine Specialists, hipertensi tingkat 2 merupakan tanda peringatan atau red flag. Semakin tinggi tekanan darah, semakin besar pula risiko serangan jantung, stroke, penyakit ginjal, dan gangguan penglihatan. 

Berbeda dengan hipertensi tingkat 1 yang kadang masih bisa dikendalikan melalui perubahan gaya hidup saja, hipertensi tingkat 2 umumnya membutuhkan penanganan medis segera, termasuk obat-obatan.

Menurut American Heart Association (AHA), kategori tekanan darah terbagi menjadi normal (di bawah 120/80 mmHg), meningkat (120–129 mmHg dengan angka bawah di bawah 80), hipertensi tingkat 1 (130–139 mmHg atau 80–89 mmHg), hingga hipertensi tingkat 2 (140 mmHg atau lebih, atau 90 mmHg atau lebih). 

Jika sudah masuk hipertensi tingkat 2, tenaga kesehatan biasanya akan meresepkan kombinasi obat penurun tekanan darah dan perubahan gaya hidup.

Hipertensi Tingkat 2 Apakah Bisa Sembuh?

Hipertensi Tingkat 2 Apakah Bisa Sembuh
Pexels/Pavel Danilyuk

Pertanyaan ini pasti muncul di benak banyak orang begitu didiagnosis. Melansir Koch Clinical Research, hipertensi tingkat 2 tidak otomatis memperpendek usia secara drastis selama dikelola dengan baik. 

Kuncinya ada pada manajemen, seperti rutin minum obat, menerapkan pola makan lebih sehat, dan mengubah gaya hidup. Kalau langkah-langkah itu dilakukan sejak dini dan konsisten, seseorang tetap bisa menjalani hidup yang panjang dan berkualitas.

Sebaliknya, jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, hipertensi tingkat 2 dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, hingga gagal ginjal yang pada akhirnya dapat memperpendek harapan hidup. 

Jadi, hipertensi tingkat 2 memang bukan kondisi yang bisa sembuh total dalam arti hilang selamanya, tetapi bisa dikendalikan dengan baik sehingga risikonya jauh berkurang.

Penyebab Hipertensi Tingkat 2

Penyebab Hipertensi Tingkat 2
Pexels/Tara Winstead

Ada beberapa faktor yang dapat memicu seseorang mengalami hipertensi tingkat 2. Melansir Norton Healthcare, sejumlah kebiasaan dan kondisi tubuh berikut ini erat kaitannya dengan tekanan darah yang terus meningkat:

  • Pola makan tinggi garam dan rendah nutrisi seimbang
  • Kurang aktivitas fisik atau jarang berolahraga
  • Berat badan berlebih sehingga memberi beban ekstra pada jantung
  • Stres kronis yang memicu pelepasan hormon kortisol berlebih
  • Konsumsi alkohol dan kafein secara berlebihan
  • Kebiasaan merokok

Selain faktor gaya hidup di atas, mengutip jurnal The Journal of Clinical Hypertension, usia yang semakin bertambah juga berperan besar karena tekanan darah sistolik cenderung terus naik seiring bertambahnya umur. Riwayat keluarga dengan hipertensi atau penyakit jantung juga disebut sebagai salah satu faktor risiko yang perlu diwaspadai.

Apa Saja yang Harus Dilakukan Ketika Mengidap Hipertensi Tingkat 2?

Apa Saja yang Harus Dilakukan Ketika Mengidap Hipertensi Tingkat 2
Pexels/Aleksandar Andreev

Melansir Norton Healthcare, berikut beberapa perubahan gaya hidup yang disarankan sebelum atau bersamaan dengan pengobatan medis:

  1. Terapkan pola makan DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) yang kaya sayur, rendah garam, dan cukup protein rendah lemak
  2. Rutin melakukan aktivitas fisik untuk membantu menurunkan tekanan darah
  3. Menjaga berat badan tetap ideal untuk mengurangi beban kerja jantung
  4. Mengelola stres dengan baik agar produksi hormon kortisol tidak berlebihan
  5. Membatasi konsumsi alkohol dan kafein
  6. Berhenti merokok untuk memperbaiki sirkulasi darah

Selain itu, mengutip Koch Clinical Research, pemeriksaan tekanan darah secara rutin dan kontrol berkala ke dokter juga penting dilakukan supaya rencana pengobatan bisa disesuaikan kalau memang diperlukan.

Apa Saja Obat untuk Hipertensi Tingkat 2?

Apa Saja Obat untuk Hipertensi Tingkat 2
Pexels/SHVETS production

Selain perubahan gaya hidup, hipertensi tingkat 2 umumnya membutuhkan obat-obatan untuk mengontrol tekanan darah. Melansir Norton Healthcare, berikut beberapa golongan obat yang biasa diresepkan dokter:

  1. Diuretik tiazid: Seperti hydrochlorothiazide, chlorthalidone, dan indapamide, yang bekerja membantu ginjal membuang kelebihan garam dan air
  2. ACE inhibitor: Seperti lisinopril, enalapril, dan ramipril, yang mencegah pembentukan hormon penyempit pembuluh darah
  3. ARB atau angiotensin II receptor blocker: Seperti losartan, valsartan, dan olmesartan, yang bekerja menghambat hormon penyempit pembuluh darah
  4. Beta blocker: Seperti metoprolol, atenolol, dan bisoprolol, yang membuat detak jantung lebih lambat dan tidak terlalu kuat
  5. Calcium channel blocker: Seperti amlodipine, diltiazem, dan nifedipine, yang membantu pembuluh darah lebih rileks

Mengutip jurnal The Journal of Clinical Hypertension, pasien hipertensi tingkat 2 sering kali membutuhkan lebih dari satu jenis obat sekaligus atau terapi kombinasi agar target tekanan darah dapat tercapai lebih cepat dan efektif.

Nah, itulah pembahasan mengenai hipertensi tingkat 2 apakah berbahaya? Semoga informatif dan bermanfaat!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More