Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Ini Cara Cermat Memilih Pangan Olahan agar Tak Picu Obesitas
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI
  • Kasus obesitas di Indonesia meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir, menjadi perhatian serius karena berkaitan dengan penyakit tidak menular seperti diabetes dan jantung.
  • Pangan olahan tidak harus dihindari sepenuhnya, namun konsumen perlu cermat membaca label gizi serta mengontrol asupan gula, garam, dan lemak agar tetap sehat.
  • Keseimbangan antara pola makan bijak dan aktivitas fisik rutin menjadi kunci utama mencegah obesitas serta menjaga kualitas hidup masyarakat modern.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kasus obesitas di Indonesia terus menunjukkan tren kenaikan. Dalam lima tahun terakhir, proporsi orang dewasa dengan obesitas meningkat dari sekitar seperlima populasi menjadi hampir seperempatnya .

Angka ini menjadi sinyal bahwa persoalan berat badan berlebih tidak bisa lagi dianggap sepele. Obesitas berkaitan erat dengan berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes, penyakit jantung, hingga gangguan ginjal.

Bahkan secara nasional, penyakit tidak menular masih menjadi penyebab kematian terbesar . Artinya, pengendalian berat badan bukan hanya urusan estetika, melainkan langkah penting menjaga kualitas hidup.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menegaskan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang berdampak serius terhadap kesehatan.

“Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan. Ini adalah faktor risiko berbagai penyakit tidak menular yang bisa menurunkan kualitas hidup dan meningkatkan risiko kematian. Karena itu, pencegahannya harus dimulai dari pengendalian pola makan dan gaya hidup,” ujarnya dalam acara Media Briefing "Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas", pada Selasa, 3 Maret 2026, di Jakarta.

Berikut, Popmama.com akan menjelaskan tentang cara cermat memilih pangan olahan agar tak picu obesitas. Yuk simak penjelasan berikut ini.

Memahami Peran Pangan Olahan

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Di tengah mobilitas tinggi dan gaya hidup serba cepat, pangan olahan menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Produk ini dibuat melalui proses teknologi tertentu untuk menjaga keamanan, mutu, dan daya tahan simpan.

Metode seperti fermentasi, pemanasan, pendinginan, hingga pengeringan telah lama digunakan untuk memastikan makanan aman dikonsumsi.

Direktur SEAFAST Center IPB, Dr. Puspo Edi Giriwono, menjelaskan bahwa pangan olahan merupakan bagian dari sistem pangan modern berbasis sains dan teknologi. 

“Teknologi pangan dirancang untuk menjamin keamanan, mutu, dan masa simpan produk. Tantangannya bukan pada teknologinya, melainkan pada bagaimana konsumen memahami informasi di kemasan dan memilih dengan bijak,” jelasnya dalam acara Media Briefing "Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas", pada Selasa, 3 Maret 2026, di Jakarta.

Dengan kata lain, pangan olahan bukan untuk dijauhi sepenuhnya, yang diperlukan adalah kemampuan memilih dan mengatur konsumsinya secara bijak.

Kendalikan Gula, Garam, dan Lemak

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan obesitas adalah konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang melebihi anjuran. Data menunjukkan hampir sepertiga masyarakat mengonsumsi GGL melampaui batas yang direkomendasikan .

Head of Strategic Marketing Nutrifood, Susana S.T.P., M.Sc., PD.Eng, mengingatkan pentingnya memperhatikan informasi pada kemasan. 

“Konsumen perlu melihat takaran saji, energi total, persentase AKG, serta komposisi bahan. Dengan memahami informasi tersebut, masyarakat dapat mengontrol asupan gula, garam, dan lemak sesuai kebutuhan hariannya,” katanya dalam acara Media Briefing "Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas", pada Selasa, 3 Maret 2026, di Jakarta.

Sebagai contoh, satu botol minuman manis kemasan ukuran 250 ml rata-rata mengandung lebih dari 20 gram gula.

Jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan tinggi kalori lainnya, total asupan energi harian bisa dengan mudah melampaui kebutuhan tubuh.

Cara Cermat Membaca Label Pangan Olahan

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Agar tidak salah pilih, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan sebelum membeli produk kemasan:

  1. Cek takaran saji.

Satu kemasan bisa terdiri dari lebih dari satu porsi. Tanpa memperhatikan ini, asupan kalori bisa berlipat.

  1. Perhatikan energi total dan persentase AKG.

Informasi Nilai Gizi membantu memahami kontribusi produk terhadap kebutuhan harian.

  1. Amati kandungan gula, natrium, dan lemak.

Regulasi mewajibkan pencantuman informasi GGL pada label pangan olahan dan pangan siap saji . Pilih produk dengan kandungan yang lebih rendah.

  1. Kenali logo pilihan lebih sehat.

Produk dengan kandungan gula maksimum 6 gram per 100 ml untuk minuman siap saji dapat masuk kategori tertentu sesuai profil gizi yang ditetapkan.

Seimbangkan dengan Aktivitas Fisik

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Pola makan yang terkontrol perlu diimbangi dengan kebiasaan aktif bergerak. Kurangnya aktivitas fisik dan rendahnya konsumsi buah serta sayur masih menjadi tantangan di masyarakat.

Padahal, kombinasi pola makan seimbang dan aktivitas rutin merupakan pondasi utama menjaga berat badan ideal.

Dr. Nadia juga mengajak masyarakat memanfaatkan momentum tertentu. Ia memberikan pesan

“Lakukan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan manfaatkan bulan Ramadan ini untuk melatih diri kita mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak bukan hanya menahan lapar dan dahaga”

Pada akhirnya, kunci mencegah obesitas bukan terletak pada pelarangan total terhadap pangan olahan, melainkan pada kesadaran dan kecermatan dalam memilih.

Itulah penjelasan tentang cara cermat memilih pangan olahan agar tak picu obesitas.

Dengan memahami label gizi, mengontrol porsi, serta menjalani gaya hidup aktif, masyarakat tetap bisa menikmati kepraktisan pangan modern tanpa meningkatkan risiko obesitas.

Editorial Team