7 Jenis Hernia, Kenali Lokasi dan Cara Penanganannya!

- Hernia Epigastrik adalah hernia yang terjadi ketika jaringan lemak atau isi perut menonjol melalui kelemahan di linea alba antara pusar dan tulang dada. Hernia ini sering tidak bergejala namun dapat muncul sebagai benjolan kecil saat berdiri atau batuk.
- Hernia Femoral terjadi ketika jaringan perut menonjol melalui kanal femoral di pangkal paha bagian atas, lebih bawah dari hernia inguinal. Jenis hernia ini jauh lebih jarang dibanding hernia inguinal, tetapi lebih sering menyerang wanita lanjut usia.
- Hernia Hiatal adalah kondisi di mana bagian atas lambung terdorong ke dalam rongga dada melalui lubang diafragma
Hernia merupakan kondisi medis di mana bagian jaringan atau organ dalam menonjol melalui dinding yang melemah, dan jenisnya sangat beragam tergantung lokasi dan penyebabnya.
Dilansir dari NCBI Bookshelf, hernia bisa muncul di pangkal paha, pusar, bekas operasi, atau bahkan melalui diafragma, dan meskipun beberapa tidak menimbulkan gejala, semuanya memiliki potensi komplikasi serius seperti strangulasi atau obstruksi usus.
Menurut Healthgrades, deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah resiko jangka panjang dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Memahami berbagai jenis hernia serta gejala khasnya membantu pasien mengenali kondisi lebih awal dan menentukan tindakan medis yang diperlukan.
Berikut Popmama.com akan menjelaskan tentang 7 jenis Hernia. Yuk simak penjelasannya dibawah ini.
1. Hernia Epigastrik

Hernia epigastrik adalah hernia yang terjadi ketika jaringan lemak atau isi perut menonjol melalui kelemahan di linea alba antara pusar dan tulang dada. Dilansir dari TeachMeSurgery, epigastrik sering tidak bergejala namun dapat muncul sebagai benjolan kecil saat berdiri atau batuk.
Meskipun terkadang muncul sejak lahir, hernia ini lebih sering didiagnosis pada dewasa, terutama saat otot perut melemah. Hal yang penting adalah bahwa meskipun sering asymptomatic, hernia epigastrik bisa terjebak (incarcerated) dan menyebabkan nyeri atau komplikasi jika jaringan terjepit.
Karena itu, evaluasi medis dan perbaikan bedah sering direkomendasikan terutama bila menyebabkan gejala atau resiko komplikasi tinggi. Penanganan hernia epigastrik biasanya melibatkan operasi untuk menutup defek pada dinding perut, sering menggunakan mesh tergantung ukuran.
Diagnosis umumnya dibuat melalui pemeriksaan klinis dan imaging jika diperlukan. Mengingat resiko strangulasi yang meskipun jarang tetap ada, dokter sering menganjurkan tindak lanjut medis.
Deteksi dini membantu pasien menghindari nyeri kronis dan komplikasi serius. Perbaikan hernia epigastrik dapat memperbaiki fungsi dinding perut dan kenyamanan pasien.
2. Hernia Femoral

Hernia femoral terjadi ketika jaringan perut menonjol melalui kanal femoral di pangkal paha bagian atas, lebih bawah dari hernia inguinal. Dilansir dari WebMD, jenis hernia ini jauh lebih jarang dibanding hernia inguinal, tetapi lebih sering menyerang wanita lanjut usia.
Menurut NCBI Bookshelf, hernia femoral hanya mencakup 5–7 % dari semua hernia dan umumnya memerlukan penanganan bedah karena resiko strangulasi yang tinggi.
Ini berarti bagian usus yang terjepit dapat kehilangan aliran darahnya dan menyebabkan kondisi darurat medis jika tidak segera dioperasi. Karena terletak lebih dalam dan kecil, benjolan hernia femoral juga sering lebih sulit dideteksi pada tahap awal.
Dalam banyak kasus, benjolan akibat hernia femoral tampak di lipatan paha bagian dalam dan disertai nyeri saat berdiri atau batuk. Penanganan medis mendesak dianjurkan, terutama jika benjolan menjadi tidak bisa ditekan kembali (incarcerated) atau sangat nyeri.
Dokter biasanya melakukan pemeriksaan fisik dan imaging seperti USG untuk memastikan diagnosis. Bedah dilakukan untuk mencegah komplikasi serius dan memperkuat area kanal femoral dengan mesh.
Karena resikonya tinggi, hernia femoral dianggap lebih darurat dibanding hernia lain yang lebih umum.
3. Hernia Hiatal

Hernia hiatal adalah kondisi di mana bagian atas lambung terdorong ke dalam rongga dada melalui lubang diafragma (hiatus) yang biasanya memisahkan perut dan dada.
Hernia hiatal sering dikaitkan dengan refluks asam lambung (GERD) karena posisi sfingter esofagus yang berubah akibat tonjolan tersebut. Sekitar 60 % orang berusia di atas 50 tahun memiliki hernia hiatal, meskipun hanya sebagian yang bergejala.
Gejala khasnya meliputi heartburn, rasa asam di mulut, dan kesulitan menelan yang sering memburuk setelah makan. Tindakan medis bisa berupa perubahan gaya hidup, obat pengurang asam lambung, atau pembedahan pada kasus yang parah.
Hernia hiatal penting karena meskipun tidak selalu terlihat secara eksternal, gejalanya dapat menurunkan kualitas hidup dan menyebabkan komplikasi seperti esofagitis kronis. Dua tipe yang umum adalah sliding (lebih sering) dan paraesophageal (lebih beresiko komplikasi).
Diagnosis biasanya ditegakkan melalui endoskopi atau radiografi barium swallow untuk menilai posisi lambung. Pada banyak kasus, terapi non‑bedah cukup efektif, tetapi pada komplikasi atau gejala berat, intervensi bedah mungkin diperlukan.
Penanganan tepat dapat membantu mengurangi refluks dan menghindari kerusakan esofagus jangka panjang.
4. Hernia Incisional

Hernia incisional adalah hernia yang terjadi di area bekas sayatan operasi perut karena jaringan yang melemah saat penyembuhan luka. Dilansir dari WebMD, sekitar 10 % hernia berasal dari bekas operasi ini, terutama setelah operasi darurat atau luka yang terinfeksi.
Menurut Healthgrades, hernia incisional ditandai dengan benjolan yang muncul di sepanjang garis bekas operasi dan bisa bertambah besar seiring waktu.
Yang penting adalah bahwa hernia ini tidak hilang sendiri dan memiliki potensi besar mengalami komplikasi seperti incarcerasi atau obstruksi usus jika dibiarkan. Oleh karena itu, evaluasi bedah biasanya dianjurkan untuk memperbaiki dinding otot dan mengurangi resiko kekambuhan.
Penanganan hernia incisional sering melibatkan perbaikan dengan mesh untuk memperkuat area yang lemah, yang telah menjadi standar dalam bedah modern. Dokter mempertimbangkan usia pasien, ukuran hernia, dan riwayat operasi saat menentukan metode operasi.
Karena hernia incisional bisa terjadi berbulan‑bulan atau bertahun‑tahun setelah operasi awal, riwayat bedah penting dalam diagnosis. Perbaikan yang tepat dapat mengurangi nyeri dan menurunkan kemungkinan hernia kembali.
Konsultasi dokter dianjurkan segera setelah benjolan bekas luka terdeteksi.
5. Hernia Inguinal

Hernia inguinal adalah hernia paling umum, di mana bagian usus atau jaringan menonjol melalui dinding perut di daerah pangkal paha. Dilansir dari WebMD, sekitar 3 dari 4 hernia berada di area pangkal paha, dan hampir semuanya adalah hernia inguinal yang lebih umum pada pria.
Menurut Healthgrades, hernia ini bisa menyebabkan benjolan yang semakin jelas saat batuk atau mengejan dan sering membutuhkan evaluasi bedah karena resiko terjepitnya usus.
Yang penting dipahami adalah bahwa hernia ini tidak hilang sendiri dan berpotensi menyebabkan komplikasi obstruksi atau strangulasi usus jika dibiarkan. Deteksi dini dan penanganan medis dapat memperbaiki kualitas hidup dan mencegah keadaan darurat yang mengancam nyawa.
Pada hernia inguinal juga terdapat dua subtipe utama (indirect dan direct) tergantung jalur protrusinya melalui otot dinding perut yang berbeda. Terapi biasanya berupa pembedahan untuk memasukkan kembali jaringan dan memperbaiki kelemahan otot dengan mesh atau jahitan.
Operasi bisa dilakukan secara tradisional atau laparoskopi tergantung kondisi pasien. Tanpa perbaikan, hernia inguinal cenderung bertambah besar dan lebih beresiko mengalami komplikasi serius. Oleh sebab itu, setiap benjolan atau gejala di pangkal paha sebaiknya diperiksa dokter.
6. Hernia Spigelian

Hernia Spigelian adalah hernia langka yang terjadi melalui defek di Spigelian fascia, yaitu lapisan konektif antara otot perut dan linea semilunaris. Dilansir dari StatPearls (NCBI Bookshelf), jenis ini hanya sekitar 0.12–2 % dari semua hernia dinding perut, tetapi penting karena resiko strangulasinya tinggi.
Hernia Spigelian terkadang suka tidak disadari oleh penderitanya karena tandanya kecil dan sulit dideteksi secara klinis, sehingga membutuhkan imaging seperti CT atau USG untuk diagnosis yang akurat.
Yang penting dipahami adalah bahwa karena lokasi di dalam lapisan otot, benjolan mungkin tidak tampak dan penderita hanya merasakan nyeri atau ketidaknyamanan lokal.
Karena komplikasi bisa berkembang tanpa benjolan yang jelas, evaluasi medis segera sangat dianjurkan bila terdapat gejala yang mencurigakan. Penanganan hernia Spigelian biasanya berupa operasi perbaikan hernia, sering dilakukan laparoskopik untuk melihat area defek dengan jelas.
Diagnosis yang terlambat dapat meningkatkan resiko obstruksi usus atau gagal suplai darah pada jaringan yang terjepit. Oleh karena itu, hernia ini penting dikenali meskipun jarang.
Terapi bedah dapat memperbaiki kelemahan dinding perut dan mengurangi resiko komplikasi akut. Intervensi dini membantu menghindari keadaan darurat medis yang mengancam jiwa.
7. Hernia Umbilikalis

Hernia umbilikalis terjadi ketika bagian usus atau jaringan perut menonjol melalui kelemahan di sekitar pusar (umbilikus). Dilansir dari Healthline, umbilical hernia sering terlihat pada bayi dan anak kecil, tetapi juga dapat terjadi pada orang dewasa terutama yang mengalami obesitas atau kehamilan.
Menurut Healthgrades, benjolan di area pusar mungkin lebih terlihat saat berdiri atau batuk, dan sering kali tidak berbahaya pada awalnya. Namun, pada orang dewasa hernia ini dapat membesar dan menyebabkan ketidaknyamanan atau resiko terjepitnya usus.
Oleh karena itu, pemeriksaan medis dan pertimbangan operasi tergantung gejala dan perkembangan hernia.
Hernia umbilikalis berbeda dengan paraumbilikal karena lokasinya tepat di pusat, namun keduanya termasuk hernia dinding perut (ventral) yang dapat memerlukan perbaikan bedah jika menimbulkan gejala.
Pada bayi sebagian besar hernia umbilikalis menutup sendiri hingga usia 4–5 tahun, tetapi hernia yang besar atau persisten perlu evaluasi bedah. Pada orang dewasa, resiko komplikasi lebih tinggi sehingga dokter sering menganjurkan perbaikan hernia dengan mesh.
Deteksi dini penting agar hernia tidak berkembang menjadi lebih besar dan beresiko strangulasi usus. Perbaikan yang tepat membantu mencegah komplikasi dan mengembalikan kenyamanan pasien.
Dilansir dari WebMD, evaluasi medis tepat waktu, termasuk pemeriksaan fisik dan imaging bila perlu, adalah langkah krusial untuk diagnosis yang akurat.
Menurut NCBI Bookshelf, banyak hernia dapat ditangani secara efektif melalui operasi atau terapi konservatif tergantung jenis dan tingkat keparahan.
Dengan mengenali 7 jenis Hernia, hingga mengetahui lokasi dan cara penanganannya, pasien dapat mengambil tindakan cepat dan mencegah kondisi menjadi lebih serius.
Kesadaran dan penanganan yang tepat membantu meminimalkan resiko dan meningkatkan kualitas hidup jangka panjang. Semoga bermanfaat!

















