Itikaf memang dianjurkan, bahkan disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk dilakukan selama 10 hari terakhir bulan Ramadan. Namun, tidak ada larangan untuk melakukan itikaf di luar waktu tersebut.
Melansir dari NU Online, sebagian ulama bahkan menganjurkan umat muslim untuk melaksanakan itikaf di luar bulan Ramadan karena ibadah ini merupakan ibadah mulia.
قوله والاعتكاف سنة مؤكدة وهي (مستحبة) أي مطلوبة في كل وقت في رمضان وغيره بالإجماع
Artinya: ”I’tikaf merupakan ibadah sunnah muakkadah, suatu ibadah yang dianjurkan setiap waktu baik pada bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan berdasarkan ijma’ ulama.” (As-Syarbini Al-Khatib, Al-Iqna fi Halli Alfazhi Abi Syuja, [Beirut, Darul Fikr: 1995 M/1415 H], halaman 247).
Itikaf dapat dikerjakan sama seperti mengerjakan ibadah salat sunnah. Jika salat sunnah terdapat waktu yang tidak disarankan, yaknii saat salat sunnah setelah subuh dan ashar, maka itikaf tidak mengenal waktu tahrim.
itu dia penjelasan soal kapan waktunya melakukan itikaf. Ibadah ini dapat dikerjakan kapan saja, namun disunnahkan pada 10 malam terakhir bulan Ramadan.
Apa yang dilakukan ketika itikaf? | Saat i'tikaf, Anda melakukan kegiatan ibadah di masjid seperti salat (wajib dan sunnah), membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, dan merenung (tafakur). |
Itikaf mulai jam berapa? | I'tikaf tidak punya waktu mulai spesifik, bisa kapan saja, tapi paling utama di 10 hari terakhir Ramadan dimulai sejak matahari terbenam di malam ke-21 (atau ke-20), berakhir sebelum salat Idulfitri. |
Berapa lama minimal waktu itikaf? | Sebagian ulama lain berpendapat, waktu minimalnya adalah sehari. Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Hanifah dan ini juga pendapat sebagian Malikiyah. |