Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Kasus Ibu Lakban hingga Ikat Anaknya di Bantul, Apa Faktor Pemicunya?
dok. Polres Bantul
  • TKS, seorang ibu di Bantul, melakban dan mengikat anaknya karena diduga mengalami kelelahan dan tekanan psikis saat mengasuh balita seorang diri.

  • Kelelahan, tekanan ekonomi, dan minimnya dukungan menjadi faktor yang diduga memicu kondisi tersebut.

  • Oleh karena itu, kesehatan mental ibu dan dukungan dalam pengasuhan anak perlu mendapat perhatian.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kasus seorang ibu berinisial TKS (25) di Bantul, DIY, menjadi sorotan publik beberapa waktu lalu. TKS diketahui melakban mulut serta mengikat tangan dan kaki anak balitanya.

Banyak warganet mempertanyakan tindakan tersebut. Berdasarkan pemeriksaan polisi, TKS mengaku melakukannya karena lelah mengurus anak seorang diri. Keluarga bahkan menyebut kondisi yang dialaminya berkaitan dengan gangguan psikis akibat kelelahan menjadi ibu baru atau yang dikenal sebagai baby blues.

Meski tindakan tersebut tetap tidak dapat dibenarkan, para psikolog menilai kasus seperti ini menunjukkan pengasuhan anak tidak hanya soal naluri keibuan. Dalam kondisi tertentu, tekanan yang menumpuk dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan secara rasional.

Lantas, apa faktor pemicunya seorang ibu bisa terkena baby blues? Berikut Popmama.com sajikan informasinya buat Mama. Simak di bawah, ya!

1. Kelelahan mengurus anak tanpa henti

pexels.com/Marcial Comeron

Mengasuh balita membutuhkan perhatian penuh, mulai dari memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga menghadapi pola tidur yang tidak teratur.

Ketika kelelahan fisik berlangsung terus-menerus tanpa waktu beristirahat yang cukup, seseorang berisiko mengalami parental burnout atau kelelahan akibat peran sebagai orangtua.

Dalam kondisi ini, emosi menjadi lebih sulit dikendalikan dan kemampuan mengambil keputusan dapat menurun.

Hal-hal yang biasanya dianggap tidak masuk akal bisa saja dilakukan secara impulsif karena dorongan ingin segera keluar dari tekanan yang dirasakan.

2. Himpitan ekonomi yang menambah beban mental

pexels.com/Timur Weber

Selain mengurus anak, banyak orangtua juga harus menghadapi tekanan ekonomi. Kebutuhan keluarga yang terus meningkat dapat menjadi sumber stres tersendiri.

Tekanan ekonomi sering kali tidak berdiri sendiri. Ketika digabungkan dengan kelelahan dan tanggung jawab pengasuhan, beban mental yang dirasakan menjadi berlipat ganda.

Melansir Duke University, stres finansial memiliki hubungan erat dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental, termasuk kecemasan dan depresi pada orangtua.

3. Minimnya support system

istockphoto.com

Tidak semua ibu memiliki pasangan, keluarga, atau lingkungan yang dapat membantu proses pengasuhan.

Dalam kasus di Bantul, polisi menyebut suami TKS bekerja di Jakarta dan hanya pulang sekitar sebulan sekali. Situasi ini membuat sebagian besar tanggung jawab pengasuhan berada di pundaknya seorang diri.

Padahal, keberadaan support system memiliki peran penting untuk menjaga kesehatan mental seorang ibu. 

Bantuan sederhana seperti menemani menjaga anak, mendengarkan keluh kesah, atau memberikan waktu istirahat membantu mengurangi tekanan emosional yang dirasakan.

Tanpa dukungan tersebut, rasa kesepian dan stres berpotensi menumpuk hingga memengaruhi kondisi psikologis seseorang.

4. Gangguan kesehatan mental yang tidak terdeteksi

pexels.com/RDNE Stock project

Baby blues umumnya muncul setelah melahirkan dan ditandai dengan perubahan suasana hati, mudah menangis, hingga merasa kewalahan.

Namun dalam beberapa kasus, kondisi yang lebih serius seperti depresi pascamelahirkan (postpartum depression), gangguan kecemasan, atau stres juga dapat terjadi dan sering kali tidak terdeteksi.

Oleh karena itu, para ahli menekankan pentingnya memperhatikan kesehatan mental ibu, sama pentingnya dengan memperhatikan kesehatan fisiknya.

5. Pengasuhan anak bukan tanggung jawab satu orang

pexels.com/Anastasiya Gepp

Kasus di Bantul menjadi pengingat pengasuhan anak bukanlah tanggung jawab yang seharusnya dipikul sendirian oleh seorang ibu. 

Dukungan pasangan, keluarga, lingkungan sekitar, hingga akses layanan kesehatan mental punya peran penting dalam membantu orang tua menghadapi tekanan pengasuhan.

Tindakan TKS tentu tidak dapat dibenarkan. Namun, kasus ini turut menyoroti beratnya tantangan yang dihadapi sebagian orangtua.

Itulah informasi mengenai kasus ibu yang melakban dan mengikat anaknya di Bantul. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kita semua.

Editorial Team

Related Article