Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Kenapa Diet Sering Gagal? Ini Penjelasan Medisnya
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI
  • Ahli menjelaskan bahwa kegagalan diet tidak selalu karena kurang disiplin, melainkan dipengaruhi faktor biologis seperti hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang.
  • Metabolisme tubuh bisa melambat saat asupan kalori dikurangi drastis, membuat proses pembakaran energi lebih lambat dan penurunan berat badan jadi tidak optimal.
  • Obesitas dikategorikan sebagai penyakit kronis kompleks yang memerlukan pendekatan medis terstruktur serta pendampingan profesional agar hasil penurunan berat badan lebih sehat dan berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang sudah mencoba berbagai cara untuk menurunkan berat badan, mulai dari mengurangi porsi makan, mengikuti pola diet tertentu, hingga rutin berolahraga.

Meski begitu, tidak sedikit yang merasa berat badan tetap sulit turun atau bahkan kembali naik setelah berhasil menurunkannya beberapa kilogram.

Situasi ini sering membuat seseorang merasa kurang disiplin atau tidak cukup kuat menahan keinginan makan. Padahal, para ahli menegaskan bahwa kegagalan diet tidak selalu berkaitan dengan kemauan semata.

Ada berbagai faktor biologis di dalam tubuh yang turut memengaruhi bagaimana seseorang mengatur berat badan. Masalah obesitas sendiri kini menjadi tantangan kesehatan yang semakin besar.

Secara global, lebih dari 1 miliar orang hidup dengan obesitas, dan jumlahnya diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Di Indonesia, sekitar 1 dari 4 orang dewasa mengalami obesitas, dengan prevalensi yang meningkat dari 21,8% pada 2018 menjadi 23,4% pada 2023.

Berikut, Popmama.com akan menjelaskan mengenai kenapa diet sering gagal. Simak yuk, pembahasan medisnya di bawah ini!

1. Sistem hormon dalam tubuh memengaruhi rasa lapar dan kenyang

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Tubuh manusia memiliki sistem biologis yang mengatur rasa lapar dan kenyang melalui hormon yang bekerja di otak.

Pada sebagian orang, mekanisme ini tidak berjalan secara optimal sehingga rasa lapar dapat muncul lebih sering atau lebih kuat.

Ketika kondisi ini terjadi, seseorang bisa merasa lebih sulit mengontrol asupan makanan meskipun sudah berusaha menjalani pola makan sehat.

2. Metabolisme tubuh dapat melambat saat diet

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Saat seseorang mengurangi asupan kalori secara drastis, tubuh dapat merespons dengan memperlambat metabolisme untuk menghemat energi.

Mekanisme ini sebenarnya merupakan cara alami tubuh untuk mempertahankan energi. Namun dampaknya, proses pembakaran kalori menjadi lebih lambat sehingga penurunan berat badan tidak selalu terjadi dengan cepat.

3. Obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Masih banyak orang menganggap obesitas hanya berkaitan dengan pola makan atau gaya hidup.

Padahal secara medis, kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti genetik, hormon, metabolisme, hingga lingkungan.

Dokter spesialis gizi klinik dr. Diana Suganda, Sp.GK, M.Kes. menjelaskan bahwa obesitas tidak bisa disederhanakan sebagai masalah kemauan semata.

“Secara medis, obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks. Di dalam tubuh terdapat mekanisme biologis berupa hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang di otak. Pada banyak individu, sistem ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya,” jelasnya dalam acara Redefining Obesity: Delivering WHO-Recognized Innovation for Quality Weight Loss, pada 4 Maret 2025, di Jakarta.

4. Penanganan obesitas tidak hanya melalui perubahan gaya hidup

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Karena sifatnya yang kompleks, penanganan obesitas biasanya membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif.

Perubahan gaya hidup seperti pola makan sehat dan aktivitas fisik tetap menjadi langkah utama, tetapi dalam beberapa kondisi diperlukan pendekatan medis lain.

Dokter spesialis penyakit dalam dr. M. Vardian Mahardika, M.Biomed, Sp.PD, AIFO-K mengatakan bahwa obesitas telah dikategorikan sebagai penyakit kronis yang berkaitan dengan berbagai risiko kesehatan serius.

“Obesitas merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung, sehingga penanganannya perlu dilakukan secara terstruktur,” ujarnya dalam acara Redefining Obesity: Delivering WHO-Recognized Innovation for Quality Weight Loss, pada 4 Maret 2025, di Jakarta.

5. Pendampingan medis dapat membantu hasil lebih berkelanjutan

Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Penurunan berat badan yang sehat tidak hanya dilihat dari angka timbangan, tetapi juga dari kualitas kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Pendampingan tenaga kesehatan profesional dapat membantu menentukan strategi penurunan berat badan yang lebih tepat dan aman.

Dengan pendekatan yang tepat, penurunan berat badan tidak hanya berfokus pada angka timbangan, tetapi juga pada kualitas kesehatan tubuh secara keseluruhan.

“Obesitas adalah kondisi medis kronis yang tidak seharusnya ditangani sendiri tanpa panduan yang tepat. Masyarakat perlu mendapatkan informasi kesehatan yang akurat serta berkonsultasi dengan tenaga medis,” kata dr. Riyanny Meisha Tarliman, Associate Director Clinical, Medical, and Regulatory Novo Nordisk Indonesia dalam acara Redefining Obesity: Delivering WHO-Recognized Innovation for Quality Weight Loss, pada 4 Maret 2025, di Jakarta.

Itulah jawaban mengenai kenapa diet sering gagal menurut medis.

Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai faktor biologis di balik obesitas, masyarakat diharapkan tidak lagi melihat kegagalan diet sebagai kelemahan pribadi.

Sebaliknya, langkah mencari bantuan medis bisa menjadi awal untuk mencapai berat badan yang lebih sehat serta kualitas hidup yang lebih baik. Yuk mulai hidup sehat dan atur pola makan hingga kurangi gula berlebih.

Editorial Team