Beranjak dari topping yang melimpah, sagu ternyata juga bisa diolah menjadi hidangan berlemak yang gurih bernama tombouat.
7 Makanan Khas Sulawesi Tengah yang Unik dan Lezat

- Sulawesi Tengah memiliki sagu melimpah yang menjadi makanan pokok turun-temurun, melahirkan beragam kuliner khas selain kaledo.
- Olahan sagu gurih mencakup dange, ambal atau yabuy, tombouat, kapurung, dan sinole, dengan variasi kelapa, ikan, lemak, rempah, hingga kuah asam.
- Bagea menjadi kue kering sagu manis untuk oleh-oleh, sedangkan tabaro dange memadukan sagu dan kelapa dengan isian gula merah atau ikan teri.
Selama ini, banyak orang mengenal kuliner Sulawesi Tengah hanya lewat kaledo, sup tulang sapi yang legendaris itu. Padahal, provinsi di jazirah timur Indonesia ini menyimpan kekayaan kuliner lain yang tak kalah menggoda, terutama olahan berbahan dasar sagu.
Sulawesi Tengah merupakan satu dari tiga belas provinsi penghasil sagu di Indonesia. Ketersediaannya yang melimpah membuat sagu jadi makanan pokok masyarakat setempat sejak turun-temurun.
Nah, biar makin tahu, berikut Popmama.com mengulas 7 makanan khas Sulawesi Tengah, dikutip dari IDN Times. Yuk, simak sampai habis!
1. Dange

Dange bisa dibilang jadi salah satu ikon kuliner sagu Sulawesi Tengah. Menariknya, sebutan untuk hidangan ini berbeda-beda di setiap daerah. Suku Kaili menyebutnya dange, sementara di tempat lain ada yang mengenalnya sebagai tabaro dange, labia dange, sagu dange, hingga jepa.
Dari segi bentuk, dange menyerupai roti pipih India yang tipis. Bedanya, dange dibuat dari sagu yang dimasak menggunakan tungku dan wajan tanah liat.
Terkadang, adonan sagu ini ditambahkan campuran kelapa parut untuk menambah cita rasa gurih. Hidangan ini biasa dinikmati bersama beragam pendamping, mulai dari ikan, sambal dabu-dabu, sampai gula merah.
2. Ambal atau yabuy

Kalau dange sudah bikin penasaran, cobalah menengok saudaranya dari daerah Buol dan Tolitoli ini. Di Tolitoli, hidangan ini disebut ambal, sedangkan di Buol dikenal sebagai yabuy.
Sepintas, bentuknya memang serupa dengan dange atau jepa, sehingga di beberapa daerah lain tetap disebut jepa.
Bedanya, ambal atau yabuy dilengkapi dengan aneka taburan, seperti ikan, lemak ayam, kerang atau bia-bia, hingga bayam. Taburan tersebut kemudian dicampur dengan kelapa parut, daun kemangi, serta rempah-rempah agar rasanya makin kaya.
Selain versi gurih, ada juga varian ambal dengan taburan manis seperti jagung dan gula merah, jadi kamu bisa memilih sesuai selera.
3. Tombouat

Penganan khas daerah Buol ini terbuat dari campuran sagu dan lemak, biasanya lemak ayam meski lemak sapi juga kerap dipakai.
Campuran sagu dan lemak tadi dibumbui rempah-rempah khusus, dibungkus daun pisang, lalu dikukus hingga matang. Setelah dikukus, tombouat masih bisa diolah lagi dengan cara dibakar atau digoreng supaya aromanya makin menggugah selera.
Meski cita rasa aslinya sudah cukup pedas, tombouat tetap paling nikmat disantap hangat bersama sambal dabu-dabu.
4. Kapurung

Pernah dengar papeda, kuliner sagu khas Papua yang disajikan dengan kuah kuning? Nah, kapurung bisa dibilang saudara dekatnya dari Sulawesi Tengah. Wajar saja keduanya mirip, sebab kuliner daerah timur Indonesia memang banyak yang berasal dari rumpun budaya yang sama.
Bedanya, kapurung terbuat dari sagu yang dimasak menjadi adonan bubur kental, lalu disajikan bersama sup khas yang disebut kuah asam. Selain kuah asam, ada pula versi kapurung yang memakai kuah santan atau kuah kental sebagai variasi.
5. Sinole

Beralih dari hidangan berkuah, ada pula sinole yang tak kalah unik. Sinole adalah makanan khas Ampana, Tojo Una-Una, yang juga populer sebagai kuliner khas Luwuk, Kabupaten Banggai.
Terbuat dari sagu yang dicampur parutan kelapa, sinole menjadi salah satu makanan pokok sehari-hari yang menggantikan nasi bagi sebagian masyarakat Sulawesi Tengah.
Biasanya, sinole disantap bersama ikan bakar dan sambal dabu-dabu sebagai menu utama, bukan sekadar camilan pelengkap.
6. Bagea

Setelah lima hidangan gurih tadi, saatnya berkenalan dengan yang manis. Bagea adalah kue kering khas Sulawesi Tengah yang terbuat dari sagu. Kuliner satu ini cukup terkenal di sana, sehingga sering direkomendasikan sebagai oleh-oleh untuk para wisatawan yang berkunjung.
Aslinya, bagea orisinal terbuat dari sagu yang dicampur gula merah. Terkadang, potongan kacang juga ditambahkan agar rasanya makin gurih.
Seiring berjalannya waktu, penganan ini pun makin berkembang dengan berbagai varian rasa, mulai dari cokelat, pandan, hingga keju, sehingga makin cocok untuk lidah generasi sekarang.
7. Tabaro dange

Makanan tradisional ini juga dibuat dari perpaduan tepung sagu dan kelapa parut, sehingga sekilas memiliki tampilan dan cita rasa yang menyerupai kerak sagu. Meski demikian, keduanya memiliki perbedaan yang cukup mencolok, terutama pada bagian isiannya.
Jika kerak sagu umumnya disajikan tanpa isian, makanan ini justru diisi dengan gula merah yang memberikan rasa manis alami atau ikan teri yang menghadirkan cita rasa gurih. Perpaduan tekstur renyah dari sagu dengan isian yang beragam tersebut menghasilkan sensasi rasa yang khas.
Nah, itulah pembahasan mengenai 7 makanan khas sulawesi tengah. Semoga informatif dan bermanfaat!








-4SDSoYofmouUCytWjTXKSIVN4yQCCJVi.png)












