Menurut Studi, Gaji Kecil Sebabkan Otak Lebih Cepat Menua, Mengapa?

Pekerja dengan gaji kecil bisa lebih berisiko mengalami demensia

30 Agustus 2022

Menurut Studi, Gaji Kecil Sebabkan Otak Lebih Cepat Menua, Mengapa
Pexels/Towfiqu barbhuiya

Tahukah Mama dan Papa, bahwa gaji kecil ternyata bisa berdampak pada otak, lho. Menurut studi, gaji kecil bisa meningkatkan risiko gangguan otak. 

Gaji kecil atau yang tak sesuai dengan standar memang bisa menjadi masalah bagi para pekerja. Padahal, tanggungjawab pekerjaannya bisa saja sangat besar sehingga seharusnya mendapatkan upah yang layak.

Meskipun Mama atau Papa sebagai pekerja memiliki passion dalam hal tersebut, akan tetapi gaji kecil tetap saja bukanlah hal yang ideal.

Pasalnya, gaji kecil bisa membuat pekerja lebih rentan mengalami demensia. Mengapa demikian? Yuk, simak penjelasan yang telah Popmama.com rangkum di bawah ini. 

Editors' Pick

1. Studi dilakukan dengan data ribuan orang

1. Studi dilakukan data ribuan orang
Pexels/Sofia Shultz

Berdasarkan presentasi para peneliti dari Columbia University Mailman School of Public Health yang dilakukan pada Alzheimer’s Association 2022 Addressing Health Disparities conference pada 16-20 Juli 2022 di San Diego, Amerika Serikat (AS) lalu, disebutkan bahwa gaji kecil memiliki pengaruh pada kesehatan otak.

Definisi "gaji kecil" yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gaji per jam yang lebih rendah dari dua pertiga gaji rata-rata federal tahunan.

Dalam studi yang dimuat pada American Journal of Epidemiology, para peneliti menggunakan data 2.879 orang AS berusia di atas 50 tahun dari Health and Retirement Study periode 1992–2016. 

Peneliti berfokus pada pendapatan para partisipan antara tahun 1992–2004, yakni masa yang dianggap sebagai "tahun-tahun pendapatan tertinggi".

Para peneliti lalu lalu mewawancarai partisipan setiap dua tahun mengenai faktor-faktor terkait pekerjaan, termasuk gaji per jam. 

Lalu, para partisipan dibagi ke dalam tiga kelompok:

  • partisipan yang tidak pernah mendapatkan gaji kecil,
  • partisipan yang pernah mendapatkan gaji kecil, dan
  • partisipan ang selalu mendapatkan gaji kecil.

2. Gaji kecil bisa meningkatkan risiko demensia

2. Gaji kecil bisa meningkatkan risiko demensia
Pexels/Anna Shvets

Fungsi memori para partisipan kemudian diukur pada setiap kunjungan. Peneliti menghabiskan waktu selama 12 tahun dari 2004 sampai 2016.

Rata-rata, para partisipan menyelesaikan 4,8 pengujian memori selama studi ini berlangsung.

Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa partisipan yang terus-terusan mendapatkan gaji kecil terus-menerus dibanding yang tak pernah mendapatkan gaji kecil, mengalami penurunan memori yang lebih cepat saat tua.

Seolah-olah, partisipan yang selalu mendapatkan gaji kecil mengalami penuaan otak lebih cepat setahun hingga 10 tahun.

"Penelitian kami memberikan bukti baru bahwa gaji kecil selama tahun-tahun pendapatan tertinggi berkaitan dengan penurunan memori lebih cepat," ujar pemimpin studi, Katrina Kezios, PhD, yang dikutip dari IDNTimes.

Berdasarkan studi yang dilakukan, peneliti menyebutkan bahwa upah minimum federal di AS telah ditetapkan pada US$7,25 per jam atau yang setara dengan Rp110.000/jam.

Walaupun pertumbuhan ekonomi di AS terlihat jelas, tetapi kesejahteraan upah dan gaji pekerja terutama pada pekerjaan dengan upah minim diketahui tak mengimbangi inflasi.

Akibatnya, masih banyak pekerja yang belum mendapatkan upah secara layak sehingga mereka hanya memeroleh gaji kecil secara bertahun-tahun.

3. Harus ada kebijakan upah untuk kesejahteraan pekerja yang lebih baik

3. Harus ada kebijakan upah kesejahteraan pekerja lebih baik
Pexels/M Mahbub A Alahi

Hasil penelitian pun diperkuat dengan adanya studi yang dilakukan pada kelompok validasi. 

Bagi Mama atau Papa yang belum tahu, kelompok validasi merupakan kelompok terpisah dalam studi yang juga menjalani analisis serupa. Jadi, hasil suatu penelitian bisa menjadi lebih kuat apabila hasil yang sama terlihat dalam kelompok validasi. 

Para peneliti juga mengungkapkan bahwa, hasil negatif dari gaji kecil untuk kognitif ini tetap benar meskipun telah disesuaikan dengan beberapa faktor. Mulau dari usia, jenis kelamin, ras, hingga status pensiun saat penilaian memori perdana.

Adina Zeki Al Hazouri, PhD, selaku peneliti senior pun setuju dengan hasil penelitian tersebut. Menurutnya, kebijakan sosial di masa depan seharusnya meningkatkan kesejahteraan pekerja dengan upah minim. Dengan begitu, kesehatan kognitif juga terjamin.

Jadi, kesejahteraan pekerja menjadi lebih baik dan mereka bisa hidup lebih layak dengan upah yang sepadan dengan pekerjaannya. 

Baca juga:

The Latest