8 Penyebab Biduran yang Sering Terjadi dan Sering Diabaikan

- Alergi makanan yang tidak disadari, seperti seafood, telur, atau kacang pohon dapat memicu biduran.
- Perubahan suhu ekstrem dari panas ke dingin atau sebaliknya juga bisa menjadi pemicu biduran.
- Stres dan faktor emosional juga berperan besar dalam memicu biduran, serta infeksi bakteri atau virus.
Mama pernah merasakan bentol di kulit dan merasakan panas? Itu tanda biduran ya, Ma. Biduran adalah reaksi kulit berbentuk bentol merah yang terasa gatal dan dapat muncul tiba-tiba.
Kondisi ini umum dialami anak maupun orang dewasa, dan sering membuat penderitanya bingung mengenai apa sebenarnya pemicu keluhan tersebut.
Secara medis, biduran atau urtikaria dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti makanan, cuaca, hingga stres. Setiap orang bisa memiliki respons yang berbeda-beda, sehingga penting untuk memperhatikan pola tubuh setiap kali gejala muncul.
Berikut Popmama.com telah merangkum 8 penyebab biduran yang sering terjadi dan sering diabaikan. Simak penjelasan berikut ini.
1. Alergi makanan yang tidak disadari

Alergi makanan merupakan salah satu penyebab biduran yang paling sering terjadi. Seafood, telur, kacang pohon, susu sapi, atau bahan tambahan makanan tertentu dapat memicu pelepasan histamin.
Reaksi inilah yang menyebabkan bentol-bentol merah dan gatal. Masalahnya, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka alergi terhadap makanan tertentu.
Gejala biduran bisa muncul beberapa menit hingga beberapa jam setelah makanan dikonsumsi, sehingga perlu memperhatikan apa yang dimakan sebelum keluhan muncul.
2. Perubahan suhu yang terlalu ekstrem

Perubahan suhu mendadak, seperti dari panas ke dingin atau sebaliknya, dapat memicu reaksi kulit yang menyebabkan biduran. Kondisi ini dikenal sebagai cold urticaria atau heat urticaria, tergantung dari suhu yang menjadi pemicunya.
Gejala biasanya muncul setelah terpapar AC lama, mandi air dingin, atau beraktivitas di cuaca panas. Bila tubuh sensitif, menjaga kestabilan suhu dapat membantu mencegah biduran kambuh.
3. Setres dan faktor emosional

Selain faktor fisik, kondisi emosional juga berperan besar dalam memicu biduran. Saat stres, tubuh melepaskan hormon tertentu yang dapat meningkatkan peradangan, termasuk pada kulit, sehingga bentol-bentol gatal lebih mudah muncul.
Biduran akibat stres sering muncul bersamaan dengan gejala lain, seperti sulit tidur atau rasa tegang di tubuh. Mengelola stres melalui relaksasi atau aktivitas yang menenangkan dapat membantu mengurangi risikonya.
4. Infeksi bakteri atau virus

Infeksi seperti flu, demam, atau radang tenggorokan dapat memicu respons imun berlebihan. Saat sistem kekebalan bekerja melawan infeksi, tubuh juga dapat mengeluarkan histamin yang menyebabkan munculnya biduran.
Pada anak, biduran akibat infeksi sering muncul saat kondisi tubuh sedang menurun. Biasanya, gejala akan membaik setelah infeksi teratasi tanpa memerlukan penanganan khusus untuk bidurannya.
5. Obat-obatan tertentu

Beberapa jenis obat dapat memicu reaksi alergi yang berujung pada biduran. Antibiotik, obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID), atau obat pereda nyeri tertentu merupakan contoh yang cukup sering menjadi pemicu.
Yang perlu diperhatikan, reaksi ini dapat terjadi meski seseorang sebelumnya merasa baik-baik saja saat mengkonsumsi obat tersebut. Bila biduran muncul setelah minum obat, sebaiknya hentikan pemakaiannya dan catat sebagai kemungkinan pemicu.
6. Gigitan serangga

Apakah Mama atau si Kecil pernah tergigit oleh serangga? Itu bisa jadi salah satu penyebab biduran lho. Gigitan serangga seperti nyamuk, kutu, atau semut dapat menyebabkan reaksi peradangan yang memunculkan biduran.
Tubuh merespons protein atau racun yang masuk ke kulit dengan mengeluarkan histamin, sehingga timbul bentol dan rasa gatal. Rasa gatal akan terus meningkat apabila Mama atau si Kecil terus menggaruknya dan akan membuat lecet.
Kadang respons tubuh cukup kuat hingga menyebabkan bentol menyebar di luar area gigitan. Jika terjadi berulang, kemungkinan tubuh memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap gigitan serangga tertentu.
7. Paparan bahan kimia atau produk kulit

Produk rumah tangga seperti deterjen, sabun, parfum, hingga lotion mengandung bahan kimia yang dapat memicu iritasi. Pada kulit sensitif, kontak dengan zat tersebut dapat menimbulkan biduran dalam waktu singkat.
Biasanya reaksi muncul di area yang langsung terkena kontak bahan kimia tersebut, misalnya tangan atau lengan. Memilih produk yang lebih lembut dan bebas pewangi dapat membantu mengurangi risiko iritasi.
8. Aktivitas fiisk yang berlebihan

Olahraga intens dapat meningkatkan suhu tubuh dan memicu cholinergic urticaria, yaitu biduran yang muncul saat tubuh berkeringat atau suhunya naik. Bentol kecil disertai sensasi panas pada kulit menjadi tanda utamanya.
Kondisi ini dapat muncul saat berlari, bersepeda, atau bahkan saat cemas yang membuat tubuh berkeringat. Mengatur intensitas olahraga agar tidak terlalu berat dapat membantu mencegah keluhan ini.
Biduran bisa muncul karena banyak faktor, mulai dari alergi, infeksi, hingga perubahan suhu. Pentingnya untuk tetap memperhatikan kondisi dan kebersihan tubuh ya, Ma!
Setiap orang dapat memiliki pemicu yang berbeda, sehingga penting untuk memperhatikan kapan gejala mulai muncul dan apa yang terjadi sebelumnya.
Dengan memahami 8 penyebab biduran yang sering terjadi dan sering diabaikan, Mama bisa mengambil langkah pencegahan yang tepat agar biduran tidak sering kambuh.
Meski umumnya tidak berbahaya, biduran tetap perlu diperhatikan terutama jika terjadi berulang. Menjaga gaya hidup sehat, menghindari pemicu, serta mengelola stres dapat membantu mengurangi risiko munculnya bentol dan rasa gatal.
Semakin Mama mengenali respons tubuh, semakin mudah pula mencegah biduran datang kembali. Semoga bermanfaat ya, Ma!


















