8 Penyebab Hernia pada Perempuan yang Sering Tidak Disadari

- Kehamilan berulang meningkatkan risiko hernia pada perempuan
- Persalinan normal yang berat atau lama dapat menyebabkan pelemahan otot perut
- Obesitas, mengangkat beban berat, batuk kronis, sembelit kronis, dan riwayat operasi di area perut juga menjadi faktor risiko hernia pada perempuan
Hernia kerap dianggap sebagai masalah kesehatan yang lebih sering dialami pria. Padahal, perempuan juga memiliki resiko mengalami hernia, dengan faktor penyebab yang sering kali berkaitan erat dengan perubahan fisiologis tubuh.
Sayangnya, pada perempuan, hernia kerap berkembang secara perlahan dan tidak langsung menimbulkan gejala khas, sehingga banyak kasus baru terdeteksi saat kondisi sudah memburuk
Selain itu, perubahan hormon, kehamilan, persalinan, hingga riwayat operasi di area perut membuat perempuan memiliki karakteristik risiko hernia yang berbeda. Memahami penyebab hernia pada perempuan sangat penting agar langkah pencegahan dan penanganan dapat dilakukan lebih dini.
Menurut Mayo Clinic, hernia terjadi ketika tekanan di dalam perut meningkat sementara otot atau jaringan penyangga tubuh mengalami pelemahan.
Berikut, Popmama.com akan memberikan penjelasan 8 penyebab hernia pada perempuan yang perlu diketahui dan sering kali tidak disadari. Yuk simak!
1. Kehamilan berulang

Kehamilan merupakan salah satu faktor risiko utama hernia pada perempuan. Selama masa kehamilan, rahim yang membesar akan memberikan tekanan signifikan pada dinding perut. Tekanan ini terus meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan.
Jika seorang perempuan mengalami kehamilan berulang, otot perut dapat kehilangan kekuatannya secara bertahap. Cleveland Clinic menyebutkan bahwa peningkatan tekanan intra abdomen selama kehamilan dapat memicu terbentuknya hernia.
Selain itu, hormon kehamilan seperti relaksin membuat jaringan ikat menjadi lebih lentur, yang meskipun membantu proses persalinan, juga meningkatkan risiko hernia, terutama di area pusar dan selangkangan.
2. Persalinan normal yang berat atau lama

Proses persalinan normal membutuhkan tenaga mengejan yang kuat dan berlangsung berulang kali. Pada persalinan yang berlangsung lama atau sulit, tekanan pada otot perut dan dasar panggul menjadi sangat besar.
Kondisi ini dapat menyebabkan pelemahan otot yang tidak langsung terasa. Pada sebagian perempuan, hernia baru muncul beberapa bulan hingga tahun setelah melahirkan, sehingga sering tidak dikaitkan dengan proses persalinan yang pernah dialami.
3. Kelebihan berat badan atau obesitas

Berat badan berlebih memberikan tekanan konstan pada dinding perut. Semakin lama kondisi ini berlangsung, semakin besar risiko otot perut mengalami peregangan dan pelemasan.
Johns Hopkins Medicine menjelaskan bahwa obesitas merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya hernia, baik pada pria maupun perempuan.
Pada perempuan, obesitas sering kali dikombinasikan dengan faktor lain seperti kehamilan atau riwayat operasi, yang membuat risiko hernia menjadi lebih tinggi.
4. Mengangkat beban berat secara berulang

Aktivitas mengangkat beban berat tanpa teknik yang benar dapat meningkatkan tekanan di dalam perut secara tiba-tiba. Jika dilakukan berulang, kondisi ini bisa merusak kekuatan otot perut.
Pada perempuan, aktivitas ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengangkat anak, membawa belanjaan berat, atau melakukan pekerjaan rumah tangga. Karena dilakukan secara rutin, risikonya sering kali tidak disadari.
5. Batuk kronis

Batuk kronis akibat asma, infeksi paru, atau paparan asap rokok dapat memicu hernia. Setiap kali batuk, tekanan di dalam perut meningkat dan memberi beban tambahan pada otot perut.
National Health Service (NHS) menyebutkan bahwa batuk kronis merupakan faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya hernia. Jika batuk tidak ditangani dengan baik, tekanan berulang ini dapat menyebabkan hernia berkembang secara perlahan.
6. Sembelit kronis dan kebiasaan mengejan

Sembelit yang berlangsung lama membuat seseorang harus mengejan lebih kuat saat buang air besar. Kebiasaan mengejan ini meningkatkan tekanan di dalam perut secara terus-menerus.
Pada perempuan, sembelit sering dipicu oleh perubahan hormon, kurang asupan serat, kehamilan, atau kurang aktivitas fisik. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memperlemah otot perut dan memicu hernia.
7. Riwayat operasi di area perut

Operasi di area perut, seperti operasi caesar, operasi kista, atau prosedur ginekologi lainnya, dapat meninggalkan bekas sayatan pada otot. Area bekas operasi ini menjadi titik lemah pada dinding perut.
American College of Surgeons menjelaskan bahwa hernia insisional dapat terjadi akibat lemahnya jaringan di area bekas operasi. Risiko hernia insisional meningkat jika proses penyembuhan luka tidak optimal atau pasien terlalu cepat beraktivitas berat setelah operasi.
8. Faktor usia dan perubahan hormon

Seiring bertambahnya usia, kekuatan dan elastisitas otot akan menurun secara alami. Pada perempuan, perubahan hormon estrogen, terutama setelah menopause, juga memengaruhi kekuatan jaringan ikat.
Kombinasi faktor usia dan penurunan hormon ini membuat perempuan usia lanjut lebih rentan mengalami hernia, bahkan tanpa aktivitas fisik berat atau faktor pemicu yang jelas.
Penyebab hernia pada perempuan sangat beragam dan sering kali berkaitan dengan kondisi alami tubuh, seperti kehamilan, persalinan, serta perubahan hormon.
Sayangnya, karena gejalanya sering muncul perlahan, hernia pada perempuan kerap terabaikan hingga menimbulkan keluhan yang lebih serius. Sudah seharusnya kita lebih memperhatikan keadaan dan kondisi tubuh disaat ada tanda-tanda yang mencurigakan.
Dengan mengenali 8 penyebab hernia pada perempuan yang perlu diketahui dan sering kali tidak disadari, kita dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat dan segera mencari pertolongan medis bila muncul tanda-tanda mencurigakan.


















