Penyebab dan Cara Mengatasi Benjolan di Vagina, Berbahayakah?

Pernahkah kamu mengalaminya?

10 Juli 2019

Penyebab Cara Mengatasi Benjolan Vagina, Berbahayakah
lavidalucida.com

Menjaga kesehatan vagina adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh seorang perempuan.

Saat vagina mengalami gangguan maka hal itu bisa memengaruhi tingkat kesuburan, hasrat berhubungan seksual hingga kondisi kesehatan perempuan secara keseluruhan.

Benjolan di vagina juga dapat membuat seorang perempuan merasa risau dan tidak nyaman.

Lantas, apakah penyebabnya? Bagaimana cara mengobatinya?

Adakah cara khusus untuk menjaga kesehatan vagina?

Untuk mengetahuinya lebih dalam, berikut Popmama.com telah merangkum beberapa informasi pentingnya.

1. Penyebab benjolan di vagina

1. Penyebab benjolan vagina
Freepik/eddows-animator

Salah satu masalah yang harus diwaspadai oleh perempuan adalah benjolan di vagina. Pada dasarnya, benjolan yang tumbuh disekitar vagina dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab.

Beberapa penyebab benjolan di vagina di antaranya: 

  • Sumbatan kelenjar, 
  • infeksi, 
  • kongenital atau tumor. 

Sementara itu, benjolan yang paling sering terjadi pada organ intim perempuan ini adalah kista bartholin. Kelenjar bartholin berukuran kecil pada keadaan normal, bahkan biasanya tidak terlihat dan tidak teraba. 

Namun pada keadaan terentu seperti infeksi kronis, terbentuklah kista bartholin yang ditandai dengan adanya benjolan dengan perabaan lunak pada bibir kemaluan, biasanya tidak disertai dengan adanya nyeri. 

Gangguan pada kelenjar bartholin yang sering terjadi adalah kista bartholin dan abses bartholin, di mana kedua hal ini merupakan penyebab tersering terjadinya benjolan pada vagina dan biasanya hanya mengenai salah satu kelenjar. 

Kista bartholin terjadi akibat adanya sumbatan pada saluran keluar kelenjar bartholin, sehingga kelenjar membengkak dan membentuk kista.

Kista bartholin yang menyebabkan benjolan di vagina pada umumnya tidak nyeri, adanya nyeri dapat menunjukan bahwa ukuran kista sudah semakin membesar dan terjadi infeksi.

Sedangkan abses bartholin terbentuk ketika kista bartholin mengalami infeksi bakteri seperti Chlamydia, Gonorrhea, dan Escherichia coli.

Pada abses bartholin, dapat ditemukan benjolan kemerahan pada bibir vagina, disertai dengan rasa nyeri terutama saat berhubungan seksual dan rasa tidak nyaman saat posisi duduk. Gejala demam juga dapat menyertai kondisi ini.

Pada abses bartholin memiliki gejala seperti nyeri, kemerahan pada daerah sekitar vagina, terasa adanya gumpalan pada lubang vagina, tidak nyaman saat berjalan atau duduk, nyeri saat berhubungan seksual, hingga menimbulkan demam.

Editors' Picks

2. Cara mengatasi benjolan di vagina

2. Cara mengatasi benjolan vagina
Freepik

Penegakan diagnosis kista dan abses bartholin dilakukan dengan cara pemeriksaan fisik oleh dokter, kultur hanya dilakukan untuk menentukan jenis bakteri penyebab terjadinya abses.

Selain itu, dapat dilakukan pembedahan insisi untuk kembali membuka sumbatan dan mengeluarkan abses, serta pemberian antibiotik yang sesuai.

Melihat banyaknya penyebab benjolan di vagina, tentu sangat sulit untuk menentukan penyebabnya tanpa melakukan pemeriksaan dengan tenaga medis profesional.

Penanganan sementara yang bisa kamu coba adalah merendam daerah vagina di bathtub atau dibasuh dengan air hangat.

Apabila dalam beberapa hari tidak ada perbaikan atau bahkan kista semakin membesar, disertai nyeri yang semakin hebat, demam, dan perdarahan pada vagina, segeralah pergi dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

3. Cara menjaga kesehatan vagina

3. Cara menjaga kesehatan vagina
aliexpress.com

Agar terhindar dari masalah kesehatan kelamin, khususnya vagina, ada baiknya jika kamu melakukan beberapa cara berikut ini:

  • Membersihkan vagina

Menjaga kesehatan vagina dimulai dari kebiasaanmu membersihkannya. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, vagina adalah organ tubuh yang mampu membersihkan diri sendiri.

Akan tetapi, rutin membersihkan vagina bisa membantu mencegah tumbuhnya bakteri dan menjaga agar daerah kewanitaan agar tetap terasa segar.

Untuk membersihkan vagina setiap harinya, cukup bilas dengan air hangat (bukan air mendidih) ketika mandi.

Kamu bisa melarutkan sedikit saja garam laut (sea salt) ke dalam air hangat untuk membantu mengatasi rasa gatal di daerah kewanitaan.

Setelah membersihkan vagina, hati-hati saat mengeringkannya. Gunakan handuk atau tisu yang lembut dan tepuk-tepuk pelan hingga kering.

Jangan menggosok atau mengusapnya terlalu keras karena bisa menimbulkan iritasi.

  • Memilih pakaian dalam yang ramah bagi vagina

Meskipun pakaian dalam yang berbahan sutra atau renda tampak lebih manis, jangan dipakai terlalu sering. Pasalnya, vagina membutuhkan sirkulasi udara yang baik supaya tidak terlalu lembap.

Jadi, sebaiknya pilih pakaian dalam dengan bahan katun asli.

Agar organ intim bisa bernapas lega setelah seharian terperangkap dalam pakaian dalam dan celana atau rok yang ketat, tidur tanpa pakaian dalam di malam hari bisa jadi solusinya.  

  • Rutin mengganti pembalut

Untuk menjaga kesehatan vagina, sebaiknya kamu rutin mengganti pembalut, tampon, atau pantyliner. Memakai pembalut, tampon, dan pantyliner selama lebih dari empat jam berisiko menyebabkan infeksi.

Ini karena organ kewanitaan tak bisa bernapas melalui plastik yang melapisi pembalut dan pantyliner. Selain itu, terlalu lama memakai tampon juga rentan menimbulkan toxic shock syndrome.

  • Makanan yang baik untuk menjaga kesehatan vagina

Memiliki pola makan yang sehat adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan vagina. Maka, pastikan bahwa kamu mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan minum banyak air putih.

Untuk mencegah infeksi ragi vagina, kamu bisa mengonsumsi yogurt yang mengandung probiotik.

Selain itu, buah cranberry dan teh hijau juga baik untuk mencegah infeksi saluran kencing. Kalau organ intim mu terasa kering dan sakit ketika bercinta, kamu bisa makan apel dan alpukat guna meningkatkan lubrikasi alami vagina.

  • Hati-hati saat bercinta

Kamu juga perlu mencegah penyakit kelamin, infeksi, dan iritasi dengan mempraktekkan seks yang aman. Maka, selalu gunakan kondom tanpa rasa atau pewangi saat bercinta.

Pastikan juga bahwa kamu dan pasangan tidak lanjut melakukan penetrasi vagina setelah seks anal. Hal ini berisiko memindahkan berbagai kuman dan bakteri ke daerah kewanitaan.

Kamu juga bisa meminta pasangan untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum bercinta atau melakukan fingering (menyentuh dan merangsang vagina dengan tangan).

Nah, itulah ketiga informasi penting terkait benjolan di vagina.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!