Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sering Bilang “Tidak Bisa” ke Diri Sendiri Ada Dampaknya ke Pikiran
Pexels/John Diez
  • Self-talk dapat memengaruhi cara seseorang menilai kemampuan, mengatur perhatian, dan menghadapi tantangan.

  • Penelitian menunjukkan self-talk positif, instruksional, dan motivasional dapat berkaitan dengan performa melalui faktor kognitif serta perilaku.

  • Kalimat realistis seperti “aku belum bisa” memberi ruang untuk belajar, tetapi tetap tidak menggantikan proses dan tindakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2023

Review yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology menyebut self-talk sebagai aktivitas mental penting dengan berbagai fungsi kognitif.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pembahasan mengenai dampak self-talk, terutama ucapan “aku tidak bisa”, terhadap cara seseorang menilai kemampuan, mengatur perhatian, dan menghadapi tantangan.
  • Who?
    Dr. Riza Arief Putranto, akademisi dan peneliti bioteknologi Universitas Esa Unggul, membahas hal tersebut.
  • Where?
    Pembahasan disampaikan dalam potongan video di Instagram @kaisar_tv.
  • When?
    Review terkait self-talk yang disebut dalam pembahasan diterbitkan pada 2023.
  • Why?
    Ucapan yang terus diulang kepada diri sendiri dapat berkaitan dengan faktor kognitif, perilaku, fokus, dan cara menghadapi tantangan.
  • How?
    Self-talk yang realistis dapat mengarahkan perhatian dan tindakan, tetapi tidak menggantikan proses belajar serta usaha.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalau seseorang sering bilang tidak bisa, pikirannya bisa ikut merasa begitu. Dr. Riza Arief Putranto menjelaskan bahwa kata-kata untuk diri sendiri dapat membantu fokus dan belajar. Lebih baik bilang belum bisa dan mau mencoba lagi. Tetapi, kata-kata saja tidak cukup karena tetap perlu belajar dan bertindak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pembahasan ini menunjukkan bahwa seseorang memiliki ruang untuk memandang kemampuan sebagai sesuatu yang dapat berkembang. Penggunaan kalimat yang realistis, seperti mengakui belum bisa sambil tetap berusaha, dapat membantu mengarahkan fokus dan tindakan. Perspektif tersebut juga menempatkan proses belajar sebagai bagian penting, bukan menjadikan satu kegagalan sebagai label tetap.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ucapan sederhana seperti “aku tidak bisa”, “aku memang tidak pintar”, atau “aku pasti gagal” terkadang keluar begitu saja ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan.

Jika terus diulang, cara berbicara kepada diri sendiri atau self-talk ikut memengaruhi bagaimana seseorang menilai kemampuan, mengatur perhatian, hingga menghadapi tantangan.

Hal inilah yang dibahas Dr. Riza Arief Putranto dalam sebuah potongan video di Instagram @kaisar_tv. Riza sendiri merupakan akademisi dan peneliti di bidang bioteknologi Universitas Esa Unggul.

Berdasarkan profil akademiknya, bidang keilmuannya meliputi biologi molekuler, genomik, transkriptomik, bioinformatika, hingga genome editing.

Dalam video tersebut, Riza mengingatkan agar seseorang tidak terlalu cepat memberi label negatif pada kemampuan dirinya sendiri.

Adakah dasar ilmiah di balik perkataan yang terus kita ucapkan kepada diri sendiri? Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.

1. Jangan terlalu cepat memberi label “tidak pintar” kepada diri sendiri

Pexels/kaboompics.com

Menurut Riza, kemampuan seseorang saat ini bukan berarti menentukan bagaimana kemampuannya di masa depan. Ia mencontohkan perjalanan dirinya sendiri yang membutuhkan proses panjang untuk sampai pada titik sekarang.

“Kamu ditakdirkan tidak pintar, itu aneh sekali saya bilang. Saya di usia kamu, saya belum bisa apa-apa, lho. Lihat saya sekarang, kan begitu. Itu melalui proses yang sangat panjang,” ujar Riza.

Cara pandang ini penting karena kalimat seperti “aku bodoh” berbeda dengan “aku belum bisa”. Kalimat pertama memberikan label seolah kemampuan seseorang bersifat tetap, sedangkan yang kedua masih memberikan ruang untuk belajar dan berkembang.

Dalam konteks psikologi, self-talk memang mempunyai berbagai fungsi, mulai dari membantu proses berpikir, memecahkan masalah, mengatur diri, mempertahankan informasi dalam working memory, hingga mengelola ekspresi emosi.

Review yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology pada 2023 juga menyebut self-talk sebagai aktivitas mental penting dengan berbagai fungsi kognitif tersebut.

2. Mengulang “aku tidak bisa” bisa memengaruhi cara kita menghadapi sesuatu

Pexels/Andrea Piacquadio

Riza juga mengingatkan bahwa perkataan yang berulang kepada diri sendiri dapat ikut membentuk cara seseorang berpikir.

“Jangan katakan itu sama diri sendiri, otak kita dengarkan. Otak kita akan menyimpan apa yang kita ulang. Kalau yang kita ulang, ‘saya nggak bisa, saya nggak bisa, saya nggak bisa’, benar-benar (merasa) nggak bisa,” ungkapnya.

Secara ilmiah, kalimat “otak menyimpan apa yang kita ulang” sebaiknya tidak dipahami secara harfiah seolah setiap ucapan otomatis di program ke dalam otak. Namun, penelitian memang menunjukkan bahwa self-talk berkaitan dengan faktor kognitif dan perilaku.

Systematic review oleh David Tod, James Hardy, dan Emily Oliver yang menganalisis 47 penelitian menemukan bahwa positive, instructional, dan motivational self-talk dapat memberikan manfaat terhadap performa. Faktor kognitif dan perilaku juga menjadi mekanisme yang paling konsisten berkaitan dengan efek tersebut.

Menariknya, review itu juga menemukan bahwa negative self-talk tidak selalu otomatis menurunkan performa. Jadi, hubungan antara ucapan negatif dan hasil yang kita dapatkan lebih kompleks daripada sekadar “berpikir negatif pasti membuat gagal”.

3. Self-talk yang realistis bisa bantu arahkan fokus dan tindakan

Freepik/senivpetro

Riza tidak menyarankan seseorang harus selalu memberikan afirmasi yang terlalu optimistis kepada dirinya. Menurutnya, kalimat yang lebih realistis justru bisa menjadi pilihan.

“Harus ditanamkan sesuatu yang, ‘saya nggak bisa hari ini, besok saya akan bisa lebih baik lagi’. Kalau nggak mau terlalu optimis, saya pakai kalimat saya tadi, ‘besok saya akan berusaha lebih baik lagi’,” jelasnya.

Pendekatan seperti ini lebih berorientasi pada proses. Daripada memaksakan “aku pasti bisa” ketika diri sendiri belum memercayainya, seseorang bisa menggantinya dengan kalimat seperti “aku belum bisa, tapi aku bisa belajar lagi” atau “hari ini belum berhasil, besok aku akan mencoba cara berbeda”.

Penelitian mengenai self-talk juga menunjukkan bahwa strategi ini dapat membantu mengarahkan perhatian, meningkatkan fokus, dan mengurangi dampak distraksi.

Meta-analisis di bidang performa juga menemukan bahwa intervensi self-talk dapat memberi efek positif, terutama ketika seseorang sedang mempelajari tugas baru.

Namun, self-talk tetap bukan jaminan bahwa tujuan pasti tercapai. Riza sendiri menekankan bahwa ucapan kepada diri sendiri dapat mendorong seseorang ke arah tujuan, bukan menggantikan proses belajar dan tindakan.

“Hal yang kita katakan sama diri kita itu ada sainsnya juga. Akan cenderung untuk mendorong kita menjadi seseorang yang mencapai tujuan tadi,” ungkapnya.

Jadi, perbedaan antara mengatakan “aku memang tidak bisa” dan “aku belum bisa, tapi aku akan berusaha lagi” bukan sekadar soal pilihan kata. Cara berbicara kepada diri sendiri dapat ikut memengaruhi fokus, motivasi, dan tindakan yang kita ambil setelahnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article