5 Fakta Buku Teruntuk Masa Kecil dan Aku di Kemudian Hari

Buku Teruntuk Masa Kecil dan Aku di Kemudian Hari merupakan buku perdana Rofie Fauzie, konten kreator asal Kuningan yang juga berpengalaman sebagai penulis naskah dan sutradara dokumenter.
Diterbitkan Gagas Media pada 2023, buku ini berawal dari cerita masa kecil Rofie di media sosial dan mengangkat refleksi keluarga, orangtua, serta kampung halaman.
Buku 148 halaman ini mencapai cetakan kedelapan pada 2024 setelah pre-order mencapai 1.000 eksemplar, lalu diadaptasi menjadi film Teruntuk Masa Kecilku yang dijadwalkan tayang 2027.
Masa kecil sering menyimpan kenangan sederhana yang baru terasa berharga ketika seseorang tumbuh dewasa. Mulai dari momen bersama mama dan papa hingga suasana kampung halaman, semuanya bisa menjadi bagian yang dirindukan seiring berjalannya waktu.
Kenangan tersebut menjadi salah satu hal yang diangkat dalam buku Teruntuk Masa Kecil dan Aku di Kemudian Hari karya Rofie Fauzie. Diterbitkan oleh Gagas Media pada 2023, buku ini mengajak pembaca mengenang kembali kehangatan keluarga melalui tulisan yang personal dan menyentuh.
Tak hanya menarik perhatian pembaca melalui kisahnya, buku ini juga mencatat pencapaian penjualan yang cukup menonjol. Ceritanya bahkan akan diadaptasi menjadi film layar lebar yang dijadwalkan tayang pada 2027.
Berikut Popmama.com rangkum 5 fakta buku Teruntuk Masa Kecil dan Aku di Kemudian Hari yang menarik untuk diketahui.
Table of Content
Deretan Fakta Buku Teruntuk Masa Kecil dan Aku di Kemudian Hari
1. Menjadi buku perdana Rofie Fauzie

Instagram.com/rofiefauzie Buku Teruntuk Masa Kecil dan Aku di Kemudian Hari merupakan buku pertama karya Rofie Fauzie, konten kreator asal Kuningan. Selain menulis, Rofie juga dikenal memiliki pengalaman sebagai penulis naskah dan sutradara film dokumenter.
Sebelum menerbitkan buku, Rofie telah berkecimpung di dunia kreatif melalui karya audiovisual. Salah satu karya film dokumenternya pernah masuk dalam ajang Festival Film Indonesia 2019, seolah memperlihatkan pengalamannya dalam merangkai cerita melalui berbagai medium.
2. Berawal dari cerita masa kecil di media sosial

Instagram.com/rofiefauzie Ide buku ini berawal dari konten yang dibagikan Rofie melalui akun media sosial @rofiefauzie. Ia kerap mengangkat kenangan masa kecil dan pengalaman bersama keluarga yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Cerita-cerita tersebut mendapat respons dari pembaca yang merasa memiliki pengalaman serupa. Respons positif itu kemudian menjadi salah satu dorongan bagi Rofie untuk menghimpun kisahnya ke dalam sebuah buku.
3. Mengangkat kenangan keluarga dan kampung halaman

Instagram.com/unlimited_production Buku ini berisi refleksi tentang keluarga, mama, papa, dan kampung halaman yang menjadi bagian penting dalam perjalanan tumbuh dewasa. Kenangan sederhana, seperti disuapi saat kecil atau mendengar suara motor papa pulang ke rumah, menjadi gambaran kehangatan yang mudah dirindukan.
Melalui bahasa yang sederhana dan personal, Rofie mengajak pembaca melihat kembali momen-momen yang mungkin dahulu terasa biasa. Kisah-kisah tersebut juga menjadi pengingat untuk menghargai keberadaan keluarga dan menyadari bahwa waktu bersama orang-orang tersayang terus berjalan.
4. Mencapai cetakan kedelapan pada 2024

Instagram.com/rofiefauzie Popularitas buku ini terlihat sejak masa prapemesanan atau pre-order. Rofie sempat membagikan kabar bahwa jumlah pesanan mencapai 1.000 eksemplar, termasuk edisi bertanda tangan, sehingga cetakan berikutnya disiapkan sebelum buku tersebut tersedia di rak Gramedia.
Buku setebal 148 halaman ini kemudian terus dicetak ulang dan tercatat telah memasuki cetakan kedelapan pada 2024. Pencapaian tersebut menunjukkan besarnya ketertarikan pembaca terhadap kisah-kisah personal tentang keluarga dan masa kecil yang diangkat di dalamnya.
5. Diadaptasi menjadi film yang dijadwalkan tayang pada 2027

Instagram.com/unlimited_production Kisah dalam buku Teruntuk Masa Kecil dan Aku di Kemudian Hari diadaptasi menjadi film layar lebar berjudul Teruntuk Masa Kecilku. Film ini disutradarai oleh Benni Setiawan dan digarap oleh Unlimited Production.
Dijadwalkan tayang di bioskop pada 2027, film tersebut akan membawa kenangan masa kecil ke dalam bentuk audiovisual. Momen-momen sederhana, seperti disuapi pada pagi hari atau digendong papa ke kamar setelah tertidur di sofa, menjadi gambaran kehangatan keluarga yang diangkat dalam ceritanya.
Buku Teruntuk Masa Kecil dan Aku di Kemudian Hari memperlihatkan bahwa kenangan sederhana dapat menyimpan makna mendalam ketika dilihat kembali dari sudut pandang orang dewasa. Melalui kisah keluarga dan kampung halaman, pembaca diajak menghargai momen-momen kecil yang turut membentuk diri mereka hari ini.
Itulah rangkuman beberapa fakta buku Teruntuk Masa Kecil dan Aku di Kemudian Hari karya Rofie Fauzie yang menarik untuk diketahui.
Terkadang, hal-hal yang paling kita rindukan dari masa kecil bukanlah sesuatu yang mewah, melainkan kehadiran keluarga dan momen sederhana yang dahulu kita anggap biasa.























