Dampak Buruk Sampah Makanan Terhadap Lingkungan

Membuang sisa makanan ternyata memiliki dampak yang buruk bagi lingkungan

11 Desember 2020

Dampak Buruk Sampah Makanan Terhadap Lingkungan
Freepik

Berdasarkan pernyataan Kepala Perwakilan Badan Pangan PBB (FAO), Indonesia menghasilkan sampah makanan rata-rata sebanyak 13 ton setiap tahunnya.

Jumlah tersebut setara dengan porsi makan 28 juta orang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik jumlah tersebut setara dengan penduduk miskin yang ada di Indonesia.

Hal yang tak kalah mencengangkannya, Indonesia menduduki posisi kedua sebagai negara penghasil sampah terbanyak di dunia. Masalah sampah makanan ini sebagian besar berasal dari limbah retail, katering, dan restoran.

Dampak yang ditimbulkan dari menumpuknya sampah makan ini tidak hanya pada persoalanya kesia-siaannya saja tapi juga berdampak bagi lingkungan.

Ada beberapa dampak buruk sampah makanan terhadap lingkungan. Cek informasi dari Popmama.com berikut ini!

1. Membuang-buang pasokan air

1. Membuang-buang pasokan air
Pixabay/Baudolino

Dalam perjalanan sebuah makanan hingga bisa dihidangkan di atas piring melalui proses yang sangat panjang.

Makanan nabati berupa sayur ataupun buah memerlukan air untuk bisa tumbuh dengan baik. Makanan hewani pun juga memerlukan jumlah air yang tak kalah banyaknya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kemudian, untuk bisa didistribusi pun makanan-makanan tersebut memerlukan air untuk bisa layak dijual. Bahkan, saat pengolahan makanan pun juga membutuhkan air.

Dengan demikian secara otomatis adanya sampah makanan sama saja dengan terbuangnya pasokan air secara sia-sia. Kebutuhan air menjadi terbuang percuma.

Editors' Picks

2. Menghabiskan sumber minyak bumi

2. Menghabiskan sumber minyak bumi
Freepik

Dampak buruk sampah makanan antara lain adalah banyaknya sumber minyak bumi yang terbuang. Hal ini mungkin tidak disadari. Tetapi untuk bisa menghasilkan makanan, tetap memerlukan minyak bumi. 

Minyak bumi diperlukan dalam setiap proses tersajinya makanan. Mulai dari proses penanaman yang memerlukan mesin bajak, distribusi makanan, penyimpanan makanan, hingga proses pemasakannya.

3. Menyia-nyiakan lahan tanah

3. Menyia-nyiakan lahan tanah
Pixabay/Pexels

Banyaknya sampah makanan yang menumpuk mengakibatkan kebutuhan lahan untuk membuang sampah menjadi bertambah. Hal ini membuat lahan tanah menjadi sia-sia. Apalagi jika sampai menghilangkan fungsi lahan hijau ataupun lahan yang seharusnya bisa dimanfaatkan lebih produktif.

4. Pencemaran udara akibat gas metana

4. Pencemaran udara akibat gas metana
Freepik

Sampah makanan tergolong sebagai sampah organik. Dimana saat proses makanan itu terurai akan terjadi proses pembusukan yang membuat terciptanya gas metana.

Terbentuknya gas metana akibat penumpukan sampah makanan cukup membuat pegiat lingkungan resah. Sebab, gas metana menjadi salah satu penyebab pemanasan global.

5. Mengancam ekosistem keragaman makhluk hidup

5. Mengancam ekosistem keragaman makhluk hidup
Freepik/Jcomp

Dampak buruk sampah makanan lainnya adalah ancaman terhadap ekosistem keragaman makhluk hidup. Banyak ragam flora dan fauna yang terancam keberadaannya.

Ambil contoh, akibat industrialisasi makanan, kebutuhan terhadap suatu bahan makanan tertentu meningkat. Padahal jumlah makanan yang dibutuhkan tidak sebesar yang diproduksi.

Akibatnya banyak lahan hutan yang dialihfungsikan menjadi lahan perkebunan atau peternakan. Hal ini menyebabkan banyak flora dan fauna menjadi terancam punah dan kehilangan habitatnya.

Mengonsumsi makanan secara berkesadaran sangat diperlukan untuk mengurangi jumlah sampah makanan yang dihasilkan. Ambil makanan secukupnya dan apabila berlebih maka simpanlah untuk dimakan di lain waktu.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.