Hati-Hati, Kenali 7 Ciri Pola Asuh Toxic Parents yang Harus Dihindari

Pola asuh seperti ini seringkali mengganggu perkembangan mental anak

19 Desember 2020

Hati-Hati, Kenali 7 Ciri Pola Asuh Toxic Parents Harus Dihindari
Freepik/Peoplecreations

Setiap orang tua tentu menginginkan semua yang terbaik untuk anak-anaknya. Tentunya melalui kasih sayang dan sikap yang baik pula.

Namun kadang-kadang dalam menerapkan pola asuh tidak disadari ada sikap yang bisa melukai mental anak. Jika tidak segera diubah, bukan tidak mungkin anak tumbuh dengan rasa takut dan terluka.

Pola asuh ini sering juga disebut sebagai ‘toxic parents’. Sepertii apa ya ciri-ciri pola asuh toxic parents? Berikut Popmama.com rangkum dari berbagai sumber:

1. Mengambil keputusan tentang anak tanpa berdiskusi

1. Mengambil keputusan tentang anak tanpa berdiskusi
Freepik/Bearfotos

Setiap keputusan yang berkaitan tentang hidup anak akan ditentukan oleh orang tua, namun dalam proses mengambil keputusan tersebut, anak tetap harus dilibatkan.

Setidaknya orang tua bisa mengajak anak berdiskusi dan mendengarkan pendapatnya. Jika orang tua dan anak memiliki pola pikir berbeda, diskusi yang hangat akan membantu mencari keputusan yang adil.

Namun pada toxic parents, orang tua justru mengambil keputusan tanpa mau mendengarkan pendapat dari anak. Misalnya tentang memilih sekolah, memilih tempat les, atau bahkan memilih jurusan pendidikan yang jenjangnya lebih tinggi.

Selain tidak mau mendengarkan pendapat anak, orang tua dengan pola asuh toxic parents juga hanya akan mempertimbangkan perasaannya sendiri dan bagaimana keputusan tersebut memengaruhi harga dirinya, karena itulah yang paling penting.

2. Tidak menghargai privasi anak

2. Tidak menghargai privasi anak
Freepik/PeopleCreations

Wajar jika orang tua selalu ingin tahu tentang kehidupan anak-anaknya, namun pahamilah bahwa anak juga punya privasi alias kehidupan pribadi.

Pada orang tua berpola toxic parents, seringkali batasan privasi anak akan dihilangkan dan anak selalu dianggap belum mampu memiliki kehidupan sendiri. Ini karena orang tua percaya apapun tentang kehidupan anak adalah haknya, sehingga tidak ada yang perlu dibatasi.

Contoh sederhananya adalah dengan membuka pintu kamar anak tanpa mengetuk terlebih dahulu, membuka-buka ponsel anak dan membaca pesan pribadinya, serta sering mencuri dengar percakapan anak dengan teman-temannya.

Kondisi seperti ini bisa membuat anak merasa tidak nyaman dan tidak percaya diri karena dianggap tidak dipercaya oleh orangtuanya sendiri. Anak bisa tumbuh menjadi sosok yang tertutup dan tidak percaya diri.

Editors' Picks

3. Mengungkit setiap pemberian untuk anak

3. Mengungkit setiap pemberian anak
Freepik

Salah satu tugas orang tua adalah memenuhi setiap kebutuhan anak-anaknya, mulai dari kebutuhan pakaian, pendidikan hingga makan. Oleh sebab itu, tidak wajar jika hal-hal seperti ini diungkit-ungkit untuk membuat anak merasa bersalah.

Orang tua dengan pola asuh toxic parents tanpa disadari sering membuat anak takut dan menurut dengan mengungkit semua yang sudah diberikan. Misalnya dengan kalimat seperti: “Saya sudah mengeluarkan banyak uang untuk kamu makan dan sekolah, jadi kamu harus menuruti semua perintah saya!”

Kalimat-kalimat sejenis ini biasanya digunakan orang tua untuk mempertahankan dominasi atas anak-anak. Mereka ingin mengendalikan aktivitas anak dengan menggunakan cara apa, termasuk menggunakan rasa bersalah atau membuat anak merasa berutang budi pada orang tua.

4. Terlalu kritis pada semua hal

4. Terlalu kritis semua hal
Freepik/Bearfotos

Orang tua pasti menginginkan semua yang terbaik untuk anak dan akan membantu membimbingnya. Namun kadang-kadang orang tua tidak ingin anaknya mengalami penurunan prestasi atau kesalahan, sehingga kritis pada semua hal yang dilalui anak tanpa menghargai usahanya.

Terus-menerus dikritisi dan disalahkan tanpa dihargai setiap jerih payahnya akan membuat anak enggan berusaha. Mereka tumbuh dengan rasa takut pada orang tuanya sendiri.

Bahkan bukan tidak mungkin kelak anak menjadi pribadi yang tertutup dan memberontak suatu saat nanti. Tentu Mama tidak ingin hal-hal seperti ini terjadi, bukan?

5. Tak mau kalah saing dengan anak

5. Tak mau kalah saing anak
Freepik/Yanalya

Orang tua dengan pola asuh toxic parents seringkali tanpa disadari membuat kompetisi tidak sehat. Misalnya orang tua melihat prestasi anak justru sebagai ancaman terhadap harga diri mereka sendiri, alias menjadi iri.

Orang tua seakan tidak rela jika anak tumbuh dengan prestasi dan penampilan yang lebih baik dari mereka. Alih-alih memuji usaha dan prestasi anak, orang tua justru menyebutkan bahwa masa kecil mereka jauh lebih berprestasi dan mengatakan bahwa anak tidak akan pernah bisa melebihi kemampuan orang tua.

Sejatinya orang tua justru akan bangga jika anak-anaknya tumbuh berprestasi dan memiliki penampilan serta pribadi yang baik. Demikian dilansir Healthy Way.

6. Menggunakan kata kasar dan menyakiti hati anak

6. Menggunakan kata kasar menyakiti hati anak
Freepik/PeopleCreations

Saat anak melakukan kesalahan, tugas orang tua adalah mendengarkan keluh kesahnya dan meningkatkan kembali rasa percaya dirinya. Jika bisa, ajarkan anak supaya tidak mengulangi kesalahannya.

Toxic parents biasanya justru tidak akan menerima kesalahan anak. Semua berujung dengan ucapan-ucapan kasar dan tanpa disadari menyakiti hati anak.

Penulis buku The Child Care Professional, Karen Stephens, mengatakan bahwa anak-anak sangat mudah mengingat kata, terutama yang dilontarkan oleh orang tua.

Oleh sebab itu, berkata kasar dan memarahi anak justru akan menimbulkan luka dan trauma pada perasaannya. Berhentilah sejenak saat emosi dan pikirkan kembali tentang kalimat yang hendak diucapkan pada anak dengan hati-hati ya, Ma.

7. Tidak mau mendengarkan ucapan anak

7. Tidak mau mendengarkan ucapan anak
Freepik

Dilansir Smart Parenting, jika anak mengatakan bahwa Mama tidak pernah mendengarkan, itu bisa berarti Mama mendengar kata-kata anak tetapi gagal memahami apa yang anak coba komunikasikan kepada Mama. Hal tersebut disampaikan oleh pendiri Impact ADHD, Elaine Taylor-Klaus.

Nah, apabila anak mengeluhkan masalah ini berulang kali, itu bisa berarti Mama gagal memberikan solusi untuk menghilangkan akar masalah. Ini mungkin berasal dari pola pikir pengasuhan yang sering terjadi: "Saya orang tuanya, jadi saya benar dan kamu salah."

Salah satu trik sederhana untuk menunjukkan bahwa orang tua mendengarkan adalah berlutut atau jongkok setinggi mata anak saat berbicara. Tunjukkan bahwa Mama memberinya perhatian penuh.

Sikap demikian juga menandakan bahwa Mama sebagai orang tua bersedia dan siap untuk terlibat dengannya. Anak akan merasa lebih aman dan dihargai.

Cinta dari orang tua kepada anak dapat diungkapkan dengan banyak cara. Salah satunya dengan mengakui dan meminta maaf saat melakukan kesalahan. Jika ada salah satu ciri toxic parents ini yang Mama atau Papa lakukan, yuk segera meminta maaf dan mengubah sikap tersebut.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.